Skip to content

Jando

September 1, 2008

Jando, dalam bahasa Indonesia berarti janda. Sebuah istilah yang sangat sering diomongkan oleh pekerja lokal di Desa Kilis, Kabupaten Tebo, Jambi. Sebuah daerah yang menjadi lokasi pertambangan batubara dan merupakan tempat saya kerja saat ini ( setidaknya hingga sebulan ke depan sebelum saya resign per awal Oktober nanti).

Kurang dapat dipahami sebabnya sehingga banyak sekali wanita di daerah ini sudah menjadi janda di usia yang masih sangat muda (rata-rata 18-27 tahun). Sebuah range usia yang dapat dikatakan masih layak untuk menikah kembali. Dan itulah yang terjadi…..

Sebagai contoh, seorang wanita sebut saja Fitri. Rumahnya bersebelahan dengan mess operator. Di usia yang baru menginjak 25 tahun, sudah 6 kali menikah dan belum dikaruniai anak hingga sekarang. Bukanlah hal yang sulit untuk menjumpai janda-janda yang lain karena hampir di setiap sudut tempat dapat dengan mudah ditemui. Mungkin agak berlebihan jika diibaratkan sejauh kepala ini berpaling ke arah empat penjuru mata angin maka pasti akan mudah menemukan seorang janda, tapi inilah kenyataannya.

Sebuah degradasi moral ataukah sebuah excuse atas ketidaknyamanan ekonomi yang diderita saya kurang tahu pasti, tapi menilik situasi seperti ini saya sangat yakin bahwa ketika masih duduk di bangku SMP ataupun SMA banyak wanita yang sudah melakukan hubungan bebas. Sebuah asumsi yang ternyata sangat tepat melihat pengakuan dari salah seorang pekerja lokal akan keadaan di sekitarnya.

“Kalau kami di sini pak, rata-rata ceweknya udah pada tidak perawan……., minimal setengahnyalah dari murid-murid sma”. Pertanyaan lugu saya selanjutnya, “ Lho biasanya pada main di mana??”, Dengan lebih lugu lagi dijawab “Ya, main di semak-semak lah, kan di sini masih banyak hutan….”.

Sebuah pernyataan yang sangat jujur tapi cukup miris untuk didengar. Sebuah pernyataan yang dapat menjadi representasi keadaan yang sebenarnya akan kehidupan sosial masyarakat Indonesia tanpa memandang agama, suku, latar belakang pendidikan, dan sebagainya.

4 Comments leave one →
  1. aureliaclaresta permalink
    September 3, 2008 3:28 am

    Hmm…. Yg namanya semua sudah menganggap itu biasa, maka norma kesusilaan di sana sudah biasa untuk diabaikan….

    ‘Kalau hal itu membuat saya senang, anda juga tidak keberatan, semua orang juga melakukan hal yg sama, habis perkara’

    Begitu bukan???

    Ya, sebaiknya jangan berkeluarga di sana, ya, tuan! Karena kalo anda punya anak perempuan, bahaya🙂

  2. September 3, 2008 3:46 am

    Oke bos,
    Klo ga ada halangan awal oktober cabut kok….
    rencana keluarga??
    Tetap jogja….

  3. aureliaclaresta permalink
    October 29, 2008 10:04 am

    eh, ini sudah akhir oktober.. memangnya sudah cabut dari Jambi??

  4. odusnatan permalink*
    October 29, 2008 1:25 pm

    Iya Rel, klo ga ad halangan 5 November ke Kalsel, sebelumnya ke Jakarta dulu. Kpn lulus???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: