Skip to content

Hal Tersulit – The art of communication

February 20, 2013

Seorang rekan wanita mengeluhkan sikap suaminya yang mengolok-olok dirinya terlihat gemuk saat ini. “Memang saya gemuk saat ini, kenapa memangnya?” sebuah statement yang muncul dari dalam dirinya, wujud protes atas sikap olokan sang suami. Mmmhhhh, saya hanya tersenyum dan tertawa dalam hati melihat tingkah laku pasangan muda ini.

To be honest, dalam hidup ini ada 2 hal yang sejujurnya paling sulit saya lakukan.

Pertama adalah ketika saya harus mengumumkan proyek harus ditutup karena banyaknya faktor eksternal. Sungguh, tidak semudah mengatakan project is done, bla bla bla, tapi yang terlebih penting adalah nasib orang yang menggantungkan monthly income nya kepada perusahaan. Katakan dalam satu project, total karyawan sekitar 80 orang, artinya bila masing-masing ditambahkan istri maka jumlahnya akan berlipat menjadi minimal 160 orang. Bila masing-masing orang memiliki 2 anak, maka akan terdapat sekitar 320 orang yang menggantungkan nasibnya kepada perusahaan, belum termasuk perangkat desa, rekanan kerja/vendor, dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam proses pekerjaan yang terkena dampak dari berhentinya sebuah proyek. Sungguh, jika anda sebagai sosok yang “paling bertanggung jawab” dalam pengambilan keputusan ini, IT’S NOT EASY…!!

Hal kedua berkaitan dengan tulisan di awal, mengatakan kepada sosok wanita bahwa dia akan terlihat jauh lebih enchanting dan gorgeous bila “sedikit” pay attention terhadap dirinya, terutama bila ingin mengatakan, “sepertinya kamu kelihatan lebih gemuk”.

Jiahhhhh, tidak semudah ngomongnya. Respons yang muncul kemudian biasanya adalah “tersinggung dan cemberut kalau tidak ingin mengatakan marah”. Lha, wong lagi baik-baik saja biasanya sang wanita akan bertanya, “saya tambah gemuk ya??”, sebuah pertanyaan yang sungguh adalah sebuah jebakan. Jika anda berkata “tidak”, maka dia akan terus bertanya dan terus bertanya. Sebaliknya jika anda berkata iya, maka siap-siaplah dengan mental untuk menghadapi hari penuh cemberut, dan sakit hati.

Tapi apapun itu, saya selalu menganggap itulah bagian dari “the art of communication”. Dan mungkin seni komunikasi itu dianggap berhasil bila ujung-ujungnya win win solution dihasilkan.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: