Skip to content

Belajar dari Li Na

January 29, 2011

Sore ini saya baru saja menonton final grand slam Australian Open.
Berhadapan di final, ratu tenis belgia Kim Clistjers dan petenis asal China, Li Na.
Pertandingan ini sendiri dimenangkan oleh Kim dalam 3 Set.

Namun bukanlah jalannya pertandingan yang ingin saya bahas, tapi speech dari Li Na yang menjadi inspirasi tulisan ini.

Entah kenapa saya mengikuti pertandingan ini bahkan hingga speech akhir dari kontestan. Satu hal yang membuat saya tertarik adalah “aura positif” lewat senyuman yang ditunjukkan oleh Li Na dalam kata demi kata saat speech meskipun tidak tampil sebagai pemenang.

Beberapa hal menjadi pelajaran bagi saya saat mendengar speech dari Li Na, antara lain:

– Respect is not a gift, it is earned..!!

Melihat animo serta applaus dari penonton, sungguh she deserves it. Dia tidak mendapat apresiasi dari khalayak ramai dikarenakan jabatan, keturunan, dll, tapi karena dia berusaha untuk mendapatkan penghargaan itu.

– “I don’t regret for this result because I did my my best already”

Salah satu statement yang dia sampaikan ini menjadi sangat penting bagi saya. Banyak sekali saya bertemu dengan orang “yang hanya menyesali keadaan”. They did nothing for their life and only blame the situation, even God.
Setidaknya bagi saya, melakukan yang “terbaik” adalah hal yang utama.
Apapun hasilnya, at least “I do my best already”.

– no matter he is fat, tiny, or even ugly, I will always love you

Ini adalah ungkapan terima kasih Li Na kepada suaminya, yang juga merangkap sebagai pelatihnya. Kenapa statement ini menjadi penting??? Ya jelas, harapannya istri saya kelak juga bisa mengungkapkan hal yang sama, hehe.. That simple.

Tapi apapun itu, big appreciate kepada Li Na, satu-satunya petenis wanita China yang berhasil masuk final Grand Slam.
Two Thumbs Up for the effort…
Salute..!

4 Comments leave one →
  1. January 30, 2011 7:34 am

    saya tidak bisa menonton pertandingan itu karena ga punya TV kabel. Nice lines tough. Iya, semoga tidak hanya istri pak Odus yang bilang spt itu, tapi jga bisa mengatakan hal yang sama mengenai istri Pak Odus. Biasanya bagi laki2, tidak masalah dia botak, gendut, buncit, jelek, dll, tapi haram hukumnya bagi wanita utk jelek, gendut, dan tidak fashionable. Karena itulah yang terjadi di dunia yang nyata ini.

    • February 1, 2011 12:13 pm

      Baik bu evi…. Betul… Segala sesuatu harus bersifat equal.. Jd not only woman, but also man.. Thx sudah mampir..

  2. Sulaiman Yahi permalink
    February 2, 2011 11:21 am

    – Respect is not a gift, it is earned..!!
    sebuah kata yang sangat membangkitkan semangat, namun buat saya ungkapan itu tersimpul makna keinginan menunjukan diri dihadapan orang lain. it’s allright.. dalam dunia olahraga menunjukan kemampuan itu adalah wajar namun jika hal itu kita bawa dalam dimensi kehidupan maka tidak lebih hanyalah mencari “kehormatan”….

    • February 3, 2011 12:40 am

      mmmhh…., memang segala sesuatu tergantung sudut pandang pribadi masing-masing….. Thx kang sulaiman sudah mampir. Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: