Skip to content

Thailand-Malaysia-Singapore – Hari ke-2 (Lanjutan)

June 30, 2011

Tuk tuk pun melaju kencang membelah jalanan Bangkok menuju Wat Traimit (Temple of the Golden Budha). Dalam perjalanan saya hanya berpikir, apa mungkin untuk kali ini tertipu oleh polisi ya ?? Rasa-rasanya kok ga mungkin, wong jelas-jelas dia pake name tag tourism police dan didampingi oleh 2 tentara berpakaian lengkap. Ah, sudahlah nikmati saja perjalanan ke tempat-tempat wisata itu.

Tiba di Wat Traimit dan berfoto sejenak, kelakuan si sopir tuk-tuk mulai tampak aslinya. Dia meminta kami untuk segera naik kembali ke tuk-tuk dan dibawa menuju tempat suvenir. Kami menjadi semakin curiga, polisi dan si sopir tuk tuk adalah bagian dari kelompok mafia terstruktur dan masif di Bangkok (terlalu berlebih-lebihan, hehe).

Si sopir dengan ungkapan minta tolong dan menceritakan duduk perkaranya bahwa dia mengharapkan bonus voucher bahan bakar sebesar 200 Baht, maka kami diharapkan untuk membantunya.
Please, just five minutes, looking looking only’, dengan gaya seperti menggunakan teropong atau keker dalam bahasa papua.

Fiuhhhh, sebenarnya hal ini sudah kami hindari sejak awal karena waktu kami sangat terbatas, namun akhirnya ketipu juga. Dengan rasa kesal sekaligus kasihan, kami akhirnya memutuskan untuk membantu si sopir ini. Toh, anggap saja wisata keliling Bangkok, melihat sejenak jalan-jalan kecil maupun besar di kota itu dengan hanya membayar 40 Baht = Rp. 12.000,-.
Perjanjiannya adalah kita harus berada minimal 5 menit di 4 obyek lokasi perbelanjaan, di antaranya adalah tempat perbelanjaan barang-barang mewah seperti diamond, ruby, pusat pembuatan kain celana khas Italy, kain jas, dan juga suvenir barang-barang kerajinan tangan.

Standing Buddha

Setelah ‘tugas mendadak’ untuk membantu si sopir sudah kami lakukan, si sopir dengan wajah sumringah mengantar kami ke Wat Intharawihan (Standing Budha)…. Berfoto sejenak, kami langsung diantar menuju Grand Palace. Dari 4 lokasi wisata yang dijanjikan si sopir tuk-tuk, hanya 2 yang dipenuhi + bonus ke 4 tempat suvenir yang sama sekali tidak kami butuhkan.

Tepat pkl. 13.00, dan kami langsung diantar menuju gerbang utama Grand Palace (Dari banyak pintu masuk, hanya ada satu gerbang utama untuk pengunjung). Si Polisi Wisata sebelumnya mengutarakan bahwa Grand Palace baru akan dibuka pkl.13.00 karena biksu sedang berdoa, namun yang terjadi adalah rombongan wisata di tepat jam 1 siang ketika kami tiba, berduyun-duyun meninggalkan lokasi wisata itu. Artinya Grand Palace sudah dibuka sejak pagi hari. Ah, ketipu sama polisi Thailand. Jika dia hanya polisi gadungan, kok rasanya ga mungkin, toh dia diapit 2 orang berpakaian tentara lengkap dengan senjata.

Fiuhhhh…, dengan rasa kesal terutama kepada segenap aparat pemerintah dan manajemen wisata Thailand yang membiarkan hal ini kerap terjadi pada wisatawan, kami pun masuk menuju Grand Palace. Pada loket karcis tertera, free for Thai, dan 350 Baht untuk non Thai. Bagi pengunjung non Thai berada di lajur kanan, dan untuk warga asli Thailand di sebelah kiri.
Saya dan rekan dengan rasa kesal kepada segenap aparat pemerintah mencoba membalasnya dengan masuk pada lajur kiri, free for Thai.
Ketika rombongan besar warga Thailand masuk, saya dan rekan dengan sedikit gugup langsung menyelinap, santai tapi agak takut juga. Beberapa penjaga melihat kami tanpa ada rasa curiga. Upsss, berhasil juga, tau- tau kami berdua sudah berada di dalam Istana Raja. Hehe…, wong diomongin bolak-balik sama warga Thai, ‘you look like Thai’, yah pede saja masuk.

Salah satu sudut bangunan di Grand Palace

Setelah dendam sedikit terbalaskan dengan masuk gratis, tidak perlu membayar retribusi kepada pemerintah Thailand, kami pun masuk menikmati suasana Grand Palace. Seperti Kraton Jogja, pemikiranku pertama kali.
Dikarenakan keterbatasan waktu, kami pun segera keluar dari Grand Palace menuju dermaga pelabuhan. Dengan berjalan kaki, sampai juga di dermaga Tha Thien Pier No.8 kemudian naik perahu dan turun di central pier.

BTS Skytrain

Tiba di Central Pier, kami langsung menuju stasiun BTS Skytrain (Bangkok Mass Transit System). Hanya beberapa menit menunggu, BTS tiba dan mengantar kami ke tujuan berikutnya, MBK (Mah Boon Krong) Shopping Centre. Mall ini layaknya Senayan City di Jakarta. Harga yang ditawarkan pun relatif sama dengan di Jakarta, kecuali beberapa produk komestik yang sedikit lebih murah (kata rekan saya) seperti Body shop, dll karena pabriknya memang berada di Thailand.

Dikarenakan keterbatasan waktu mengejar bus menuju Phuket (akibat tertipu si tourism police), rencana untuk menuju Pratunam Market kami batalkan dan dilanjutkan dengan naik taxi menuju Khao San Road (Usahakan yang berlogo taxi meter dan menggunakan argo).

Pkl. 17.40 tiba di Khao San Road. Dikarenakan masih ada waktu 50 menit sebelum jadwal keberangkatan bus, kami memutuskan untuk menikmati pijitan khas Thailand atau yang sering disebut Thai Massage. Waktu yang terbatas membuat kami harus memilih setengah jam dengan harga 100 Baht. Pijit selesai langsung kembali menuju agen tiket tempat penjemputan penumpang yang berada di areal Khao San Road.

Setelah menunggu setengah jam dengan sejumlah penumpang lainnya di agen tiket tempat penjemputan penumpang yang berada seputaran areal Khao San Road, kami mendapatkan kabar yang tidak mengenakkan sekaligus aneh. Bus penumpang yang kami tunggu terhalang oleh rombongan keluarga raja yang sedang menuju Hospital menjenguk Sang Raja Thailand yang sedang sakit saat itu. Jalan diblok selama 2 jam…. !!!! Gila…, hanya untuk kepentingan menjenguk raja, seluruh rakyat harus patuh menunggu blokade jalan dibuka, fiuhhhhh………….

Thai Massage - Joss Gandoss..!!

Dengan rentang waktu yang lama ini, saya meminta rekan saya yang baik hati untuk kembali menemani ke tempat Thai Massage. Kurang puas, tadi hanya setengah jam, hehe. Saya pun meminta untuk dipijit selama 1 jam, entah kenapa kaki dan badan ini terasa sangat sakit padahal baru berjalan 2 hari. Ah.., dasar kelakuan…, jarang olahraga mengakibatkan otot menjadi kaget karena kaki terus dipaksa berjalan (mencari alasan…..).
Uhhhhh…, sangat recommended… !! Pegal di badan benar-benar berkurang…. !! Sungguh, worth it bagi para traveller yang ingin mencoba Thai Massage.

Bus yang ditunggu akhirnya datang juga. Dari rencana pkl.18.30 molor menjadi pkl.20.30. Perjalanan ke Phuket akhirnya dimulai, dan baru setengah jam perjalanan, bus yang kami tumpangi mogok (Lha, cobaan apa lagi nih). Dikarenakan bus tidak menunjukkan tanda-tanda membaik, kami pun diminta menunggu bus pengganti didatangkan. Akhirnya secara resmi berangkat dari Bangkok pkl. 22.00, telat 3 jam… !!

Daripada menggerutu dan kantuk pun belum menghampiri, selama perjalanan saya pun ngobrol dengan seorang rekan backpacker yang baru dikenal.
I’m from Germany’, timpal si bule dengan perawakan tinggi dan botak.
Setelah berbincang panjang lebar mulai dari sepakbola, tujuan ke Thailand, dan lain-lain, satu hal yang cukup saya salut adalah profesinya yang sebenarnya jarang saya dengar. ‘Lighting Engineer’ demikian nama pekerjaan itu, mengurusi segala sesuatu yang berkaitan dengan pencahayaan konser musik, opera, dll.
Mmmmhhhh, ternyata begitu banyak profesi yang kalau di indonesia, jika ditanyakan pasti jawabannya akan sangat monoton, Tentara, PNS, Dokter, dll.

Akhirnya kantuk pun menyerang, perbincangan di bis diakhiri dengan berharap bangun sudah berada di Phuket…..

Night Bangkok……….

Rincian biaya hari ke-2 (Hitungan Perseorangan)
– Sarapan 7-11 : THB 71
– Tiket Masuk Wat Po : THB 50
– Tuk tuk : THB 40
– Perahu Ke Central Pier : THB 14
– Makan Sore : THB 72
– Snack dan Air Mineral : THB 52
– Tiket bus Khao San – Phuket : THB 700
– Thai Massage : THB 250
Total Biaya hari ke – 2 = THB 1.249 = Rp. 374.700,-

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: