Skip to content

Rantau

April 12, 2009

Saya cukup heran melihat perkembangan saya saat ini. Sungguh kawan, saya saat ini benar-benar menjadi seorang perantau. Seorang perantau dari ujung papua yang sejatinya asli sulawesi, studi di Jawa dan kesasar saat ini di kalimantan. Bertemu dengan keluarga hanya beberapa tahun sekali.

Sebagai seorang anak terakhir dari 4 bersaudara, satu hal yang cukup aneh adalah hanya anak pertama dan kedua yang masih berada di Merauke, sisanya mencari sesuap nasi hingga entah ke mana arus membawa.

Saudara saya yang ke-3 merupakan seorang militer, sehingga dia jelas harus berkeliling sesuai perintah negara.

Tinggallah saya saat ini yang bekerja agak “aneh” sendiri, di bidang pertambangan, bidang penuh resiko, walaupun gajinya lebih baik sedikit dari PNS tapi belum tentu bila dilihat dari segi pendapatan (pendapatan seorang PNS bisa sangat besar walaupun gajinya kecil, tanya kenapa????) . Kenapa aneh?? Yah bagi seorang anak kampung, sangat jarang bidang ini ditekuni. Di Merauke kota tercinta, pekerjaan utama mayoritas setiap orang adalah Pegawai Negeri Sipil. Pekerjaan yang mengasyikkan bagi yang ingin berada pada jalur low risk of life tapi tetap happy. Pekerjaan lain yang mungkin adalah pedagang, petani, pekerja swasta, dll. Kuli tambang???? Wah tentu sangat jarang, dan persepsi setiap orang adalah pasti gajinya besar. Tak tahukah mereka bahwa itu hanyalah isu belaka, bisa hidup independent sudah syukur.

Resiko seorang perantau terutama bagi saya adalah ketiadaan rumah ketika cuti. Yah numpang menjadi solusi terbaik. Berbeda jika menjadi PNS di Merauke, sudah ada rumah ortu, atau mungkin perumahan jika ditempatkan di pedalaman, dan juga ada tanah yang bisa diurus untuk dibuatkan rumah tinggal di atasnya. Di Jawa, tidak berbekas sama sekali. Tidak ada tanah apalagi rumah. Jadilah kewajiban memiliki rumah adalah prioritas tertinggi karena tidak mungkin mengharapkan belas kasihan orang lain terus, apalagi berharap memenangkan kuis. Memang harus bersabar kalau soal ini dan menjalankan hidup sesuai dengan rencana semula (seperti dalam tulisan sebelumnya tentang rumah).

Hal yang paling menyenangkan sebagai perantau adalah berada di daerah masyarakat/suku lain yang memiliki adat istiadat berbeda. Bertemu dengan suku Kubu, sebuah kaum masyarakat di pedalaman Jambi yang selalu berpindah-pindah, menjadi sebuah pengalaman sendiri. Meskipun sudah dibuatkan perumahan untuk menampung mereka, percayalah rumah itu akan ditinggalkan, dan akan selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.

Pengendara motor di Banjarmasin mengingatkan saya akan Valentino Rossi. Motor dikebut terus, meskipun ada mobil yang hendak mundur. Sungguh kesabaran menjadi cobaannya.

Hal yang paling berkesan adalah kehidupan warga trans Jawa di tempat saya tinggal saat ini, Sebamban, Kecamatan Angsana, Kalsel. Gotong-royong masih sangat dipertahankan. Hampir tiap minggu ada pernikahan, dan setiap orang berbondong-bondong untuk saling bantu pihak yang mempunyai hajatan. Hampir setiap hari pula mess kami dibagikan makanan dari rumah tetangga. Kehidupan masyarakat di sini mencerminkan ciri khas orang Jawa sebenarnya yang kalau boleh jujur sudah mulai hilang di tanah aslinya sendiri.

Satu hal yang pasti, tidak ada satupun suku masyarakat yang tidak baik. Baik Dayak, Papua, Makasar, Jawa ataupun suku bangsa lain semuanya pada dasarnya ramah, hanya cara intonasi berbicara masing-masing yang berbeda. Selama bertujuan baik, saya yakin kemanapun angin membawa, tidak menjadi rintangan yang terlalu sukar dilewati. Hanya saja seringkali ada oknum-oknum tertentu yang mampu untuk memprovokasi masyarakat sehingga mudah terbujuk untuk menjadi kasar, bahkan beringas. Oknum-oknum inilah sejatinya merupakan perusak moral bangsa.

Sungguh menyenangkan bisa mengenal begitu banyak karakter masyarakat bangsa ini langsung dari tempat asalnya. Tapi sejujurnya jika pertanyaan dialamatkan ke saya, dimana lokasi homestay, Jogja jawabannya. Sangat menyenangkan berada di kota pendidikan yang tidak menjadikan masyarakat satu dengan yang lain individualistis layaknya Jakarta.

Menyenangkan memang, merantau ke tempat-tempat yang belum pernah didatangi, menganggap bekerja sebagai sarana berwisata gratis, dan jika suatu hari kelak sudah merasa jenuh dan lelah, dapat mengganti aktifitas menyenangkan di Jogja bersama keluarga tercinta.

Ah, sungguh mulia cita-citamu nak,……., kuaminkan terjadi…

5 Comments leave one →
  1. April 13, 2009 6:26 am

    waktu keluar rumah siang ini, saya melihat tulisan di helm seorang pengendara motor yang melintasi rumah.
    tulisannya adalah “as homy as jogja”

    saya setuju…. jogja itu rumah…. homy adalah kata sifat yg cocok buat jogja [bagi saya]

    🙂

  2. April 17, 2009 8:00 pm

    pingin merantau,,dan belum kesampaian ampe sekarang😐

  3. April 18, 2009 6:13 am

    @ Aurel : Saya setuju itu bu…!!!!!

    @ Wenny : Pasti segera bisa, apalagi klo suaminya orang luar Jawa, dipastikan juga ikut merantau nantinya, …..he….

  4. April 28, 2009 6:45 am

    Hehehehe…nimbrung pak boss!
    homy = jogja
    setuju! keliling-keliling tapi ga ada yang se-homy jogja
    even the place I live now😉
    something special in this town:
    the simplest ways of people living their lives

  5. odusnatan permalink*
    April 30, 2009 7:18 am

    @ Ferdi : Siippp bos, jgn lupa klo ad rejeki dan berkat dari Papa J nanti kita beli rumah bareng di Jogja ya, oke???? I’m lovin it………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: