Skip to content

EGALITER

July 17, 2010

Saya merupakan seorang penganut prinsip egaliter, sebuah prinsip yang memandang kedudukan pria dan wanita equal, tidak ada sebuah privilege khusus, kecuali sesuatu yang bersifat kodrati.
Sesuatu yang bersifat kodrati dalam hal ini layaknya seorang pria tidak akan merasakan yang namanya hamil dan melahirkan karena merupakan sesuatu yang bersifat kodrat dari Sang Pencipta.

Hidup dalam sebuah keluarga yang sangat egaliter membuat saya memiliki opini seperti ini. Tidak ada perbedaan sama sekali untuk pria ataupun wanita. Peran Bapak digantikan oleh Ibu dalam hal mencari nafkah ketika Bapak saya harus beristirahat dan berhenti dari pekerjaannya dikarenakan sakit hipertensi yang diderita. Hal ini tidak membuat pride yang dimiliki oleh sosok ayah menjadi berkurang di hadapan anak-anaknya, karena toh kami saudara bersaudara menganggap bahwa rejeki itu datang dari mana saja, bisa Ibu atapun Bapak.

Entah kenapa saat ini saya melihat prinsip egaliter mulai bergeser ke arah selfishness. Seorang wanita akan berkata bahwa dia berhak untuk menduduki sebuah jabatan karena pemangku jabatan bukan dilihat dari gender melainkan kapabilitasnya. Sungguh sebuah sikap yang sangat saya setuju 100%… Akan tetapi jika pertanggungjawaban itu dimintakan pada hal-hal tertentu maka hal ini akan dengan mudah dijawab sebagai urusan “laki-laki”.

Sebagai contoh kecil, ketika hendak memperbaiki sebuah keran air yang bocor, sang suami harus yang memperbaikinya karena ”dianggap” bukan pekerjaan wanita. Contoh lain dalam hal adanya stigma yang melekat bahwa seorang laki-laki harus menjemput sang wanita. Bila terjadi sebaliknya di mana sang wanita diminta untuk menjemput sang pria, maka pria itu dianggap sebagai ’wanita’.
W : What??? Saya yang jemput???? Emangnya kamu wanita??????
P : Lho, bukannya tidak ada perbedaan antara wanita dan pria??? (Sambil bingung2 sendiri….).

Oh sebuah prinsip egaliter ataukah selfishness yang muncul??
Sebuah opini selalu terngiang-ngiang dalam kepala saya, mengapa ketika seorang wanita menuntut adanya persamaan, dia sendiri yang akan merusaknya. Kenapa sang wanita yang sudah dianggap sederajat, melemahkan dirinya sendiri, sehingga orang dengan mudah mengenakan sebuah cap bahwa dia ”lemah”.

Sebuah pertanyaan pernah ditujukan kepada saya. Jjikalau menggunakan prinsip egaliter, bila mana dalam sebuah rumah tangga dibutuhkan sebuah keputusan sedangkan sang suami dan istri saling tolak-menolak idenya, bagaimana solusinya?
Saya bukanlah seorang pengamat rumah tangga, dan sama sekali belum ada pengalaman tentang hal ini, tetapi bila dibutuhkan opini maka saya akan menjawab sang suami lah yang akan memegang peranan.

Lho bukannya berarti si pria egois??
Bukan seperti itu. Saya tetap beropini bahwa seorang suami dan istri memiliki posisi yang setara, namun bila dibutuhkan sebuah keputusan maka seorang kapten harus mengemban tugas itu.
Dalam sebuah kapal pada saat badai, seluruh awak kapal harus menuruti apa kata nahkodanya. Tidak boleh ada dua nahkoda, karena hanya akan berakibat diskusi yang tidak berkesudahan, sehingga kapal sudah terlanjur tenggelam tanpa ada keputusan yang dibuat.

Dalam banyak hal dikatakan bahwa dalam hal kepemimpinan, seorang pria akan menggunakan perbandingan rasio 9 : 1. Artinya 90% menggunakan logika, dan 10% menggunakan perasaan. Sebaliknya seorang wanita akan menggunakan perbandingan 1:9, 10% logika berbanding 90% perasaan. Seandainya sang pemimpin pria menggunakan perasaan lebih banyak dengan perbandingan rasio : feeling = 6 : 4, maka dia akan menjadi pemimpin hebat yang disayang sama bawahannya.
Begitupun halnya bila mana sang wanita menurunkan sifat “ perasaan “ nya, dan menaikkan fungsi logika, maka dia akan menjadi seorang pemimpin yang sama hebatnya…
Sehingga pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan posisi yang sama, “asal dia mau mewujudkan itu”…

So, for man….., please respect woman since you are equal…
But for woman,… please respect yourself…

7 Comments leave one →
  1. Evi Mariana permalink
    September 14, 2010 4:15 am

    Wanita mengandung dan melahirkan. Selain itu, wanita juga diharapkan bisa membetulkan keran yang bocor, genteng yang bocor, mengecat rumah dan pagar, memasak, membersihkan rumah, merawat anak, dll. Wanita juga bisa menjemput pria jika akan janjian, bisa juga gantian membayari makanan, membayari tiket nonton bioskop, membayar taxi, dll. Wanita bisa melakukan semua itu. Dan ketika sebuah keputusan perlu diambil dalam keluarga, maka sang pria memiliki otoritas untuk mengambil keputusan. Memang benar2 egaliter saya kira.

    • September 14, 2010 4:38 am

      Yah, mngkin tiap orang punya opini berbeda. Sy hanya ingin menekankan bahwa wanita punya power, dan mereka sama sekali tidak boleh direndahkan, karena pada dasarnya pria dan wanita adalah equal. Mereka “mampu” untuk melakukan hal2 yang anda sampaikan di atas. Soal siapakah yg harus mngambil kputusan dalam sebuah bahtera “rumah tangga”, pendapat saya tetap pria namun kembali lagi ke opini tiap2 orang dalam mengurus diri dan rumah tangganya (bila kelak memutuskkan untuk berumah tangga). Keputusan tetaplah harus diambil karena bila voting pun akan menghasilkan suara yang sama. Bila anda ingin sampaikan bahwa wanita yang berhak, it’s your call, selama suami anda menyetujuinya. Siapa yang menjadi ‘imam’ dalam rumah tangga anda kelak?? Totally keputusan anda dan suami anda. Mungkin seperti itu pendapat saya. Salam.

  2. Evi Mariana permalink
    September 14, 2010 9:39 am

    Hmmm, mungkin dalam pemaparan tulisan ini perlu disampaikan secara seimbang antara “apa yang bisa dilakukan oleh seorang wanita untuk menunjukkan kemandiriannya” dan “apa saja hal yang mungkin pada umumnya dilakukan oleh pria”. Misalnya, masing2 bisa dikasih contoh tiga, supaya balance.

    Saya pernah membaca sebuah buku, bahwa pria pada umumnya senang bisa membantu pasangannya, sehingga hal itu membuat pria merasa ada gunanya. Meskipun sebenarnya wanita memang bisa membetulkan genteng yang bocor, membetulkan keran, atau mengecat pagar. Tetapi, jika kami melakukan itu semua sendiri, (menurut buku ini) maka pria akan merasa tidak dibutuhkan dan tidak ada gunannya. Itulah mengapa, terkadang kami meminta pria membantu untuk melakukan hal-hal tersebut, meskipun sebenarnya kami bisa.

    Bahkan, wanita “diajari” untuk membiarkan pria menarikkan kursi untuk kami, atau membukakan pintu mobil. Meskipun tentu saja, hal itu tidak berat sama sekali.

    Saya sama sekali tidak mengatakan bahwa pria dilarang mengambil keputusan dalam rumah tangga. Dan sama sekali ini tidak ada hubungannya dengan pendapat pribadi saya. Cuma menurut saya, pemaparan anda sendiri kurang egaliter mengenai peran pria dan wanita.

    But anyway, ini topik yang bagus untuk dibahas. No offense and nothing personal. Keep writing🙂

    • September 14, 2010 9:59 am

      Oh, iya mbak. Thx advicenya. Terkadang memang dalam hal menulis sya tidak cukup pandai dalam merangkai kata-kata untuk memaparkan apa yang saya maksud (to be honest, I don’t like writing, but I try my best to love it, hehe).

      Just to share the point :
      Man n woman are equal, jadi tiap-tiap individu harus menghargai individu lainnya dan terlebih lagi harus menghargai diri sendiri..

      Thx sudah mampir.

      Salam

  3. Monica permalink
    November 8, 2014 3:28 am

    Saya tidak menganut prinsip egaliter. Pria dan wanita jelas tidak pernah sama. Sejak mula diciptakan mereka memang berbeda. Dengan prinsip egaliter, seolah olah pria hendak memaksakan pekerjaan yang tidak bisa dilakukan wanita. Seperti naik ke genteng, memperbaiki keran… Yang benar saja? Pria sudah jelas diciptakan lebih kuat dari wanita, what the hell with you guys?!

    • November 8, 2014 5:26 am

      Thx mbak Monica sudah mampir. Egaliter menurut saya adalah lawan kata dari otoriter, dimana setiap individu bebas berekspresi, bebas beropini, karena dianggap memiliki derajat yang sama sebagai manusia ciptaan Yang Maha Kuasa. Kalau mbak Monica bukan penganut prinsip ini, it’s your call. Saya tetap menghargainya. Gbu.

  4. masteguh permalink
    August 3, 2015 7:02 am

    wanitalah yang menuntut persamaan, tapi wanita pula yang ingin diperlakukan khusus. wanita hanya ingin diperlakukan sama dengan pria jika itu menguntungkan dirinya dan wanita ingin mendapat perlakuan khusus jika kondisi tidak menguntungkannya.
    contoh : saat wanita dalam kondisi kuat dan posisi menguntungkan dirinya, mereka menuntut hak dengan dalih emantisipasi. Namun disisi lain saat kondisi lemah dan posisi tidak menguntungkannya, mereka berlindung menyembunyikan kelemahannya dengan mengatakan “saya kan wanita”. itukah emantisipasi?
    wahai kaum hawa, emantisipasi bukan hanya menuntut hak, tapi juga berkaitan dengan kewajiban dan tanggung jawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: