Skip to content

Membangun Sebuah Project

October 16, 2010

Mendapatkan amanat untuk menjalankan sebuah proyek baru bukanlah semudah belajar mengendarai mobil, mendapatkan Ijin Berkendara (SIM), setelah itu tinggal menginjak gas, dan jadilah sosok tersebut seorang “driver”.

Hal yang paling sulit adalah membangun sebuah kerangka “Team Building”. Masing-masing individu memiliki tingkat ego yang berbeda, dan pada dasarnya ingin dilayani (sifat dasar manusia). Padahal yang dituntut dalam setiap individu dalam divisinya masing-masing adalah sifat ingin melayani satu dengan yang lain (bukan sebaliknya).
Namun pada akhirnya ketika sebuah pendekatan “kekeluargaan” tidak dapat lagi diterapkan, maka yang akan dilgunakan adalah sebuah sistim. Setiap individu pada intinya harus mematuhi sistim yang ada.

Bila bekerja pada sebuah institusi dengan sistem yang sudah mapan, maka yang ada adalah tiap-tiap individu datang dan langsung mengikuti rule of play yang sudah ada. Kehilangan sosok individu tertentu bukanlah masalah, karena sistem yang bermain.
Lain halnya pada sebuah perusahaan yang belum memiliki sistim yang baku. Kehilangan sosok individu tertentu akan menjadikan perusahaan seperti kehilangan “roh”. Yang menjalankan perusahaan adalah individu, bukan sistim. Sehingga yang sering terjadi adalah kehilangan sosok individu tertentu akan mengakibatkan perusahaan menjadi goyang layaknya diterjang ombak.
Hal-hal inilah yang membuat pembentukan sistem menjadi sangat penting.

Membangun sebuah sistem dari nol membutuhkan effort yang jauh lebih besar dan sifat “lapang dada” untuk menerima “siraman rohani” dari segala sudut, baik dari sumbu vertical (atasan-bawahan), maupun horizontal (client, masyarakat sekitar, aparat, subcontractor, dll).
Banyak keputusan yang bila tidak ada sistem dapat segera dilakukan, karena memang pada dasarnya tidak ada aturan baku yang melarang. Namun hal ini sangat membayakan sebuah institusi karena akan menjadikan setiap individu terutama pimpinan menjadi tidak terkontrol. Dampak paling ekstrim adalah kontrol atas finansial menjadi amburadul, yang ujung-ujungnya perusahaan merugi. Bukankah perusahaan dibuat untuk menciptakan profit bagi shareholder nya..??
Pun sebaliknya, dalam beberapa kasus tertentu, keberadaan sistim yang terlalu prosedural dapat menghambat pengambilan keputusan. Sesuatu yang bersifat emergency/urgent terutama dalam dunia pertambangan haruslah dapat direspon dengan cepat karena akan berhubungan kegiatan operasional ataupun produksi yang ujung-ujungnya berkorelasi kuat dengan profit margin.
Sungguh bukanlah perkara mudah.

Dalam hal ini saya ingin membahas problematika dan fungsi setiap lini departemen dengan segala tantangan dan proses yang menyertai pembentukan sistim itu sendiri.

Just enjoy the process, and see the result later………
To be continued…………………………………

2 Comments leave one →
  1. October 18, 2010 4:33 pm

    Bersemangatlah Pak Odus. Perusahaan besar dengan sistem yang sudah establish itu, pada mulanya juga diciptakan dan dibangun dari nol. Beruntunglah menjadi orang yang memulainya dari nol ya. Walaupun, mungkin kalau sudah settle sistemya, dan dipakai oleh perusahaan dan orang2 lain, kita tidak akan mendapat kredit apapun, tetapi bisa menjadi pelajaran untuk membangun usaha sendiri.

    • October 19, 2010 12:23 am

      Terima kasih bu evi atas supportnya. Memang betul, membangun sebuah sistem tidak hanya berorientasi pada sukses tidaknya usaha yg diberikan kepada perusahaan, namun terlebih membantu pembentukan karakter diri sendiri untuk menjadi “lebih baik” selama proses pembentukan itu. Thx sudah mampir bu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: