Skip to content

Semangat….!!!!

March 20, 2008

Beberapa hari lalu saya berbicara dengan seorang carrier woman (cantik lagi), dan dia mengeluhkan akan segala permasalahan yang dia temukan dalam pekerjaannya dan berkata bahwa sepertinya dia tidak kuat lagi.

Secara jujur ketika ingin memberi masukan saya sendiri tidak tahu apa saran yang terbaik untuk beliau karena memang pada situasi seperti itu kata-kata yang dikeluarkan harus benar-benar tepat dan tidak menyinggung ( The right words in the right time )

Namun saya teringat sebuah kenangan yang menjadi nightmare bagi sebagian orang yang saya ceritakan, tapi dapat menjadi bahan pelajaran bagi saya ke depan.

Setahun lalu saya bekerja di sebuah perusahaan batubara berlokasi di sebuah daerah di sumatra dengan kontrak selama 2 bulann (lumayan nambah duit buat biaya skripsi pada saat itu).

Pada awalnya semua berjalan baik sampai suatu moment yg membuat saya tidak tahan dan ingin memutuskan quit from my job.

Klo boleh mengeluh dengan fasilitas yg ditawarkan mungkin terlalu banyak yang dapat ditulis.
Hanya sebagai gambaran, saya bekerja mulai pkl. 08.00-17.00 di tambang. Tapi pada implementasinya perjalanan yang dibutuhkan dari kos sampai tambang +/- 2 jam (1,5 jam perjalanan tanah yang cukup parah). Otomatis bangun wajib pkl. 05.30, mandi, pkl. 06.00 klakson mobil jemputan sudah memekkan telinga.

Dengan sedikat berjoged ria selama perjalanan (padahal ud pake mobil 4WD), sampai juga di tambang. Cukup dilema memang, perut ud kosong, sarapan ga ada, fasilitas tambang pun tidak ada sama sekali. No safety equipment at all (no helmet, masker, vest, shoes, and glasses) , no water truck (dust everywhere), no mine plan, and many more.
Dalam posisi sebagai pit supervisor, otomatis pulang dari tambang lebih mundur sekitar pukul 18.30-19.00. Jadilah pulang sampai kos sekitar pkl. 21.00. Ngojek, cari makan malam, trus pulang ke kos.

Sampailah di kos skitar pkl. 21.30 dan mendapati bak kamar mandi kering. Waduh, sudah menjadi kebiasaan klo ibu kos harus diteriakin dulu baru jalanin air. Alamat buruk, di waktu malam seperti itu beliau pasti sudah tidur, diteriakin apapun pasti ga akan ada balasan.

Jadilah dilema, mau pake baju yang sama untuk tidur, baju ud penuh lumpur, buka baju juga dilema karena sprei tempat tidur pun ud sangat kotor padahal panas banget di kamar tanpa kipas angin.

No loundry di kota itu. Wah jadilah sering memakai baju yg sama. Mau tidak mau roster kerja 7-0 (no holiday) jadi tidak sempat mencuci kecuali undrwear xl ku (he.2). No entertainment at all. Sangat kangen yang namanya nonton TV. Satu2nya hiburan hanyalah koran kompas terbitan hari sebelumnya.

Pengalaman menarik ketika sepakbola piala asia, sepulang dari tambang saya masuk ke hotel berpura-pura dan bergaya seperti tamu hotel dengan menyapa petugas di sana, kemudian nonton TV di ruang Loby tamu hotel bareng2 tamu hotel lain yg nginap disana, agak gugup sih tapi kan mereka juga ga mungkin ngusir…..

Di minggu ketiga masalah makin banyak, dan kompleks. Tuntutan produksi, sakit yang kudera akibat debu terlalu banyak di tambang, ketiadaan hiburan,, ditambah info dari temanku bahwa dosen pembimbingku mengancam tidak akan menjadi pembimbingku lagi karena saya pergi tanpa ijin (jika sampai terjadi maka saya harus mengulang ambil data skripsi lagi dan akan memakan waktu yang panjang) menambah keruwetan masalah
.
Waduh, di tengah masalah seperti ini ada perasaan untuk quit dari job. Saya secara jujur sudah tidak mampu untuk melanjutkan tugas.

Tapi tiba2 hati ini memacu diri saya untuk tidak menyerah. Jika saya menyerah dan berhenti pada saat itu, berarti standar hidup saya hanya sampai di situ. Saya tidak mungkin mampu menahan tekanan kerja yg lebih lagi.
Sampai akhirnya saya memutuskan untuk tetap lanjut, no give up, keep moving.
Saya berusaha enhance standar hidup untuk mampu menghadapi masalah2 tersebut dan tidak give up.

Praise God, saya lambat laun mulai dapat beradaptasi dgn pola kerja dan makin settle.

Saya percaya jika saya quit pd saat itu mungkin hanya di situ kemampuanku. Can’t be forced anymore.

Saya hanya katakan pada cwe cantik ini, mungkin dia harus upgrade standar hidupnya lebih lagi. Ketika dia tidak mampu menghadapi masalahnya pda saat ini, kemungkinan ketika dia naik jabatan dengan tingkat stress yg lebih tinggi, dia akan sulit menghadapinya.

Satu hal yang saya pelajari bahwa satu-satunya kunci penyelesaian masalah hanya pada diri saya sendiri. Bagaimana saya harus dapat mengalahkan emosi, dan juga rasa ingin mengeluh dengan situasi.

Kebahagiaan akhirnya bisa saya dapat karena saya memutuskan untuk bahagia dan berkompromi dengan lingkungan.

Sungguh suatu pelajaran berharga bekerja, outstanding & unforgettable experience.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: