Skip to content

Bali (1)

May 2, 2009

Hari pertama di Bali memang luar biasa. Malam pertama dihabiskan dengan ngelantur ngalor-ngidul tidak jelas, jadilah 2 orang lugu + 1 penjahat (saya tentunya) tidak istirahat sama sekali.

 Kegiatan pertama di pagi hari nan cerah adalah berenang. Wow…., mantap….!! Lumayanlah sudah lama sekali tidak menyentuh kolam renang. Walaupun airnya sangat jernih sehingga saking jernihnya daun dan sampah terlihat jelas tidak membuat saya patah arang. SEMANGAT…!! Bali bukan tempat untuk tidur, wajib ada kegiatan!!! Kata-kata mulia yang sebenarnya tidak pantas saya ucapkan karena saya yang paling hobi tidur diantara kedua rekan yang lain. Setelah lumayan puas berenang, segera mandi dan siap menuju pantai Kuta.

 Ah, sungguh kawan, sesaat setelah mandi, kasur itu tiba-tiba terlihat indah, dingin AC membuat saya ingin sekali tidur. Tapi kantuk segera hilang mendengar teriakan tetangga sebelah, “Ayo, cepat sudah, sa su siap…!!!!”.

 1. Pantai Kuta

Mantap…!! Kata-kata yang selalu kugunakan melihat keindahan pantai Kuta. Memang pantai ini sangat baik dinikmati sewaktu pagi ataupun sore. Kalau siang, yah selamat deh, 100% pasti gosong. Sehebat dan setinggi berapapun sunblock dengan spf nya, dipastikan tetap gosong, kecuali tujuan anda murni berjemur dan menghitamkan diri.

Indahnya pantai Kuta dengan pondok-pondok peristirahatan sepanjang pantai

Indahnya pantai Kuta dengan pondok-pondok peristirahatan sepanjang pantai

Setiap orang di pantai melakukan kegiatannya masing-masing, ada yang berjemur, berselancar, bahkan latihan yoga. Nah bagi yang baru belajar surfing, pantai Kuta adalah jawabannya. Ombak yang smooth dan tidak tinggi memudahkan anda untuk latihan berselancar. Semilir angin menambah kekhusukkanku dalam memejamkan mata. Sungguh, semalam suntuk tanpa istirahat dan didahului dengan berenang merupakan sebuah cobaan berat.

Tiba-tiba di sekeliling orang-orang mulai menawarkan untuk beristirahat di pondok yang mereka sudah buat di sepanjang pantai. Nah terjawab sudah pertanyaan di dalam hati ini, mengapa begitu banyak pondok sepanjang pantai, dan sedikit sekali yang digunakan. Mayoritas tourist hanya berbaring di pasir pantai. Kenyataannya, anda diwajibkan untuk merogoh kocek yang lumayan dalam untuk hitungan per jam nya.

”Berapa bli??” Pertanyaan iseng yang kulontarkan kepada beach boy penyewa pondok.

”50 rb sejam mas, sekedar pelaris”. Jawaban tak berdosa dari sang tuan pemilik pondok.

Pantai Kuta, lokasi yang sangat cocok bagi surfer pemula

Pantai Kuta, lokasi yang sangat cocok bagi surfer pemula

Ada juga yang mengatakan, “kalau biasanya disewakan100rb/jam, di Bali memang segitu harganya”. Ah sungguh, meskipun saya punya duit, tak rela rasanya untuk pondok seperti itu harus kubayar 100 rb/jam. Mending ngadem di McD, ataupun Discovery mall, sudah bisa ngadem, dapat makan dan minum sekaligus melihat pantai Kuta. Sorry kawan, anda kurang beruntung bertemu dengan penasihat ekonomi pribadi Orang DUSun.

 Setelah lelah berjalan dengan teman dan kaki ini mulai terasa pegalnya, akhirnya mulailah duduk di tepi pantai. Saya hanya bisa memejamkan mata karena kantuk yang berat…

”De, mau dipijit de???”

”Mas-mas, tattoo mas…..”

“De. Beli kainnya dek….”

 “De, gelangnya dek…….”

”De, mau dikepang????”

Busyet, serangan beruntun dan bertubi-tubi dari ibu-ibu pedagang, penjual jasa, dan tattoers (julukanku untuk yang suka mentato kulit orang). Saya benar-benar belum siap menghadapi serangan ini, dan hanya bisa mengeluarkan satu jurus, semakin tertidur. Sungguh prihatin temanku satu itu, dia akhirnya menyerah untuk membeli sepotong kain seharga Rp. 25 rb setelah melewati pertarungan yang berat. Dan alamat bukan menyelesaikan masalah, melihat dia membeli sepotong kain, semakin banyak pedagang dan penjual jasa yang mengerubutin dirinya. Benar-benar gula diserang semut. Samar-samar kudengar percakapannya :

“Berapa bu kalau dikepang??” Tanya temanku..

”Ah 100 ribu saja, bisa ditawar kok”, jawab ibu kepangers (julukanku untuk si ibu pembuat kepang).

Saya yakin dan percaya pasti hati temanku mengatakan ”sekelas Johny Andrean saja tidak semahal itu bu!!”.

Entah berapa banyak pedagang dan penjual jasa yang masih mengerubutin teman kami, dan salah satu berpesan kepada teman saya, ” jangan lupa kalau mau mijet panggil saya ibu no.16”.

 Kaki yang pegal ini menyerah juga. Akhirnya kuputuskan untuk pijet pada seorang ibu yang entah dari mana tiba-tiba kubuka mata sudah berada di hadapan saya.

”Berapa bu??” tanyaku.

” 50 rb saja dek..”, jawab si ibu tersebut.

”15 rb bu, kan cuman kaki saja.”, kukeluarkan ilmu tawar menawar yang kupelajari secara otodidak dari ibuku.

Setelah melewati beberapa diskusi, akhirnya tetap pada harga 15 rb. Menang juga akhirnya…

Mulailah ibu tersebut mengambil minyak dan memijat betisku yang memang sangat pegal. Tiba-tiba sang ibu No. 16 datang dengan gagahnya dan mulailah marah-marah. Entah saya hanya dengar samar-samar yang pada intinya mempertanyakan eksistensi dirinya yang tidak diakui. “Saya kan sudah bilang hubungi saya ibu no. 16, kenapa sih pake orang lain..!!”. Wah ibu ini benar-benar tidak mengerti bahwa konsumen di atas segalanya. Dia sama sekali tidak berhak untuk komplain dan dapat dilaporkan ke YLKI (ah tidak sekejam itulah..). Yah kubiarkan ibu itu menggumam, dan melepaskan kesalnya. Dalam hati kuberkata, ” anda mungkin belum beruntung bu ”.

5 menit setelah mulai dipijit, panas matahari benar-benar menyengat. Ibu yang memijat saya menawarkan untuk pindah ke tempat yang lebih dingin. Saya sangat setuju, dan mulai beranjak ke tempat yang lebih dingin.

”Nah kalau di sini harganya jadi 50 rb”, kata ibu tersebut dengan sikap sangat lugu padahal benar-benar MENJIJIKKAN..!!

Bagaimana mungkin hanya berpindah 5 meter untuk mendapatkan tempat yang lebih dingin harganya naik 3 x lipat. Ibu ini tidak sadar berhadapan dengan orang yang memegang teguh komitmen terutama berkaitan dengan dunia keuangan.

”Bu, yang benar saja, masa pindah 5 meter naik ga kira2, ga mau..!! Jawabku dengan lantang.

”Ya sudah kalau gitu 20 rb saja”, respon ibu tersebut lebih lanjut.

”Ga bu, mana komitmen ibu”, weiiss inilah kata-kataku yang sering kulontarkan kepada rekan-rekan yang hobinya melanggar janji.

”Iya-iya, 15 rb saja” jawab ibu tersebut sadar kembali.

Sedikit mengherankan memang, tapi yah harus dipahami, dari situlah mereka mencari nafkah, walaupun caranya membuat konsumen menjadi tidak nyaman.

 Akhirnya saya bisa menyimpulkan bahwa pantai Kuta sangat indah, namun sangat disayangkan manajemen pengelolaan para penjual jasa maupun pedagang sangatlah lemah. Tourist menjadi sangat tidak nyaman duduk berlama-lama menikmati pantai karena akan diserbu oleh pedagang dan penjual jasa. Pemerintah sekiranya harus memikirkan bagaimana mengelola pantai ini agar selalu didatangi turis-turis dan membuat kesan yang jauh lebih mendalam. Adalah lebih baik jika dibuatkan peraturan pengelolaan pedagang dan penjual jasa yang membuat larangan untuk menawarkan dagangan dan jasa kepada tourist melainkan mereka yang akan didekati tourist.

Lho, bagaimana caranya??

Tiap-tiap segmen pedagang ataupun penjual jasa dibuatkan space khusus. Khusus pemijat berada di sudut tertentu, kemudian difasilitasi kasur kecil, ataupun kain untuk berbaring di pasir pantai. Di sebelahnya terdapat kepangers, tattoers, dll. Wisatawan akan lebih termotivasi untuk datang karena jauh lebih comfortable. Hal ini akan menjadikan pantai Kuta kelihatan lebih dinamis dan teratur.

 

2. Uluwatu

 Setelah dari pantai Kuta, saya dan rekan balik menuju hotel. Yah lumayan istirahat 2 jam sambil menunggu rekan yang bekerja di salah satu perusahaan tur di Bali. Sangat beruntung memiliki teman yang bekerja di tour, seluk-beluk pariwisata sangat beliau pahami. Bahkan soal harga tiket voucher murah jangan tanyakan, beliaulah pakarnya.

Jurang dan Laut di Uluwatu (beautiful)

Jurang dan Laut di Uluwatu (beautiful)

Sekitar pkl. 3.30 sore kami berangkat menuju uluwatu menggunakan motor yang kami sewa di hotel tempat kami tinggal. Motor sewa/rental di Bali rata-rata sudah dimodifikasi khusus untuk memiliki tempat meletakkan papan selancar dan biasanya motor tersebut sudah cukup berumur dan kurang terawat. Perjalanan Kuta-Uluwatu memakan waktu kurang lebih 1 jam.

 Uluwatu merupakan daerah yang memiliki banyak jurang dengan view laut yang sangat indah. Seperti kebanyakan daerah wisata lain, uluwatu juga merupakan tempat peribadatan, sehingga diwajibkan untuk menggunakan semacam kain sarung dan ikat pinggang kain sebelum masuk ke dalam daerah wisatanya. Satu hal yang wajib diketahui, di sini terdapat banyak monyet yang dengan gagah berani akan mengambil anting-anting atau kaca mata jika anda kurang waspada. Jadi, waspadalah-waspadalah.

 Sangat disarankan untuk rekan-rekan jika berkunjung ke sana, sempatkanlah untuk menonton kecak dance dengan view matahari terbenam. Sayang sekali saya tidak sempat menikmati atraksi ini dikarenakan lokasi tribun yang sudah dipenuhi penonton.

 3.  GWK

Setelah mengunjungi uluwatu, destinasi berikut yang dituju adalah GWK. Tujuan ke sini sebenarnya adalah untuk segera menonton Kecak Dance, tarian yang sebelumnya telah dipenuhi oleh penonton di lokasi Uluwatu. GWK ini sendiri berjarak tidak begitu jauh dari Uluwatu, kurang lebih 30 menit.

Sendra tari Ramayana @ GWK

Sendra tari Ramayana @ GWK

 

GWK merupakan lokasi yang sengaja dibangun dan didesign sebagai salah satu lokasi kunjungan wisata. Di sini terdapat patung-patung, galeri, lokasi sendra tari, dan merupakan tempat konser musik yang sangat bagus dengan rock wall di sekelilingnya (scorpion pernah manggung di sini).

 Akhirnya niat untuk menonton tari kecak terlaksana. Kami datang tepat waktu saat pelaksanaan sendra tari kecak ramayana baru akan dimulai. Sampai selesai tarian, tidak saya temukan tarian kecak yang biasa diperagakan oleh seorang rekan di kampus dulu. Ternyata, sendra tari kecak ramayana berbeda dengan tari kecak biasanya. Tarian ini merupakan tarian yang menceritakan tentang cerita Rama dan Shinta plus aktor antagonis Rahwana dan protagonis Hanuman. Sayang sekali, entah untuk menjaga unsur budaya dan originalitas dari tarian ramayana ataukah ada unsur-unsur tertentu di dalamnya, bahasa pengantar dan prolog pun diucapkan dalam bahasa asli Bali. Hal ini membuat banyak orang termasuk saya yang menjadi tidak mengerti dengan lakon yang dipentaskan oleh para penari. Walaupun tribun terlihat penuh, namun di tengah-tengah acara, para penonton mulai banyak yang beranjak dan meninggalkan lokasi pertunjukan.

 Sungguh ini merupakan tarian yang sangat unik dan menarik untuk disaksikan. Hanya saja jika memang dibolehkan, alangkah baiknya bila penampilan tari ramayana ini ditambahkan unsur pengantar yang disampaikan dalam bahasa inggris. Hal ini akan membuat penonton yang adalah mayoritas wisatawan mancanegara lebih memahami maksud dan tujuan dari setiap lakon yang ditampilkan.

 

FYI :

–          Tiket Masuk Pantai Kuta : Free

–          Massage di tepi pantai : Rp. 15.000 (15 menit)

–          Tiket Uluwatu: Rp. 3.000,-

–          Tiket Masuk GWK : Rp. 20.000,-

–          Sewa motor: Rp. 30.000/day

4 Comments leave one →
  1. evi permalink
    May 3, 2009 7:21 am

    Pak Odus, jadinya kepang rambut apa ga??

  2. odusnatan permalink*
    May 3, 2009 10:20 am

    Jadi kok bu, dikepang tipis, he……

  3. February 24, 2010 3:47 pm

    Keren banget…
    jadi pengen ni ke bali..

  4. catering di denpasar bali permalink
    October 29, 2012 1:17 am

    Keren nih tulisannya, keep posting ya…
    Sudah Coba Empat Tempat Makan Unik Di Bali
    Klik http://goo.gl/ZGcfU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: