Skip to content

Being Workaholic

August 21, 2008

Saya sejujurnya sangat terkesan dengan penggunaan kata ini. Workaholic, mungkin dalam pengertian harafiahnya semacam gila kerja. Orang-orang yang mengalami karakter seperti ini benar-benar mengeksploitasi dirinya dalam hal pekerjaan, dan pada akhirnya pekerjaan tersebut menjadi semacam hobi.

Beberapa orang yang saya kenal memiliki sifat seperti ini. Mungkin sulit untuk dibayangkan ketika sewaktu saya masih di konsultan dulu melihat pimpinan saya mengerjakan report dalam kurun waktu 4 hari 4 malam dengan rata-rata tiap harinya istirahat 1 jam. Laporan yang disusun dengan susah payah tersebut menghasilkan sebuah report yang kalau boleh jujur secara pribadi merupakan ‘the best mining report I’ve ever seen’.

Klo melihat sifat pimpinan saya yang bahkan ketika liburan ataupun cuti dengan keluarga masih membuka laptop,maka dapat disimpulkan bahwa beliau benar-benar seorang workaholic. Pekerjaan merupakan hobi, dan sangat sulit hanya berdiam diri tanpa melakukan suatu pekerjaan apapun. Beliau pernah mengatakan kepada saya bahwa memang dia harus kerja keras sampai ada orang yang mampu menggantikan posisinya dan beliau hanya menjadi murni shareholder, take care of his family, dan secara regular menerima passive income dari sharenya.

Sejujurnya bukannya ragu, cuman saya yakin ketika beliau mencapai impiannya,maka yang akan dilakukan adalah berpikir untuk membuka unit bisnis baru dan kembali giat kerja lagi. Sebuah karakter dasar seorang workaholic yaitu ingin terus dan terus berkreatifitas tanpa batasan usia.

Satu hal yang pasti, orang-orang yang memiliki karakter seperti ini biasanya memiliki karir yang sangat bagus dan cepat untuk meraih posisi top manajemen. Hal tersebut tidaklah sulit melihat kerja keras dan pengorbanan yang diberikan (terutama dalam hal waktu).

Nah kalau ditanyakan apakah saya punya sifat tersebut, jelas tidak. Saya memiliki hobi yang sangat menyenangkan yaitu nonton tv, berwisata, malas-malasan dan tidur-tiduran. Kerjaan sering menjadi beban. Dan saya yakin hal itu dapat menjadi salah satu penghambat karir saya ke depan.

Secara regular saya terus berusaha untuk menjadi workaholic dengan semangat terus untuk kerja. Sayangnya hal-hal tersebut selalu terbentur dengan hobi tadi. Sebagai contoh lagi asyik-asyiknya buat report, eh ada sepakbola di tv, ya sudah deh dengan mantapnya menekan ctrl+s di keyboard pending dulu untuk nonton tv. Setelah nonton, jadi ngantuk, tidur deh. Benar-benar ga mutu.

Tapi mungkin ini yang Pak Yusuf ( salah satu pimpinan di konsultan dulu ) katakan bahwa being workaholic bukanlah sebuah tujuan, melainkan sebuah cara untuk mencapai tujuan. Hal itu yang harus saya terapkan untuk selalu bekerja keras mencapai tujuan yang saya inginkan. Sesuatu yang berat memang, cuman ketika saya sudah mampu bekerja keras dan mencintai pekerjaan yang saya geluti ditambah dengan pimpinan Tuhan saya yakin tujuan yang diinginkan dapat tercapai.

Semoga.

4 Comments leave one →
  1. Evie permalink
    August 25, 2008 9:38 am

    Menurut saya, workaholic itu hanya bagus hingga batas tertentu. Kerja keras itu sangat diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan kita. Tapi jangan sampai karena terlalu suka bekerja, malah jadi tidak menikmati. Jangan lupa juga untuk peduli pada lingkungan sekitar ya….😀

    Oya, mungkin aktivitas yang “kurang” berguna perlu dikurangi, seperti menonton tv atau main PS😛

  2. odusnatan permalink*
    September 3, 2008 3:49 am

    Setuju mbak evie….
    Btw, kok tahu y saya suka main PS???

  3. January 31, 2009 2:04 pm

    odus….

    pastikan segera bahwa anda enjoy dengan pekerjaan anda. jika “tidak” segeralah keluar dari pekerjaan itu.

    lakukan pekerjan yang bisa membuat kamu enjoy dan menikmati hidup.

    jangan terbelenggu dengan pekerjaan itu. jangan sampai pekerjaan menguasai anda sampai anda lupa untuk membangun relationship dengan orang lain.

    SALAM SUPER !!!!

  4. odusnatan permalink*
    February 1, 2009 6:09 am

    SETUJU, memang pak Oyan Teguh andalan, he…..2.
    That’s what i am doing, membuat pekerjaan dan hidupku happy. Jika ada faktor yang membuat segala sesuatunya menjadi “unpleasant”, mungkin hanya faktor eksternal di luar pekerjaan. Thx so much for the advice….
    God bless u bro……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: