Skip to content

Thailand-Malaysia-Singapore – Hari ke-2

June 22, 2011

Bangun pagi dengan posisi terbaring menggigil.
Fiuhhhhh…., suhu dingin di bawah 19 derajat di pagi hari membuatku terbangun, dan syukurnya masih punya energi untuk mandi……
Mandi air dingin memang ada positifnya juga, membuat kita tidak berlama-lama di kamar mandi, toh itu kamar mandi bersama untuk beberapa kamar, jadi pasti akan ada yang menunggu antrian.
Kok ga pakai air panas ??? (hot water ?? With room rate of THB 250 = Rp. 75.000,-, what do u expect ??, hehe..,).

Berangkat dari hostel, langsung menuju rencana destinasi awal, Grand Palace.
Sebelum tiba di lokasi, seorang pria perawakan sekitar 20 an tahun yang sedang duduk di atas Tuk tuk (Sebuah kendaraan bermotor khas Thailand) datang mendekat dan dengan tersenyum menyapa,
(A) Sang pria Thai
(B) Saya dan rekan

(A) : Halo…., where do u come from?
(B) : We’re from Indonesia…..
(A) :(sambil menunjuk saya) You look like Thai. Welcome to Thailand.., where r u going ??? (dengan senyum yang sangat mencurigakan)
(B) : Oh…, we’re planning to go to Grand Palace
(A) : mmmmhhhh…. Wait… wait….., please come here…(sambil mendekati sebuah peta yang berada di persimpangan jalan).. We’re here……(menunjuk sebuah titik lokasi di peta). U can’t go to Grand Palace right now. It’s praying time. It’s opened at 13.00. But why don’t u take tuk tuk. You can go to Standing Buddha, bla bla bla (sambil menunjuk 4 lokasi wisata di peta) with only 30 Baht.
(B) : (Kami langsung menjawab) Oh.., thanks.. We will be here for a month. So, probably next time we’ll see u.

Dengan langkah 45 walaupun harus sedikit menipu dengan mengatakan akan berada sebulan di Thailand, kami pun meninggalkan sang pemuda Thai dengan senyum kecutnya.

Mmmmmhhh…, sedikit review terhadap perbincangan tadi.
Oke.., jalan-jalan muterin lokasi wisata hanya dengan 30 Baht = Rp. 9.000, untuk jangka waktu 3-4 jam perjalanan ??? Harga bensin berapa ?? Masa sih hanya dibayar segitu ??
Ah, sayang sekali mas…, saya sudah baca di buku panduan profil tentang anda dan rekan-rekan sopir tuk tuk.

Pada intinya, jika jadi deal, sopir tuk tuk akan mengantar penumpang yang ‘terjebak’ ke lokasi wisata seperti Wat Traimit (Temple of the Golden Budha), Wat Benchamabophit, Wat Intharawihan (Standing Budha), dll. Namun biasanya yang terjadi hanya akan diantar ke satu lokasi, selanjutnya akan diantar menuju toko perhiasan, kain ataupun suvenir yang sama sekali tidak ada dalam schedule anda. Dan sebagai bonus, sang sopir tuk tuk akan mendapatkan bonus voucher bahan bakar sebesar 200 Baht.

Sarapan 7-11 menjadi pilihan ‘wajib’ dikarenakan faktor harga dan kepraktisannya. Tinggal mencari makanan di freezer, dipanaskan dalam microwave. Minuman hangat pun tersedia beragam, baik teh, susu, kopi, dll. Sangat recommended bagi para travellers. (Mudah-mudahan pihak 7-11 ada yang baca jadi bisa dapat fee karena sudah bantu promosi, hehe).

Sarapan khas 7-11

Setelah sarapan di 7-11 Khaosan Road, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ±1 km, dan sambil melihat peta akhirnya menemukan lokasi Grand Palace.
Sebelum melangkah lebih jauh, tiba-tiba datang seorang pria pejalan kaki yang datang menghampiri kami sambil memulai diskusi. Perbincangan ‘wajib’ tentang asal muasal, berapa lama di Thailand, dll menjadi menu perbincangan plus tidak lupa sambil berkata kepada saya, ‘You look like Thai’.

Setelah meminta peta yang kami pegang, sang pria Thai tersebut berkata bahwa Grand Palace baru akan buka pkl. 13.00, dan menyarankan untuk berkeliling menggunakan tuk tuk dengan hanya 40 Baht, sama persis rutenya seperti yang diutarakan oleh pria Thai sebelumnya. Namun bedanya, sang pria bukanlah sopir tuk tuk, dan hanya menunjukkan lokasi tuk tuk yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi kami saat ini.

‘Aha…..’, saya sangat yakin ini adalah kerjasama tingkat tinggi (KTT) antara sang pria pejalan kaki dengan sopir tuk tuk. Sang pria sebagai sebagai pemberi dan pengantar umpan, sopir tuk tuk akan segera menangkap umpannya.
Benar saja…., tidak berapa lama kemudian ketika berpapasan dengan sekelompok sopir tuk tuk yang direkomendasikan oleh sang pria Thai tadi, mereka kemudian menawarkan tumpangan untuk berkeliling kota Bangkok dengan hanya ’40 Baht’.
Sekali lagi maaf seribu maaf, kami sudah mengetahui strategi ini sebelumnya.
No, thanks’, sambil meninggalkan sopir tuk tuk yang hanya terbengong karena sebelumnya merasa yakin akan tingkat keakuratan keberhasilan penggunaan taktik ini.


*sedikit tips, sebaiknya jangan terlalu mencolok membawa peta karena pasti akan dianggap sebagai tourist, niscaya akan banyak ‘cobaan’ yang datang menghampiri.

Fiuhhhhhh……., hampir mendekati lokasi Grand Palace, ternyata tantangan dan cobaan tidak berhenti sampai di sini. Di hadapan kami terlihat jelas sekelompok ibu-ibu yang sedang memberi makan burung dengan jagung. Mereka dengan gerakan sangat memaksa, meminta seorang tourist untuk memberi makan burung-burung tersebut. Sambil melangkah, sang tourist pun tak kuasa untuk menerima ajakan sang ibu ketika satu bungkus plastik jagung diletakkan di genggaman. Ketika jagung sudah ditabur, sang tourist pun berkata, ‘oke ?? it’s done ??, sambil melangkah pergi. Si ibu pun dengan sekelebat tangan langsung meminta bayaran karena jagungnya sudah ditabur.
Lha, kok malah maksa bayar?? Wong si bule ga mau, namun ‘dipaksa’ untuk nabur tuh jagung. Dengan diiringi teriakan dan makian dari si ibu, sang tourist pun melangkah pergi tak peduli.

Salah satu tantangan menuju Grand Palace, melewati ibu-ibu pemberi makan burung


Melihat hal di atas, saya pun dengan santainya melangkah melewati kerumunan burung dan ibu-ibu tadi. Dalam hati saya, ‘‘wong mereka ngomong katanya saya look like Thai, santai saja’’. Saya pun tak mengalami gangguan sama sekali.

@ Wat Pho

Tiba di kawasan Grand Palace, kami pun secara tidak sengaja masuk ke dalam Wat Pho (Budha tidur) yang berada bersebelahan dengan Grand Palace. Setelah membayar tiket masuk 50 Baht, menikmati suasana di dalam kawasan Wat Pho, kami pun segera keluar untuk ke lokasi yang kata para travellers belum sah bila ke Bangkok tanpa singgah di Grand Palace.

In front of Grand Palace

Grand Palace sendiri memiliki banyak pintu, agak membingungkan memang. Setelah berjalan memutar, kami menemukan petugas/polisi di depan salah pintu gerbang yang diapit oleh 2 tentara.
(A) : Saya dan rekan
(B) : Petugas/polisi

(A) : Excuse me, do u know the entrance gate of Grand Palace ?? We’ve travelled around to find it.
(B) : Oh…, where do u come from ????
(A) : We’re from Indonesia
(B) : Oh…, i thought u’re Thai
(Sambil tersenyum dan memperkenalkan diri) I’m a tourism police. This is my name tag.
Singkat cerita beliau berkata bahwa Grand Palace baru akan dibuka pkl. 13.00. Dia menyarankan untuk naik tuk tuk mengelilingi 4 lokasi wisata dengan hanya membayar 40 Baht. Tanpa diminta ataupun diiyakan, sopir tuk tuk yang entah datang dari mana tiba-tiba diteriakin oleh sang petugas untuk berhenti. Sambil menjelaskan kepada sang sopir untuk mengantar kami ke 4 titik lokasi wisata dan balik kembali ke Grand Palace pkl.13.00. Sambil berkata terima kasih kami pun duduk di tuk tuk, tak lupa sang petugas “tourism police” ini melambaikan tangan (sungguh ramah polisi di sini dalam pikiranku).

To be continued….

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: