Skip to content

Investasi Otak

July 16, 2016

Tiba-tiba istri mengutarakan keinginannya untuk mengikuti sebuah kursus cooking class dan meminta saran saya.

‌Tentu saja saya sangat mendukung, dan dengan tegas berkata, “de, apapun yang terkait dengan investasi otak, seberapapun jangan dipikir. Kalau perlu bilamana ada asset yg bisa dilego demi investasi otak akan kita lakukan..!”

‌Prinsip dasar saya, investasi otak akan menghasilkan investasi aset berkali kali lipat. 

‌Si istri yg selalu sy panggil ade itu kemudian dengan semangat mencari lokasi kursus yg dekat rumah seputaran BSD.

‌ Ah, semoga dia tidak datang dengan penuh sukacita dan berkata, “yank, ini ada kursus dengan biaya sekian puluh juta”.

Dengan penuh sukacita dan mata berkaca-kaca akan saya sambut dengan kata-kata, “de, mari kita investasi otot saja dulu”…

GIR, RA MINGGIR TABRAK..!!

July 15, 2016

 

Dalam sebuah pertemuan sederhana di kantor, seorang GM sebuah perusahaan dengan tegas berkata, “gir ra minggir tabrak..!“. Sebuah pernyataan yang mengutip penggalan lagu dari seorang rapper asal Klaten “Kill The DJ”. Ungkapan ini menurut saya menunjukkan sebuah sikap yang penuh adrenalin, berapi-api, dan menjadi respon atas keterdesakan untuk menantang arus orang-orang yang statis, lambat, dan anti perubahan.

 

“Perubahan”, hal ini yang menjadi momok banyak orang saat ini. Pada dasarnya banyak individu yang sebenarnya senang dengan yang namanya pekerjaan “statis”. Beberapa pendapat yang sering mengemuka, “ Ya, dengan gelar S1 dan posisi nyaman, ngapain sih harus cape cape dengan upgrade pengetahuan lebih, ngabisin waktu saja..!”,  “Saya sudah jadi pegawai, sudah nyaman, ngapain sih bersusah-susah punya usaha, wong saat ini sudah nyaman..!! Nyaman, nyaman, dan nyaman, hal inilah yang menjadi alasan utama kenapa orang tidak mau berubah ataupun minimal mengikuti arus perubahan.

 

Salah satu perubahan yang ingin saya bahas dan mungkin akan terjadi dalam waktu dekat adalah paradigma sumber energi. Saat ini mayoritas sumber energi masih mengandalkan minyak, gas dan batubara. Salah seorang pengusaha besar Indonesia pernah berujar, “kita harus tetap fokus pada lini bisnis batubara, karena mau harganya naik ataupun turun, namanya energi tetap dibutuhkan…! Percayakah anda bila saya mencoba berpikir sebaliknya dengan mengambil paradigma perubahan, yakni tidak lebih 20 tahun dari sekarang, permintaan batubara, minyak, dan gas dunia akan turun sangat jauh bahkan mungkin hanya tersisa 20 % dari kapasitas saat ini. Untuk skala nasional, kemungkinan besar perusahaan-perusahaan batubara yang akan bertahan adalah mereka yang telah memiliki kontrak supply batubara jangka panjang dengan PLN sebagai representative pemerintah untuk menjalankan PLTU yang sedang dibangun saat ini.

 

Darimana sumber energi utama pengganti sumber energi saat ini? Matahari..! Apa, matahari???? Yupp, tidak pernah terbayang matahari yang nongol setiap hari menyimpan sebuah potensi energi yang unlimited. Dia tidak akan pernah habis hanya karena energinya diserap oleh manusia.

 

Perkembangan signifikan sedang terjadi pada teknologi listrik tenaga surya. Pada saat Jepang mulai mengembangkan potensi energy ini pada tahun 1974, harganya berkisar 20.000 yen per watt peak (Wp). Tahun 1985, harga turun menjadi 1.000 yen per Wp, dan dengan kemajuan pesat dalam riset dan pengembangan teknologi, harga per Wp turun lagi saat ini mencapai 140 yen. Harga ini masih lebih mahal dari harga listrik konvensional sebesar 100 yen per Wp, tetapi mulai tahun 2020 harga pembangkitan listrik sel surya ini sudah bisa lebih murah 50 persen dari listrik konvensional. (sumber : http://www.alpensteel.com/article/115-102-energi-matahari–surya–solar/2119–masa-depan-listrik-tenaga-surya-di-indonesia).

 

Hal ini semakin dibuktikan dalam proses lelang dimana produsen tenaga surya berani untuk melakukan bidding harga listrik di bawah produsen listrik bersumber batubara. Sebuah pengembang di Arab Saudi melakukan bidding untuk tender pembangunan 800 MW proyek PLTS untuk The Dubai Electricity & Water Authority, dengan harga jual 2,99 cent per kWh atau setara Rp. 397,77.

Harga jual ini lebih rendah dari fasilitas pembangkit batubara yang akan dikomisioning di Dubai pada bulan Oktober ini. Fasilitas pembangkit batubara ini akan mulai beroperasi pada 2020, dan diharapkan dapat memproduksi daya dengan dengan harga jual 4,05 cents per kWh atau setara Rp. 539.06 selama 25 tahun (sumber : https://janaloka.com/sekarang-harga-listrik-tenaga-surya-lebih-rendah-dari-listrik-batubara/). Bandingkan dengan Indonesia sendiri dimana pengenaan tarif listrik masih cukup tinggi dimana harga periode Juli 2016 sebesar Rp. 1.412/Kwh (sumber : http://www.pln.co.id/wp-content/uploads/2016/07/07_TA.png).

 

Perubahan ini tentu saja akan memukul industri energi yang bersumber dari batubara, listrik, ataupun gas. Kecuali produsen energi ini dapat menekan operating cost seminimal mungkin hingga secara komersial harganya bisa kompetitif.

Sebagai contoh lain, dalam beberapa tahun ke depan, mobil listrik akan menjadi primadona menggantikan mobil konvensional saat ini. Darimana sumber energinya? Tentu saja yang termurah, dan pastinya bukan lagi bensin/solar.

 

Apa dampak multiply effectnya? Industri-industri support seperti penyedia alat berat, spare part, rental, bahkan industry “karaoke” sekalipun di dekat lokasi tambang akan mati suri. Kota-kota yang dibangun dengan hanya mengandalkan APBD dari sumber daya alam lambat laun akan ditinggalkan oleh penduduknya.

 

Apa solusinya? Transformasi..!

Segera melakukan transformasi perubahan mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Perubahan ini dapat dilakukan oleh individu, korporasi, atau bahkan pemerintah itu sendiri. Individu yang bekerja di bidang-bidang yang akan bersinggungan dengan teknologi, harus segera memikirikan way out untuk masa depannya. Korporasi harus melakukan inovasi jika tidak mau tergilas oleh korporasi lain. Pemerintah harus memberikan insentif dan terobosan dalam regulasi.

 

Ya, semua stakeholders harus segera melakukan inovasi, inovasi, dan inovasi. Jika tetap berada pada zona nyamannya saat ini, tetap berdiri di tengah jalan tol dimana kecepatan kendaraan sulit direm, tetap menjadi statis dan tidak mau berubah, maka sepertinya angin perubahan itu akan datang dan berkata, “GIR RA MINGGIR TABRAK..!!”

 

Tulisan 1 Juni 2016

July 12, 2016

Sudah sering kali si istri yg baik hati dan imut nya ampun-ampunan itu bertanya “itu fb, path, instagram, dll kapan diupdate lagi??? Mending ga usah sy buatin path dn instagramnya,..! Hhehe, sy sering trtawa geli mndngar semprotannya. Selalu lucu klo dia mulai membuka mata nya lebar2 smbil tangan di pinggang, hahaha…, how cute actually..😂
Rasanya sudah lama sekali memang keinginan menulis, serta melampiaskan pikiran dalam goresan ketikan (tinta tidak jaman lagi) mulai digalakkan kembali. Pemikiran dalam hal konsep apapun baik bisnis, religi, tatanan sosial, bahkan hal remeh temeh selalu menarik untuk diangkat.
Ah, rasanya hari kebangkitan pancasila kali ini harus jadi hari kbangkitan smngat menulis.. Bukan sebaliknya, mnjadi smngat hari libur….(sambil melirik kalender hari apa gerangan 1 juni tahun depan….)

Reksadana Saham Vs Deposito

September 19, 2013

Saya tiba-tiba dihubungi oleh seorang rekan yang complain akan hasil investasi reksadana saham yang baru diikuti olehnya dalam satu bulan ini. “Kok saya masukkin Rp.500.000,- kena potong biaya Rp.10.000,- sedangkan pendapatan hanya Rp.3.000,-, rugi dong saya..!! Biaya apa sih yang Rp.10.000,- itu??” kata rekan dengan berapi-api.

Sedikit flashback, awal mulanya rekan yang baik hati ini, sebut saja si A, selalu hanya memasukkan dananya di deposito, dan secara kontinyu memanfaatkan dana hasil bunga sebagai pendapatan tambahan. Selalu bermain aman, tidak mau mengambil resiko. Entahlah, bagi saya keuangan beliau terlalu liquid, dan akan lebih baik bila dimasukkan ke dalam instrumen investasi lain. Pada dasarnya keuntungan yang diperoleh dari deposito masih kalah dengan inflasi..!

ImageSaya sarankan untuk berinvestasi di tempat-tempat lain dengan nilai resiko tinggi namun menghasilkan potensi return yang lebih baik dibandingkan deposito. Dalam hal ini adalah reksadana saham, mengingat tingkat urgensi si A bersifat long term, artinya belum membutuhkan dana besar dalam waktu dekat, dan masih berusia muda (dalam tulisan ini saya tidak akan membahas pengertian reksadana dan jenis-jenis reksadana karena sudah banyak di website, tinggal digoogling saja).

Dua tahun lebih rasanya saya berdiskusi sekedar mencoba berbagi sudut pandang berbeda. Memang tidak mudah bagi seseorang yang pada dasarnya memiliki karakter “bermain aman” untuk diperhadapkan dengan sebuah tantangan yang namanya “resiko”. Apapun itu, resiko selalu inline dengan return.

Singkat cerita, akhirnya si A  memutuskan untuk ikut reksadana saham dengan menghubungi customer service di sebuah bank plat merah. Biar tidak mau mengambil resiko terlalu dalam, dana dimulai dengan Rp.500.000,- dan dibuat sistem dollar averaging, artinya dibayar secara periodik tiap bulan. 

Untuk menjawab pertanyaan si A, saya mencoba menjelaskan sebagai berikut :

  1. Return reksadana saham sangat fluktuatif, terkadang bisa minus 50% dalam setahun, namun di tahun depan bisa positif 100%. Bila ditarik secara annual, sekitar 20%/tahun.
  2. Biaya Rp.10.000,- yang dikenakan merupakan biaya subcription fee, melihat angkanya, berarti dikenakan 2%, dan akan dikenakan lagi 0.5-2% biaya penjualan (redemption fee) tergantung manajer investasinya.
  3. Rugi dong saya??? Hmmm, untung rugi nya sebuah investasi tentu saja tidak boleh didasarkan perasaan, tapi berdasarkan perhitungan numerik. Dalam hal ini saya mencoba membuat hitungan simpel, mungkin kurang presisi angkanya, tapi sedikit memberikan referensi.

Katakan sebulan diinvestasikan Rp.500.000,- dalam setahun berarti Rp.6.000.000,- (Untuk memudahkan saya menggunakan angka Rp.6.000.000,-/year tanpa memperhitungkan nilai compound/bunga majemuk dari Rp. 500.000,-/bulan).

Asumsi Deposito

Return : 5%/year = 5% x 6.000.000,- = Rp.300.000,-

Biaya : Pajak bunga 20% = 20% x Rp.300.000,- = Rp.60.000,-

Net income = Rp. 240.000,-

Asumsi Reksadana Saham

Return : 20%/year (asumsi berdasarkan historical data) = 20% x 6.000.000,- = Rp. 1.200.000,-

Biaya :   Subcription fee 2%  = 2% x 6.000.000,- = Rp. 120.000,-

                Redemption fee 1% = 1% x 7.200.000,- = Rp.   72.000,-

Total Biaya = Rp.192.000,- , untuk memudahkan dihitung Rp.200.000,-

Net income = Rp. 1.000.000,-

Selisih antara reksadana saham dan deposito adalah 1.000.000 – 240.000 =Rp.760.000,-

Perhitungan ini baru memasukkan asumsi Rp.6.000.000,- dalam setahun. Bila angka yang dimasukkan lebih besar tentu deviasinya akan semakin terlihat jelas. Dan bila memperhitungkan bunga majemuk (bunga berbunga) setiap tahunnya maka tentu saja perbedaannya akan sangat terlihat signifikan.

Image

Setelah mendengar penjelasan saya, si A kemudian kembali tersenyum, dan saya pun hanya bisa berkata “kalau rugi mungkin orang akan cepat menyalahkan, kalau untung, ya bagusss”, hehe……

(Tidak pernah berharap ada reward apapun karena sekali lagi prinsip hidup ini “Melayani..!”)

Selamat berinvestasi…!!

Investasikan uang anda….!!!!

March 11, 2013
Ilustrasi Jumlah Tabungan (asumsi tanpa bunga dan potongan)

Tulisan kali ini terinspirasi dari seorang rekan yang bercerita tentang kondisi keuangan beliau yang stuck. “Kok duitku dari dulu hanya sekian ya di tabungan, ga nambah-nambah, padahal gajian jalan terus”, kata seorang rekan yang baik hati dan tidak sombong itu. Mmmhhh, jadi terinspirasi untuk nulis.

Saya ingin sedikit share tentang sebuah fakta yang terjadi. Teman saya (yang mengeluarkan statement di atas) memiliki penghasilan 5 juta lebih tinggi dari teman saya yang lain. Namun, secara nilai asset, teman dengan gaji lebih rendah memiliki value lebih tinggi darinya. Kok bisa?

Singkat cerita, teman yang memiliki gaji lebih rendah ini membeli sebuah unit rumah dengan cara kredit. Baru 2 tahun berjalan, unit rumah dia saat ini secara nilai market sudah naik 100% dari harga sebelumnya.  Wowww…, what a great investment…!!

Di lain pihak, rekan yang memiliki penghasilan bulanan lebih tinggi itu hanya memasukkan dananya ke deposito, which is only 4.5% per year for return…!!! Hasilnya adalah kalah telak dalam total asset value..!!

Ilustrasi di bawah ini adalah contoh dari 2 orang rekan, sebut saja Yanto dan Ema. Katakan Yanto memiliki penghasilan bersih sekitar Rp. 10.000.000,- dan Ema sekitar Rp.15.000.000,-. Setiap tahun diasumsikan kedua orang ini mengalami kenaikan gaji yang sama, yaitu 10% dari net salary dan memasukkan sejumlah 30% dari net salary sebagai tabungan.

Ilustrasi Jumlah Tabungan (asumsi tanpa bunga dan potongan)

Ilustrasi Jumlah Tabungan (asumsi tanpa bunga dan potongan)

Terlihat bahwa di akhir tahun ke-10, tabungan dari Ema akan lebih banyak Rp. 333,561,007,- dari Yanto.

Namun, fakta sebenarnya tidak demikian. Ilustrasi di bawah ini mungkin bisa menjawab perbedaan itu :

Ilustrasi Hasil Investasi (Asumsi Yanto = 20%, Ema = 4.5%)

Ilustrasi Hasil Investasi (Asumsi Yanto = 20%, Ema = 4.5%)

Terlihat jelas bahwa Yanto akan unggul jauh dibandingkan Ema. Diawali mulai dari tahun ke-6, dan akan semakin meningkat di tahun-tahun selanjutnya, walaupun net salary  Ema sebenarnya meningkat lebih tinggi dari Yanto.

Pada dasarnya Yanto adalah seorang yang memiliki jiwa risk taker lebih. Dia berani untuk memasukkan dananya pada instrument investasi yang lebih menarik, walaupun resiko akan sedikit lebih tinggi. Ilustrasi di atas dibuat dengan perkiraan hasil investasi Yanto average ≥ 20%.

Sedangkan si Ema bukanlah seorang risk taker. Dia hanya meletakkan sejumlah dananya pada instrument deposito, sehingga return yang didapat hanya 4.5% per tahun. Pada tahun ke-10, Yanto mampu menghasilkan net margin sebesar Rp. 980,586,106 sebagai hasil investasinya, sedangkan Ema hanya mampu mencetak net margin Rp. 207,212,209.

Jadi, sebagai penutup, jangan pernah takut jika net salary anda lebih kecil dari orang lain. Bukan permasalahan jumlah saja, melainkan bagaimana dana yang ada diputar untuk dimaksimalkan hasilnya.

Instrument investasi apa yang memungkinkan untuk menghasilkan return lebih tinggi dari deposito akan didiskusikan pada tulisan selanjutnya.

So, INVESTASIKAN UANG ANDA…!!!

Hal Tersulit – The art of communication

February 20, 2013

Seorang rekan wanita mengeluhkan sikap suaminya yang mengolok-olok dirinya terlihat gemuk saat ini. “Memang saya gemuk saat ini, kenapa memangnya?” sebuah statement yang muncul dari dalam dirinya, wujud protes atas sikap olokan sang suami. Mmmhhhh, saya hanya tersenyum dan tertawa dalam hati melihat tingkah laku pasangan muda ini.

To be honest, dalam hidup ini ada 2 hal yang sejujurnya paling sulit saya lakukan.

Pertama adalah ketika saya harus mengumumkan proyek harus ditutup karena banyaknya faktor eksternal. Sungguh, tidak semudah mengatakan project is done, bla bla bla, tapi yang terlebih penting adalah nasib orang yang menggantungkan monthly income nya kepada perusahaan. Katakan dalam satu project, total karyawan sekitar 80 orang, artinya bila masing-masing ditambahkan istri maka jumlahnya akan berlipat menjadi minimal 160 orang. Bila masing-masing orang memiliki 2 anak, maka akan terdapat sekitar 320 orang yang menggantungkan nasibnya kepada perusahaan, belum termasuk perangkat desa, rekanan kerja/vendor, dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam proses pekerjaan yang terkena dampak dari berhentinya sebuah proyek. Sungguh, jika anda sebagai sosok yang “paling bertanggung jawab” dalam pengambilan keputusan ini, IT’S NOT EASY…!!

Hal kedua berkaitan dengan tulisan di awal, mengatakan kepada sosok wanita bahwa dia akan terlihat jauh lebih enchanting dan gorgeous bila “sedikit” pay attention terhadap dirinya, terutama bila ingin mengatakan, “sepertinya kamu kelihatan lebih gemuk”.

Jiahhhhh, tidak semudah ngomongnya. Respons yang muncul kemudian biasanya adalah “tersinggung dan cemberut kalau tidak ingin mengatakan marah”. Lha, wong lagi baik-baik saja biasanya sang wanita akan bertanya, “saya tambah gemuk ya??”, sebuah pertanyaan yang sungguh adalah sebuah jebakan. Jika anda berkata “tidak”, maka dia akan terus bertanya dan terus bertanya. Sebaliknya jika anda berkata iya, maka siap-siaplah dengan mental untuk menghadapi hari penuh cemberut, dan sakit hati.

Tapi apapun itu, saya selalu menganggap itulah bagian dari “the art of communication”. Dan mungkin seni komunikasi itu dianggap berhasil bila ujung-ujungnya win win solution dihasilkan.

Mmhhh,, haruskah??

February 7, 2013

Baru-baru ini seorang  kerabat yang masih duduk di bangku kuliah meminta saya mengirimkan sejumlah dana untuk membantu membayar listrik rumahnya yang sudah beberapa bulan belum dibayar. “Kak, minta tolong kirim uang dulu, papa kemarin habis uangnya untuk pesta orang mati”, demikian isi sms yang dikirim. Sudah beberapa kali saya dimintai sejumlah dana untuk membantu biaya kuliah saudara, namun baru kali ini alasan sebenarnya keluar, karena “pesta orang mati”.

Saya sungguh mengerti situasi dilema yang dihadapi, begitu banyak hutang yang harus diselesaikan. Di tempat orang tua sang adek tinggal, bila sebuah keluarga mengalami kedukaan, biasanya akan dilakukan pesta adat saat penguburan. Ketika menjalankan pesta adat tersebut, maka biasanya pihak keluarga lain akan membantu dengan memberikan bantuan korban ternak kerbau, babi, dsb. Sungguh sebenarnya merupakan sebuah kebersamaan yang indah. Namun satu hal yang menjadi poin kritis di sini adalah bantuan tersebut biasanya dicap sebagai “utang” sehingga ketika pihak keluarga lain mengalami kedukaan yang serupa, maka pihak keluarga yang sebelumnya dibantu, “diharapkan” memberikan bantuan yang sama. Intinya, jika sebuah keluarga dibantu oleh pihak kerabat lain sejumlah 10 ekor kerbau, maka sejumlah itu pula utang yang harus dibayar suatu saat.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat terhadap budaya, serta nilai nilai yang terkandung di dalamnya, terkadang jadi situasi yang cukup dilematis ketika berhadapan dengan situasi seperti di atas. Ah, tentu saja bila dana mencukupi tidak akan menjadi masalah. Sebesar atau semeriah apapun sebuah acara adat dapat dilakukan sesuai dengan keinginan keluarga. Namun menjadi issue ketika pesta adat tetap harus dijalankan dengan “standar” yang sama, dan “harus” menerima bantuan dari pihak keluarga lain dalam bentuk materi yang cukup besar, sehingga menjadi beban utang yang harus dibayar suatu saat.

Saya sendiri selalu bertanya, haruskah demi memegang adat istiadat, kepentingan yang lebih besar mesti dikorbankan? Sejujurnya saya hanya bisa berharap dan berdoa, semoga setiap orang yang membantu dan turut serta dalam acara pesta adat, diberkati dengan rejeki yang jauh berlimpah, sehingga kepentingan keluarga yang jauh lebih besar, layaknya pendidikan anak tetap dapat terakomodir. Amenn..

(Sebuah tulisan hasil perenungan)