Skip to content

Haruskah complain????

April 28, 2010

Mungkin ini yang selalu menjadi pertanyaan saya, kenapa begitu banyak orang di sekeliling saya yang selalu komplain dan komplain dalam hidupnya…

MuumeetttMulai dari Wall Facebook yang isinya mayoritas “komplain”, cerita rekan-rekan yang juga mayoritas komplain, dan banyak media yang mengisyaratkan bahwa “people tend to complain all the time”…

Ketika rekan-rekan mulai menyalahkan saya karena menginginkan mereka untuk berhenti komplain dan mulai mencoba mensyukuri setiap mili/macro (tergantung sudut pandang) berkat yang mereka terima, dan move forward, yang ada saya hanya disalahkan dan sedikit dalam kutip “dimarahi balik”….

I don't like u..!!“Dus, lo sih ngomong enak, ga tau rasanya…!!!

“Eh tan (mboh maksudnya natan atau setan), lo sih enak dengan posisi dan pendapatanmu sekarang, klo aq coba…., ya ampun….!!!!…

Ah, sudah ga kurang-kurang statement seperti ini yang saya dengar dan dengan berusaha untuk sedikit tersenyum mencoba mencari solusi bersama…

Sejujurnya saya sendiri bingung, ketika mencoba menawarkan solusi, orang hanya cenderung diam (bahkan malah agak sedikit emosi), tidak mencoba menjawab solusi atas permasalahannya, kemudian akan komplain hal yang sama tiap hari……!!!

Beberapa hal yang akhirnya dapat saya mengerti tentang orang-orang tipe complainer:

–          Keinginan dan Kenyataan terlalu beda jauh…..

Beberapa orang menginginkan selalu berada pada ”comfort zone” dan keinginan selalu tercapai. Ketika terjadi miss sedikit pada rencana kehidupannya, maka complain akan muncul.., Bukan mencari solusi, kebanyakan orang akan berpikir komplain dulu, luapkan amarah, dan mencari solusi belakangan…..

Sehingga yang ada akhirnya anda harus siap membuka telinga lebar-lebar, hati yang sangat lapang untuk menerima banjir komplain………..

–          Latar Belakang Seseorang..

Background seseorang bila berasal dari kalangan moderat/ orang berpunya akan membentuk dia menjadi sedikit manja… Jarang menjadi orang susah hanya akan membentuk seseorang menjadi tipe ”harus dituruti kemauannya”, bahkan Tuhan pun harus menuruti kemauannya. Bila tidak, sejuta komplain akan muncul…..

Akan tetapi background seseorang yang selalu susah sejak kecil pun dapat membuat dan membentuk seseorang menjadi tipe komplain. Dengan mudahnya dia akan berkata, ”saya sudah susah sejak kecil dulu, bahkan sekarang pun susah…, selalu susah..!!!

–          Pengalaman menghadapi masalah

Ria yang bekerja di Jakarta selalu komplain akan kehidupannya di Jakarta. Dia merasa bahwa Jakarta sangat keras , dan sangat berbeda dengan kehidupannya dulu di Kota Pelajar. Panas, macet, sumpek, masyarakat yang individualis menambah ”komplain” akan kehidupan di Ibu Kota ini…, sehingga lahirlah ”never ending complain”

Alfred (nama samaran biar sedikit keren) juga berasal dari Kota Pelajar Jogjakarta,  bekerja di sebuah tambang di Kalimantan sangat berkeinginan untuk bekerja di Jakarta. Dibandingkan dengan posisinya di remote area, akan sangat menyenangkan bila dapat bekerja di Jakarta sehingga dalam tanda kutip ”dengan hidup di Jakarta, dia masih hidup dalam peradaban”.

Saya hanya mencoba berandai-andai bila mana situasi dibalik, Ria bekerja di Kalimantan, Alfred bekerja di Jakarta. Saya bisa pastikan Alfred akan sangat mensyukuri hidupnya bisa bekerja di Jakarta, sedangkan Ria akan sangat komplain dengan situasi yang dihadapinya.

Kenapa bisa begitu?? Karena Alfred pernah merasakan yang lebih susah, sedangkan Ria baru akan mengalami hal yang lebih sulit, sehingga pengalaman seseorang menghadapi masalah akan sangat menentukan intensitas komplainnya.

Solusinya??????

Mungkin bagi saya, mencoba mensyukuri hal-hal kecil dan tidak berfokus pada hal-hal yang melemahkan akan menurunkan intensitas komplain.

Stop & Move Forward

Bukankah kita masih bernafas dan masih diberikan waktu untuk mengunjungi orang yang disayangi?? Bayangkan begitu banyak orang di RS yang hanya berbaring dan berkata ”Seandainya saya sehat,……….”.

Cobalah untuk melihat sekeliling, berada pada peringkat mana anda dan saya dibanding orang yang berada di depan, samping kiri, samping kanan, atau mungkin di belakang anda dan saya.

Jika jawabannya saya lebih baik dari pada mereka, maka bila mereka saja tidak komplain, kenapa anda dan saya harus komplain?????

Last but not least…, ijinkan saya mengambil sebuah tulisan dari blog Pak Yusuf dengan topik ”Janji Tuhan”.

Janji Tuhan

Kata Mario Teguh: “Bila Anda menghadapi banyak cobaan dan tantangan dalam hidup, artinya Tuhan sedang mempersiapkan Anda menjadi orang hebat” –

Sekedar mengingatkan bahwa Tuhan sebenarnya sudah menjanjikan hal itu jauh sebelum Mario Teguh. Hanya saja kita suka ragu dengan janji Tuhan..

Yogyakarta, 24 April 2010
Yusuf Iskandar

So, haruskah tetap komplain??? Decision is yours……..

(Akhirnya bisa menulis lagi…..)…

3 Comments leave one →
  1. April 28, 2010 4:21 pm

    makanya aku nggak pernah ndenger pak bos ngeluh ya🙂
    [kmu mmg g pernah mbahas masalah ke aku… hahaha]

  2. odusnatan permalink*
    April 29, 2010 2:01 am

    He….2, hanya mencoba untuk tidak berfokus pada hal-hal yang melemahkan. Begitu banyak hal di dunia yang dapat membuat kita komplain, tapi jauh lebih banyak hal yang ‘seharusnya kita syukuri’. Jadi saya hanya mengambil keputusan untuk bersyukur dari pada mengeluh…hehee.. Setuju kan???

  3. May 18, 2010 2:57 pm

    setuju!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: