Skip to content

Rumah VS Apartemen…??

October 11, 2009

Banyak pihak di Jakarta yang bingung memilih antara keinginan hidup di landed house tapi harus menghabiskan 1-2 jam perjalanan menuju kantor, atau harus hidup dalam bangunan di kota yang tidak memiliki halamannya atau biasa disebut apartemen. Menurut saya kembali ke tiap-tiap orang mana yang sesuai dengan jati dirinya atau visi nya dalam membangun sebuah keluarga (weiittss, kata-kata maut…). Akan tetapi, pertimbangan-pertimbangan apapun tetaplah harus berpatokan pada satu hal: BUDGET.

Sebulan lebih tinggal bareng bos saya di sebuah rumah di daerah Serpong – Pamulang membuat saya ingin sedikit membuat hitung-hitungan perbandingan living cost dan juga komparasi plus minus nya :

1. Landed House (Rumah)

Pilihan akan sebuah rumah tetaplah menjadi pilihan utama mayoritas masyarakat Indonesia. Kenyamanan, kepemilikan halaman, kebebasan dalam renovasi dan alasan kebiasaan/tradisi menjadi argument seseorang untuk tetap tinggal di rumah. Sayangnya untuk memiliki sebuah hunian rumah/perumahan yang cukup nyaman di Jakarta menjadi sulit terjangkau menilik dari harga yang ditawarkan. Jalan satu-satunya untuk mengatasi masalah ini adalah dengan membeli sebuah unit rumah yang berada di sekitaran pinggiran Jakarta sehingga dengan harga tanah yang masih murah memungkinkan rumah/perumahan yang dijual dapat dijangkau sebagian masyarakat.

Sekedar info, rata-rata harga rumah baru di perumahan-perumahan yang tengah menjamur di sekitaran Serpong – Pamulang untuk 2 bedrooms sekitar Rp. 140 jt – Rp. 320 jt dengan biaya-biaya yang timbul sebagai berikut :

Tagihan listrik&air : ± Rp. 300.000/bulan

Security & Kebersihan : ± Rp. 100.000/bulan.

Permasalahannya adalah untuk tiba lebih cepat di kantor ( lewat tol ) dan masih fresh tentulah kendaraan yang dipakai haruslah kendaraan tertutup dan beroda empat alias mobil pribadi.

Dari pengalaman pribadi, perjalanan dari Serpong menuju Jakarta Selatan memakan waktu sekitar 1,5 jam menggunakan mobil dengan melewati tol. Biaya-biaya yang dikeluarkan antara lain (update September 2009):

– Tarif tol : Rp. 11.500,- sehingga PP : Rp.23.000,- , ± Rp. 500.000,-/bulan (sebelum kenaikan tarif tol 28 September 2009).

– BBM : ± Rp. 200.000,-/minggu, Rp. 800.000- Rp. 1.000.000 / bulan.

Sehingga total biaya untuk maintenance rumah dan ongkos perjalanan : ± Rp. 2.000.000,-/bulan.

Biaya tersebut di atas di luar asuransi rumah/mobil dan biaya servis/perbaikan mobil dan pajak kendaraan

2. Apartemen

Alasan utama pihak-pihak yang lebih prefer apartemen adalah kemudahan aksesibilitas, dan efisiensi. Bayangkan dengan tinggal di apartemen, perjalanan menuju kantor dapat ditempuh hanya dalam waktu kurang dari setengah jam, bandingkan dengan rumah di daerah tangerang harus menempuh waktu ± 1,5 jam. Namun biaya-biaya yang timbul sehubungan dengan kepemilikan apartemen cukup besar. Dengan mengasumsikan luas apartemen 42 m2 (tipe 2 bedrooms), maka biaya-biaya yang timbul adalah sebagai berikut :

Biaya maintenance, kebersihan, security : ± Rp. 12.000/m2. sehingga biaya total Rp. 504.000,-/bulan.

Listrik&air : Rp. 500.000,- / bulan (sedikit lebih mahal karena harus menanggung biaya atas penggunaan listrik di loby dan fasilitas-fasilitas apartemen).

Biaya atas penggunaan mobil: BBM : Rp. 400.000/bulan (asumsi) Parkir apartemen : Rp. 150.000/bulan

Sehingga total biaya tinggal di apartemen + penggunaan mobil pribadi : ± Rp. 1.554.000/bulan.

Biaya tersebut di atas di luar asuransi rumah/mobil dan biaya servis/perbaikan mobil dan pajak kendaraan.

So, stigma tinggal di apartemen pasti lebih mahal akan terbantahkan jika menggunakan parameter-parameter tersebut di atas.

Satu hal yang juga harus diperhatikan adalah Return of Investment (ROI) dari unit baik apartemen maupun rumah. ROI dari sebuah rumah biasanya lebih tinggi karena menyangkut kenaikan harga tanah, sedangkan apartemen kenaikannya tidak begitu signifikan. Akan tetapi, kenaikan harga ini tetap dipengaruhi oleh hukum supply dan demand.

Pilih yang mana??? Dipilih……dipilih…….dipilih….””(diperagakan dengan style menjual dagangan ikan)………

5 Comments leave one →
  1. October 13, 2009 2:40 pm

    uhuy…. nulis lg nih… bagusss!!!!
    [aku yg jadi ga produktif]
    ehm… kalo punya apartemen, ak milih pake angkutan umum aja deh. udah deket soalny…
    [lho, emang aurel mo tinggal di jakarta???]
    hahaha
    nggak kok. tp kalo nasib membawaku ke jakarta…. ya, jawabannya apartemen.
    kalo harus berkeluarga, ehm… apartemen??? ehm… ya gak ya?

    lanjutkan artikel2nya, pak bos!

  2. odusnatan permalink*
    October 14, 2009 1:33 am

    Hehehe, yah sambil ngisi waktu nulis2 lagi…… Apartemen??? Siippp, yang penting happy to…..??
    Fully support mam.
    Thx 4 the comment. ayo semangat lagi nulisnya….!!!

  3. November 3, 2009 3:53 pm

    posting lagi donk!

  4. Misscupid permalink
    April 28, 2011 5:56 pm

    Mau tanya untuk segi investasi jangka panjang menurut mas mendingan beli rumah di cibubur tipe 45/90 atau beli apartemen studio 27m2 terimakasih yah sarannya. Tq investasi jual maupun untuk sewa

    • April 29, 2011 1:30 am

      Pada intinya semua kembali kepada hukum Ekonomi, supply vs demand, permintaan vs penawaran. Artinya jika apartemen studio lebih prospek dikarenakan tingginya permintaan maka kenaikan harga tiap tahunnya akan sangat signifikan. Namun pada kondisi general, artinya apple to apple antara supply vs demand rumah dan apartemen tidak berbeda, saya lebih merekomendasikan rumah. Alasan detail akan saya jelaskan di tulisan blog selanjutnya. Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: