Skip to content

Thailand-Malaysia-Singapore – Hari ke -1

June 16, 2011

Akhirnya cuti yang telah dinanti datang juga. Packing pakaian, dan keperluan lainnya telah selesai, saya dan rekan pun langsung cabut meluncur ke jalanan ibu kota menuju Bandara Sokarno Hatta.
Backpacking telah dimulai, artinya seluruh biaya sejak awal sudah harus ditekan.
“Ingat, ini bukan business trip…!!!”, gumamku setiap kali ingin merasakan sedikit “kemewahan/kenyamanan lebih”.

Perjalanan dimulai dengan menggunakan bis umum untuk selanjutnya menggunakan Damri menuju Bandara Soeta. Tiba di terminal 2D (Terminal Penerbangan Internasional), check in, mengurus imigrasi, boarding, dan akhirnya berangkat juga si burung besi AA menuju Bangkok dengan estimasi waktu perjalanan selama 3 jam.

Pesawat AA cukup nyaman meskipun pada dasarnya merupakan operator penerbangan LCC (Low Cost Carrier). Dibandingkan kompetitor yang merupakan armada “premium” dengan perbandingan harga yang cukup jauh, saya sangat merekomendasikan penerbangan ini walaupun merupakan kepunyaan negara tetangga (mencoba memberikan opini yang fair). Armada yang baru, kualitas pelayanan, maupun ketepatan waktu harusnya dapat ditiru oleh operator lokal. Sebenarnya pesawat Mandala cukup mumpuni untuk menyaingi si AA, sayangnya misleading dalam management membuat armada ini harus mundur sementara waktu.

Lamanya waktu penerbangan tidak membuat saya menjadi bosan atau kelelahan, toh saya pernah beberapa kali melakukan penerbangan Jakarta – Merauke selama hampir 10 jam..!!! Sambil membaca buku, saya sempat ngobrol dengan seorang rekan yang baru kenal di pesawat, seorang asisten produser beberapa program acara di sebuah tv swasta. Satu info yang saya dapat, saat ini Bangkok sedang berada suhu 19 derajat, uh Perfecto..!! Suhu yang sangat pas dalam hatiku. Tidak panas, namun juga tidak terlalu dingin. Sedikit bertanya-tanya, sebagai sesama negara tropis, Indonesia rasa-rasanya tidak pernah mengalami suhu seperti ini, mungkin karena faktor kedekatan dengan garis khatulistiwa, tapi entahlah……

Penerbangan dari Jakarta Pkl. 16.20 akhirnya landing dengan mulus Pkl. 19.45 di Suvarnabhumi Airport – Bangkok. Bandara Suvarnabhumi merupakan bandara internasional Thailand yang cukup megah dibanding bandara Soeta – Jakarta. “Nice looking” adalah kesan pertama saya terhadap bandara yang belum lama dibangun ini. Setelah mengantri di Imigrasi selama hampir setengah jam, kami pun meluncur untuk mencari bis bandara – Airport Express no 2 (layaknya bis Damri di Jakarta) yang menuju Khao San Road.

@Suvarnabhumi - Bangkok - Thailand


Sebenarnya ada beberapa alternatif untuk berangkat dari bandara menuju Khao San Road. Dapat menggunakan bis biasa dengan harga sekitar 50 Baht, Airport Express 150 Baht, ataupun taxi ± 370 Baht. Namun kami memilih Airport Express karena melihat dari segi harga, maupun keamanannya. Bila lebih dari 3 orang sangat disarankan untuk naik taxi. Harga sharing per orang akan lebih murah, dan langsung sampai ke tujuan.
Keluar dari Exit Door bandara, kami langsung merasakan udara dingin Bangkok. Layaknya 2 orang anak kecil yang baru selesai mengerjakan PR, kami berlari-lari kecil kegirangan menuju bis. Ah, entah kenapa, rasanya belum berada di luar negeri jika suhu udara sama dengan di Indonesia. Sehingga seketika saya merasakan suhu dingin menerpa, pikiran saya cuma satu, “Akhirnya ke luar negeri…!!”

Bis melaju kencang di jalanan malam Bangkok. Kami terheran-heran melihat sayur, buah, dan jajajan pasar malam yang ada di beberapa sisi jalan sama persis dengan yang ada di Indonesia (saya lupa bahwa banyak produk pertanian saat ini diimpor dari Thailand, sedikit bertanya-tanya tentang arti negara agraris yang dulu rasanya pernah melekat sebagai julukan bangsa).
Akhirnya tiba di Khao San Road atau dalam bahasa Thailand Thanon Khao San, Thanon = Jalan. Lokasi paling “happening” sebagai surga para backpackers. Khao San Road ini sendiri layaknya jalan Malioboro, memiliki trade mark sebagai pusat jajanan makanan, tempat mangkal café live music, penjual cd illegal, thai massage, dan lain-lain. Lokasinya sangat ramai, dan akan ‘crowded’ sejak sore hingga malam menjelang dini hari.

Dikarenakan suhu dingin, dan ‘sepertinya’ flu hendak menyerang, pilihan akan Tom Yam menjadi tak terbantahkan. Setelah melahap Tom Yam asli Thailand yang menurut saya rasanya cukup lumayan, namun masih kalah cita rasanya dibanding Tom Yam di mall Citos-Jakarta, pencarian lokasi penginapan pun dimulai. Tas backpack yang cukup berat ini harus diletakkan segera agar lega dan nyaman dalam berjalan-jalan menikmati malam di Khao San.

Dinner "Tom Yam Seafood" @Khao San Road


Sebelumnya kami sudah membooking Hostel New Road Guest House Bangkok, dan setelah melihat lokasi detail di peta, dan bertanya-tanya dengan pelayan rumah makan, akhirnya satu kesimpulan didapat.., “Harus cari penginapan lain…!!”. Ternyata jarak hostel yang kami booking cukup jauh, beberapa kilometer dari Khao San Road. Ah, padahal promosi hostel itu mengatakan jaraknya dekat dengan Khao San Road, hilang uang DP yang sudah dibayar via internet, walaupun hanya Rp.9.200,-

Berjalan-jalan dengan peta dan buku panduan memang sangat membantu. Sangat disarankan untuk memiliki peta yang dapat dibeli di indonesia sebelum berangkat, atau mengambilnya di Bandara Bangkok.
Setibanya di Soi Ram Buttri (Soi = gang), tidak jauh dari Khao San Road, kami mencari-cari penginapan yang direkomendasikan oleh Claudia Kaunang yang ditulis dalam buku panduannya. Akhirnya kami memutuskan untuk menginap di Wild Orchid.
Sebelum istirahat, kami sempat jalan-jalan kembali ke Khao San, dan menikmati jajajanan buah maupun makanan ringan. Prinsip “manfaatkan waktu sebaik mungkin, jangan hanya memindahkan tempat tidur saja” benar-benar diterapkan.

Kalajengking, Belalang, ulat, dll @Khao San..., Tertarik....????


Setelah benar-benar puas menikmati dinginnya malam Bangkok, kami kembali ke Wild Orchid. Penginapannya lumayan bersih, dan dengan suhu dingin bangkok, sama sekali tidak diperlukan AC. Sayangnya penginapan ini tidak memberikan selimut, jadi bersiaplah mengenakan jaket, dan celana panjang. Namun, dikarenakan kelelahan, hanya dengan celana pendek dan kaos tipis saya tidur dengan sangat nyenyak, walaupun terbangun dengan posisi menggigil.
To be continued…..

Rincian biaya hari ke-1
– Bis 610 menuju Blok M : Rp. 2.000,-
– Damri Blok M – Bandara : Rp. 20.000,-
– Airport Tax Bandara Soeta : Rp. 150.000,-
– Airport Express Bangkok : THB 150 = Rp. 45.000,-
– Kehilangan Uang DP Hostel : Rp. 9.200,-
– Makan malam : THB 164 = Rp. 49.200,-
– Penginapan : THB 250 = Rp. 75.000,-
– Buah : THB 30 = Rp. 9.000,-
– Air mineral & Roti : THB 42 = Rp. 12.600,-
Total Biaya hari ke – 1 = Rp. 372.000,-

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: