Skip to content

GIR, RA MINGGIR TABRAK..!!

July 15, 2016

 

Dalam sebuah pertemuan sederhana di kantor, seorang GM sebuah perusahaan dengan tegas berkata, “gir ra minggir tabrak..!“. Sebuah pernyataan yang mengutip penggalan lagu dari seorang rapper asal Klaten “Kill The DJ”. Ungkapan ini menurut saya menunjukkan sebuah sikap yang penuh adrenalin, berapi-api, dan menjadi respon atas keterdesakan untuk menantang arus orang-orang yang statis, lambat, dan anti perubahan.

 

“Perubahan”, hal ini yang menjadi momok banyak orang saat ini. Pada dasarnya banyak individu yang sebenarnya senang dengan yang namanya pekerjaan “statis”. Beberapa pendapat yang sering mengemuka, “ Ya, dengan gelar S1 dan posisi nyaman, ngapain sih harus cape cape dengan upgrade pengetahuan lebih, ngabisin waktu saja..!”,  “Saya sudah jadi pegawai, sudah nyaman, ngapain sih bersusah-susah punya usaha, wong saat ini sudah nyaman..!! Nyaman, nyaman, dan nyaman, hal inilah yang menjadi alasan utama kenapa orang tidak mau berubah ataupun minimal mengikuti arus perubahan.

 

Salah satu perubahan yang ingin saya bahas dan mungkin akan terjadi dalam waktu dekat adalah paradigma sumber energi. Saat ini mayoritas sumber energi masih mengandalkan minyak, gas dan batubara. Salah seorang pengusaha besar Indonesia pernah berujar, “kita harus tetap fokus pada lini bisnis batubara, karena mau harganya naik ataupun turun, namanya energi tetap dibutuhkan…! Percayakah anda bila saya mencoba berpikir sebaliknya dengan mengambil paradigma perubahan, yakni tidak lebih 20 tahun dari sekarang, permintaan batubara, minyak, dan gas dunia akan turun sangat jauh bahkan mungkin hanya tersisa 20 % dari kapasitas saat ini. Untuk skala nasional, kemungkinan besar perusahaan-perusahaan batubara yang akan bertahan adalah mereka yang telah memiliki kontrak supply batubara jangka panjang dengan PLN sebagai representative pemerintah untuk menjalankan PLTU yang sedang dibangun saat ini.

 

Darimana sumber energi utama pengganti sumber energi saat ini? Matahari..! Apa, matahari???? Yupp, tidak pernah terbayang matahari yang nongol setiap hari menyimpan sebuah potensi energi yang unlimited. Dia tidak akan pernah habis hanya karena energinya diserap oleh manusia.

 

Perkembangan signifikan sedang terjadi pada teknologi listrik tenaga surya. Pada saat Jepang mulai mengembangkan potensi energy ini pada tahun 1974, harganya berkisar 20.000 yen per watt peak (Wp). Tahun 1985, harga turun menjadi 1.000 yen per Wp, dan dengan kemajuan pesat dalam riset dan pengembangan teknologi, harga per Wp turun lagi saat ini mencapai 140 yen. Harga ini masih lebih mahal dari harga listrik konvensional sebesar 100 yen per Wp, tetapi mulai tahun 2020 harga pembangkitan listrik sel surya ini sudah bisa lebih murah 50 persen dari listrik konvensional. (sumber : http://www.alpensteel.com/article/115-102-energi-matahari–surya–solar/2119–masa-depan-listrik-tenaga-surya-di-indonesia).

 

Hal ini semakin dibuktikan dalam proses lelang dimana produsen tenaga surya berani untuk melakukan bidding harga listrik di bawah produsen listrik bersumber batubara. Sebuah pengembang di Arab Saudi melakukan bidding untuk tender pembangunan 800 MW proyek PLTS untuk The Dubai Electricity & Water Authority, dengan harga jual 2,99 cent per kWh atau setara Rp. 397,77.

Harga jual ini lebih rendah dari fasilitas pembangkit batubara yang akan dikomisioning di Dubai pada bulan Oktober ini. Fasilitas pembangkit batubara ini akan mulai beroperasi pada 2020, dan diharapkan dapat memproduksi daya dengan dengan harga jual 4,05 cents per kWh atau setara Rp. 539.06 selama 25 tahun (sumber : https://janaloka.com/sekarang-harga-listrik-tenaga-surya-lebih-rendah-dari-listrik-batubara/). Bandingkan dengan Indonesia sendiri dimana pengenaan tarif listrik masih cukup tinggi dimana harga periode Juli 2016 sebesar Rp. 1.412/Kwh (sumber : http://www.pln.co.id/wp-content/uploads/2016/07/07_TA.png).

 

Perubahan ini tentu saja akan memukul industri energi yang bersumber dari batubara, listrik, ataupun gas. Kecuali produsen energi ini dapat menekan operating cost seminimal mungkin hingga secara komersial harganya bisa kompetitif.

Sebagai contoh lain, dalam beberapa tahun ke depan, mobil listrik akan menjadi primadona menggantikan mobil konvensional saat ini. Darimana sumber energinya? Tentu saja yang termurah, dan pastinya bukan lagi bensin/solar.

 

Apa dampak multiply effectnya? Industri-industri support seperti penyedia alat berat, spare part, rental, bahkan industry “karaoke” sekalipun di dekat lokasi tambang akan mati suri. Kota-kota yang dibangun dengan hanya mengandalkan APBD dari sumber daya alam lambat laun akan ditinggalkan oleh penduduknya.

 

Apa solusinya? Transformasi..!

Segera melakukan transformasi perubahan mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Perubahan ini dapat dilakukan oleh individu, korporasi, atau bahkan pemerintah itu sendiri. Individu yang bekerja di bidang-bidang yang akan bersinggungan dengan teknologi, harus segera memikirikan way out untuk masa depannya. Korporasi harus melakukan inovasi jika tidak mau tergilas oleh korporasi lain. Pemerintah harus memberikan insentif dan terobosan dalam regulasi.

 

Ya, semua stakeholders harus segera melakukan inovasi, inovasi, dan inovasi. Jika tetap berada pada zona nyamannya saat ini, tetap berdiri di tengah jalan tol dimana kecepatan kendaraan sulit direm, tetap menjadi statis dan tidak mau berubah, maka sepertinya angin perubahan itu akan datang dan berkata, “GIR RA MINGGIR TABRAK..!!”

 

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: