Skip to content

Teruslah Tersenyum………..

March 20, 2008

Wah postingan kali ini isinya hanya tentang bahagianya hidup ini. “Haruskah aq bahagia dengan kondisi seperti ini???” Sebuah pertanyaan dari seorang teman yg pernah dilontarkan ketika dia baru saja putus dari pacarnya. Pertanyaannya kubalik dengan sebuah pertanyaan lagi, “Kenapa kamu harus tetap bersedih???? Does he deserve to get ur tears???

Saya mungkin bisa katakan diriku sangat beruntung dan diberkati dalam banyak hal.
Saya merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Dengan posisi sebagai anak bungsu, saya banyak mendapat perlindungan dari ortu dan saudara apalagi dalam kondisi ekonomi keluarga yg sangat mapan pada saat itu.

Namun keadaan berbalik, ayah yg sangat kucintai menderita penyakit hipertensi dan malaria akut akibat menggeluti bisnisnya hingga ke pedalaman2 papua. Sungguh ironis memang, kondisi keluarga yg cukup mapan tiba-tiba berbalik 170 derajat. Lha kok ga 180 derajat??? Syukur masih ada ibu yg bekerja untuk menopang kebutuhan keluarga dan dengan segala upaya membiayai kuliah kedua kakak saya.

Selama beberapa tahun mulai tahun 1998, saya benar-benar merasa seperti anak tunggal. Ketiga saudara saya semuanya menempuh ilmu di luar merauke (kota terujung indonesia= kota kelahiran saya). Saya benar-benar melihat dan mengalami sendiri bagaimana kedua ortu berupaya keras mencari tambahan untuk biaya kuliah saudara2. Saya sendiri mau tidak mau harus melakukan segala sesuatu semampu saya bisa. Pekerjaan kakak perempuan kuhandel (nyuci piring, baju, nyapu, dsb). Kerjaan abang pun kuambil (beternak, ngambil makanan sisa di pasar, maupun bantu memotong padi). Ibu selalu berkata “makan saja apa adanya, jangan pilih2!!!”. Kata-kata yg sangat sering sdidengar ketika saya protes akan hidangan di atas meja.

Satu pengalaman yang tidak akan saya lupakan ketika saya meminta dibelikan gitar pada ibu. Bermain gitar merupakan hobi saya pada saat itu. Ibu belum mengiyakan, dan berkata bahwa duit belum ada. Saya dalam beberapa hari terkesan agak memaksa untuk dibelikan gitar, sebuah sikap yang memang sangat childish. Setelah beberapa hari tetap tidak mengiyakan akhirnya beliau tidak mampu untuk menahan tetesan air matanya. Air mata yang membuat saya berkomitmen untuk tidak akan menyusahkan beliau kelak saya kuliah.

Masih dengan mata berkaca-kaca, beliau yg sangat kucintai berkata kepada saya untuk sabar menunggu bonus dari kantor. Bonus pun datang dan diberikan kepada saya sejumlah uang untuk membeli gitar. Saya pun menolak dan berkata bahwa saya sudah memperbaiki gitar milik tetangga, gitar itu saja yg akan saya gunakan.
Hal-hal inilah yang benar-benar membentuk saya menjadi mandiri dan tidak manja.

Saya sendiri sudah berkomitmen untuk berusaha membiayai kuliah sendiri pada tahun terakhir kuliah, tahun di mana begitu banyak biaya yg harus dikeluarkan untuk spp, skripsi, sidang, wisuda, dsb. Puji Tuhan, keinginan saya tersebut dapat terkabulkan. Dengan gabung di konsultan tambang di jogja dan ngajar bhsa inggrs, biaya2 tsb dapat tercover sehingga saya tidak perlu merepotkan kedua ortu lagi.
Keadaan saya sendiri saat ini belum sepenuhnya settle, saya masih belum mampu mengirimkan uang secara periodik kepada ortu. Tapi secara jujur, saya sangat bersyukur akan keadaan yg saya hadapi. Kok jatuhnya keadaan ekonomi keluarga disyukurin?? Saya kira tergantung perspektif kita memandangnya. Jika kita tetap larut sedih, kita hanya menambah duka dan menjudge Tuhan yg tidak2. Tapi jika dipandang dari perspektif lainnya maka kita akan menjadi sangat bersyukur.
Jikalau keadaan ortu masih mapan, kemungkinan besar saya akan tumbuh menjadi anak muda yg manja, yang dengan mudahnya meminta apapun pasti dikabulkan. Entah seperti apa saya sekarang, drugs user, suka dunia malam?? Mbohlah kagak ngerti.

Dari sisi duka, berbalik menjadi suka. Mungkin sudah rencana Tuhan membentuk saya seperti ini, layaknya sebuah bejana yg semakin keras dalam prosesnya ditimpa nantinya bisa menjadi lebih bernilai.

Satu hal yg pasti dalam hidup saya bahwa hidup ini jangan dibawa sedih. Tetap berusaha bersyukur dan bahagia dalam kondisi apapun karena hidup merupakan proses..

Kok hidup ini harus tetap bahagia ya????
Ya karena sudah terlalu banyak masalah yg kita hadapi.
Jika tetap bersedih, wah betapa beratnya beban di pundak ini.
So, tetap bersyukur dan be happy…….
Dedicated to my mom and dad.
Love you so much……………

2 Comments leave one →
  1. Aria permalink
    June 30, 2016 10:38 am

    Nice, just landed in a great website. inspiring, may god always bless you..

    • July 12, 2016 10:02 am

      Terima kasih sudah mampir, lama sekali saya tidak berkunjung ke blog ini. GBU too

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: