Feeds:
Posts
Comments

Miris (2)…….

Beberapa hari lalu di bandara sepulangnya dari Balikpapan, saya dengan segera menuju antrian si ”burung biru”.
Entah malam itu dasar udah capek atau lg malas melihat antrian begitu banyak (saya sendiri no urut 7) dan waktu telah menunjukkan pukul 12 malam (gara2 si garuda delay 2,5 jam, parah…!!) mau saja saya balik dari bandara ke kos menggunakan armada kendaraan yang non taxi.

Seseorang datang dengan menawarkan naik avanza, harga sama dengan taxi argo, 150rb sampai di mampang. Melihat si sopir yang pendek dan sedikit gemuk sama sekali tidak membuat saya takut bila mana dia seorang kriminal.
Yang membuat sedikit khawatir adalah si sopir membawa seseorang yang dia akui sebagai adiknya dan duduk persis di kursi tengah.
Unprofessional….!!! Komentarku dalam hati. Masa angkut penumpang pakai acara ngikutin adik segala…!!

”Maaf bos, ini adik saya lagi libur kerja jadi ikut abangnya, pengen lihat kerja abangnya”, kata si sopir. Dengan sedikit was-was dalam perjalanan menuju ke kos kuperhatikan wajah orang di belakangku ini. Memang mirip dengan si sopir. Pelan tapi pasti kecurigaanku mulai hilang terutama ketika pembicaran mulai hangat dengan beberapa perbincangan singkat.

”Kerja di mana adiknya??”, Pertanyaan pertamaku ke pak sopir..
”Kerja di mana kamu meng??”, Tanya si sopir pada adiknya.
”Oh saya kerja di Perusahaan tekstil, bagian inspeksi air” jawab adik si sopir tersebut.

Mulailah perbincangan mengalir sehingga perjalanan menjadi tidak terasa jauh….
Saya : Pendidikan terakhir di mana??
Meng (adik si sopir, ga ngerti nama aslinya) : saya lulusan SMK bagian otomotif
Saya : Trus kerja di pabrik, 2-3 jt dapat ga sebulan??
Meng : Wah mana ada pak, itu level manager kali…., saya mah hanya UMR.
Kemarin masuk saja harus bayar 700rb ke orang dalam, padahal kontrak cuman 3 bulan. Yah mungkin klo bagus bisa diperpanjang.
Saya : Lo, kok mau bayar orang dalam dengan gaji segitu??
Meng : Yah mau bagaimana lagi pak, yang penting bisa kerja.

Sejujurnya dalam hati langsung kumaki,” f**k, s**t,….”. Entah berapa banyak makian yang kulontarkan. Kenapa bangsa ini melihat sesamanya susah masih harus dipersulit dengan meminta uang pelicin untuk masuk kerja. Bayangkan saja jika hanya standar UMR, berarti gaji dia hanya ±1 jt. Jika harus dikurangi 700 rb di bulan awal maka dia hanya terima gaji pertama bersih Rp. 300rb. S***t, mau makan apa dengan segitu di Jakarta, belum transport, dll (untungnya dia masih tinggal bersama dengan ortu). Belum kontrak dia hanya 3 bulan. Di tengah krisis global, kemungkinan PHK sangat besar mengingat permintaan akan barang tekstil menurun drastis.

Fiuuhh, entah berapa orang di negeri ini yang berteriak anti korupsi dan premanisme, tapi mereka sendiri seperti preman yang beroperasi di kantor, bukan di pasar maupun terminal. Tak perlu menggunakan pisau, ataupun pistol. Lebih gagah, bergaya eksekutif muda, tapi yah kelakuan pada intinya sama dengan preman.

Miris memang, tapi apa mau dikata, hampir di semua institusi, baik pemerintah (TNI, POLRI, PNS) maupun swasta kasus seperti ini kerap terjadi.
Oknum ataukah sudah menjadi culture?? Ga jelas, yang pasti ujung-ujungnya pihak yang dikenakan hal seperti ini ketika dia menjadi pimpinan akan melakukan hal yang sama, demi mengembalikan modal dalam arti singkatnya.

Yah, jadi culture deh……., Salam super..!!

Berat bener (2)

He….2….., akhirnya sesuai dgn komitmen, di awal maret ini berat badan turun juga dari 77 ke 72 (padahal targetnya 73), mantap…!!!

Kok bisa dus??

Cara termudah adalah rajin olahraga dan kurangi makan, that’s it…!! Next target 69 kg di awal april. Sejujurnya rencana awal 67 kg, mumpung saya beberapa hari ini makan terlalu banyak (kepiting kenari penyebabnya), jadilah agak pesimistis.

Tapi tetap sesuai moto, semangat…!!!

Beberapa hari terakhir ini saya mengalami masalah yang cukup melelahkan, harus menyelesaikan masalah accident yang terjadi di lapangan dengan pihak kepolisian dan pihak masyarakat. Penyelesaian yang akhirnya dapat diselesaikan selama beberapa hari secara baik-baik, dan resolusi win-win solution pun dihasilkan. Tapi sungguh, kalau harus 2-3 kali berurusan dengan hal ini lemas juga, melelahkan untuk melobi kedua pihak di atas.

Dalam dunia pertambangan, apapun yang kita lakukan bila benar adanya tetap akan menjadi salah bila berurusan dengan pihak masyarakat.

Tanya kenapa???

Masyarakat sosial lingkungan tambang merupakan salah satu elemen terpenting dalam suatu tata kelola good corporate governance yang berkaitan dengan community development. Percayalah, kunci lancarnya proses penambangan sangat berkaitan erat dengan approval dari pihak masyarakat lingkungan sekitar tambang. Mereka merupakan ujung tombak jalannya produksi. Ketika elemen ini bermasalah, maka dampak bahaya yang muncul bisa beraneka ragam, the worst scenario nya adalah unjuk rasa yang meminta penghentian proses penambangan sehingga sangat menghambat produksi, bahkan permintaan untuk “angkat kaki” dari daerah mereka.

Solusinya bro….??

Nah ini seharusnya dijawab oleh bagian community development, suatu bagian di dalam tubuh perusahaan pertambangan yang berurusan dengan masyarakat langsung. Tapi kalau boleh sekedar menambahkan, intinya adalah jangan menjadi perusahaan yang terlalu “profit oriented” sehingga mengesampingkan sisi pengembangan masyarakat. Bukannya untung yang didapat, malah jadi buntung karena demo masyarakat.

Beberapa aspek yang juga tidak boleh dilepaskan antara lain :

- Aparat desa, pemerintahan maupun keamanan harus dipastikan mendukung iklim investasi perusahaan .

- Hire sebanyak mungkin masyarakat lokal sehingga mereka juga merasa menjadi bagian dari perusahaan tersebut.

- Melakukan program-program pemberdayaan masyarakat (pelatihan SDM, pembangunan sarana dan prasarana desa, dll).

Ketika hal-hal tersebut telah dilakukan, tinggal masalah teknis yang harus dipikirkan. Nah yang susahnya kalau kedua hal tersebut harus dipikirkan juga, jadilah puyeng, he…

Terkadang lucu juga mendengar keluhan masyarakat. Permintaannya aneh-aneh dan sering menjebak perusahaan. Banyak oknum yang menggunakan paham UUD yaitu untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (meskipun perusahaan buntung). Nah ini dia yang bikin mumet, harus lebih ekstra lagi berhadapan dengan sosial masyarakat seperti ini, apalagi jika hal ini sudah membudaya.

Yah memang dinamika masyarakat tambang, kalau lagi beruntung ketemu dengan masyarakat yang welcome dengan perusahaan, segala sesuatunya menjadi sangat menyenangkan ke depannya. Sebaliknya jika ketemu dengan masyarakat yang mau benefit terus bahkan kalau perlu dengan kekerasan, fiuuuhhh, satu saran saya, SEMANGAT…!!!!!

Jodoh, who decides???

Topik kali ini sepertinya agak berat dan cukup kontrovesial. Di tangan siapakah keputusan akan jodoh?? Tuhan atau kita sendiri???

Banyak kalangan menggunakan statement seperti ini, “yah mungkin belum dikasih Tuhan, jadi belum dapat sampai sekarang”. Saya tidak akan menyalahkan statement seperti ini karena toh itu mungkin saja benar adanya. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa mayoritas orang berpendapat bahwa jodoh adalah di tangan Tuhan.

Ijinkanlah saya untuk beropini sedikit kontroversial bahwa jodoh adalah di tangan manusia, bukan di tangan Tuhan. Kok bisa???? Menurut saya Tuhan tidak pernah memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu yang merupakan optional bagi kita. Dia hanya akan menunjukkan siapa pendamping yang terbaik bagi manusia, dan terserah kepada manusianya itu sendiri untuk memilih. Layaknya seseorang ditakdirkan untuk menjadi seorang kaya raya, tapi karena dia malas-malasan, jadilah dia tetap berada di tempat duduknya. Ditemani kopi hitam, membaca koran halaman lowongan kerja sambil menggeleng-gelengkan kepala dan membayangkan betapa beratnya menjadi seorang pegawai rendahan dengan gaji kecil. Bukankah untuk menjadi seseorang yang besar, dia harus menyelesaikan perkara-perkara kecil dulu???? Karena tidak melakukan action apapun jadilah orang tersebut stand by sebagai orang tak berpunya.

Masih teringatkah rekan-rekan akan sebuah cerita seseorang yang masuk ke hutan..?? Orang tersebut diminta untuk masuk ke hutan dan berhenti di salah satu titik tempat dia merasa cukup dengan syarat tidak boleh berbalik ke titik sebelumnya. Di sepanjang jalan dia tidak pernah merasa cukup dan terus berjalan. Sudah beberapa titik dilewati, titik-titik lokasi yang dipenuhi dengan emas berlian dan harta yang begitu melimpah. Namun dia tetap yakin bahwa di depan pasti akan ada yang lebih lagi sampai pada akhirnya dia tersadar sudah berada di depan jurang dan tidak mungkin kembali lagi ke tempat sebelumnya. Penyesalankah yang datang??? Sudah tentu, tapi apa mau dikata keputusan sudah diambil, keputusan untuk tidak memilih satu titik lokasi di mana dia merasa sudah dicukupkan.

Begitupun dengan jodoh. Ketika seorang wanita memutuskan untuk menerima seorang pria dengan mengatakan “Yes, I do”, di saat itu dia memutuskan dengan segenap hatinya bahwa pria itu adalah “the right man” yang akan mendampingi dia seumur hidupnya. Dia tidak akan melihat sosok laki-laki yang lebih baik dari suaminya tersebut.

Banyak orang yang memilih pasangannya hanya berdasarkan penampilan ataupun materinya. Jadi jika seseorang penampilan dan materinya pas-pasan, pastilah orang tersebut bukan jodohnya. Fiiuuhh, kalau semua orang seperti itu berarti orang dusun yang satu ini belum masuk kriteria donk. Apakah pemikiran banyak kalangan tersebut sama dengan pemikiran Tuhan?? Mbohlah, only God knows….

Trust me kawan, siapapun pria ataupun wanita pendamping hidup merupakan hasil dari keputusan kita sendiri, so don’t blame anyone then, apalagi Tuhan. Terkadang saya berpikir ketika seseorang mulai menyalahkan Tuhan, Beliau mungkin akan berkata, “Saya sudah menyediakan yang terbaik untukmu, kenapa kamu tolak pilihan tersebut????”.

Berarti ngasal aj nih dus milihnya yang penting ada??

Ga juga donk, mungkin singkatnya, choose the best, but not the perfect one (no body’s perfect)……

Busyet dus, topik lo berat juga???

He…, sesekali kan ga apa-apa buat sesuatu yang agak berat, wong orangnya saja berat…..,

Just my opinion kawan, what do you think??

Merauke…(2)

Memang berbicara tentang merauke sangat menyenangkan. Di kota inilah saya lahir dan menghabiskan waktu selama18 tahun . Kota kecil yang sebelum dipecah menjadi beberapa kabupaten memiliki luas sama dengan pulau Jawa.

Kok bisa dikatakan kota kecil?? Inilah hasil dari sebuah rezim yang sangat menjunjung tinggi sentralisasi. Sebuah sistem yang membuat ibukota dan sekitarnya semakin maju, sebaliknya daerah-daerah semakin terpinggirkan. Perkembangan Merauke pun sampai sebelum tahun 2002 (dimulainya otonomi daerah) sangat lambat.

Hal terpenting dari Merauke adalah toleransinya yang luar biasa. Tiupan angin yang membawa gelombang suara adzan dari mesjid, maupun bunyi lonceng gereja saling bersahut-sahutan tidak menjadi suatu masalah, ataupun sebagai pengganggu satu dengan yang lain. Belum pernah saya alami di P. Jawa ketika Idul Fitri dan Natal orang-orang berduyun-duyun bertamu ke tempat kerabat yang merayakan. Kekeluargaan sangat terasa. Tampaknya setiap orang tanpa mengenal agama dan latar belakang merayakan hari-hari keagamaan tersebut. Sungguh teman, di kota inilah saya merasakan setiap orang dapat saling menghormati perbedaan-perbedaan yang ada. Isu Papua Merdeka pun yang sempat didengung-dengungkan lambat laun mulai lenyap.

Beberapa kalangan sebenarnya masih takut untuk ke Merauke atau Papua secara keseluruhan dengan beberapa alasan :

- Orang Papua masih suka makan manusia (kanibal)

Oh come on…… Emangnya ini tahun 1900 an??? Kasus terakhir yang saya dengar terjadi di tahun 1960 an, dan itupun terjadi jauh di pedalaman sana. Sekarang mayoritas malah sudah bermigrasi dari sagu ke nasi. Mungkin malah kasus kanibal yang ada cuma di Jawa dengan munculnya kasus Sumanto.

- Masih ada harimaunya……..

?????? This is the biggest question for meAstonishing….!!!

Harimau tidak pernah hidup di daerah ini, bahkan menginjak tanah papua saja tidak pernah, bagaimana orang masih takut dengan harimau????

- Kehidupannya keras di sana….

Yah saya kira hidup adalah perjuangan, perjuangan untuk meraih apa yang dicita-citakan, jadi kalau hanya santai dan stay cool sulit untuk majunya. Menurut saya dibanding Papua jauh lebih keras kehidupan di Jakarta. Papua masih menawarkan keramah-tamahan penduduk dan saling menghargai satu sama lain, suatu tatanan yang sulit ditemukan di Jakarta.

Keluarga-keluarga baru biasanya mengkhawatirkan kualitas pendidikan di papua masih kurang memadai, sehingga beberapa menolak ketika dimutasi ke Papua. Hal ini kuakui juga bahwa kualitas pendidikan jika dibandingkan dengan kota-kota besar tentu ketinggalan. Saya sendiri tahun 2005 pernah mengunjungi smp tempat saya bersekolah dulu. Pada sebuah sesi perkenalan dalam sebuah kelas, satu pertanyaan simple yang saya berikan kepada siswa di sana adalah apakah pernah mereka mengambil data-data dari internet untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka, dan bisa ditebak seluruh kelas hanya bisa menggelengkan kepala. Jangankan mendownload file, membuka google saja tidak pernah. Akan tetapi hal ini sudah berubah sejak terakhir saya ke sana akhir tahun 2008. Di beberapa sekolah sudah tersedia laboratorium computer dengan fasilitas internet yang cukup memadai. Fasilitas olahraganya juga cukup mumpuni. Kualitas guru pun saya kira tidak terlalu jauh dengan yang ada di Jawa, toh materinya itu-itu saja, tinggal metode pengajarannya saja yang harus diimprove terus-menerus. Output yang dihasilkan pun (alumni) tidak kalah bersaing dengan yang ada di Jawa (mungkin cuma saya saja yang masih kalah bersaing, malas sih…., he…), so there is no excuse not to study there

Walaupun hanya dua minggu berada di sana (akhir tahun 2008), saya melihat kota ini sedang berbenah. Denyut nadi berdetak di seluruh pelosok kota. Mudah-mudahan kota tercinta ini dapat mengembangkan diri menjadi sebuah kota besar yang menjadi berkat bagi penduduk yang berdiam di dalamnya,

Amin. Semoga….

Married……

Hari ini adalah ultah daddy, pagi jam 7 kutelpon beliau (jam 6 waktu Jogja).

Saya : Dad, happy b-day, panjang umur selalu…………

Daddy : (Dengan lugunya..) Siapa yang ultah????

Ternyata beliau mulai lupa akan ultahnya sendiri, dan mulai tersadar ketika saya mengatakan beliau ultah hari ini.

Daddy : Mana kuenya???? (He….. tau aj klo saya selalu bawain roti kesukaan beliau, “cheese cake”). Wah sekarang umurnya sudah habis, sudah tua.

Saya : Dad, jgn ngomong gitu donk…… Trus yang lamar calon mantu di Jogja siapa donk?? Nanti kan cucu-cucu nya daddy mau main sama kakeknya gimana???

(Sebuah jurus yang selalu kukeluarkan agar beliau menjadi lebih punya orientasi di umurnya saat ini).

Daddy : Lo, sudah punya toh sekarang, kok belum dikenalin??

Saya : He….. belum ada nih, nanti suatu saat maksudnya….

Entah kenapa hari ini topik tentang married mencuat ke permukaan. Siang ini, angin guntur dan petir bersatu mengirimkan sebuah pesan singkat di hp. Sebuah pesan dari seorang teman nun jauh di pelosok timur Indonesia.

Teman : Ktnya mau merit ya? Kok tdk blg2 ??

Saya : ???? Busyet, kbr dri mana tuh? Menikah dgn siapa bu??

Teman : Iyo, ktnya ank2, ko pny ka2k yg blg… Dasar abang sudah tebar pesona kemana2, sdh ada yg jatuh hati, eh ditinggal merit!

(Klo kata2 sdh ad yg jatuh hati jgn dipercaya…!!!!)

Saya : Emangnya ad cwe yg mau dinikahi sy non? Ah abang satu itu dipercya. Menikah belum dulu, tunggu ad rumah bru siap nikah, kasihan istri klo tinggal tdk jelas….

Entah berapa banyak yang sudah menanyakan perihal ini dan berulang-ulang kali pula saya menegaskan bahwa belum saatnya untuk menikah (wong masih 17 tahun, cek saja FS ku…..).

Menikah bagi saya bukan merupakan sebuah tujuan hidup, melainkan sebuah awal untuk mencapai tujuan sebenarnya, sebuah keputusan besar dalam hidup, sebuah keputusan yang sama sekali tidak boleh disesali…

Tidak ada dalam kamus, bahkan terbersit pun tidak akan sebuah perceraian. Marriage is a life-time decision, a never-ending love.

Trus kapan mau nikah man…?????

Kalau dilihat dari umur di FS mungkin sekitar 10 tahun lagi. Tapi kalau dilihat dari real age nya yah targetnya beberapa tahun ke depan.

Beberapa tahunnya kapan bung??????

He….., saya kan cuman mengatakan beberapa tahun, jadi kan tidak salah kalau agak lama (dasar orang dusun…….).

Sama siapa man????

Wah, let see.

Ibu saya selalu menanyakan perihal pasangan. “ Odus kasih tau saja, mama tidak akan marah kok, kalau sudah mau serius yah tidak masalah, mau lewati abang-abang yah tidak masalah juga” (padahal dalam hati kukatakan yah mama mau marah atau tidak terserah, kalau memang ada saya tetap lanjut, he…. ). Kata-kata beliau yang jika sudah dimulai akan kuusahakan mati-matian untuk berganti topik.

Percayalah teman, marriage is not that simple. Saya sendiri harus menyelesaikan beberapa short term target yang sudah saya utarakan di tulisan-tulisan sebelumnya (rumah, dsb). Setelah itu terwujud, barulah mewujudkan beberapa target yang lain (menikah, dsb).

Mumpung masih muda, prepare for the best, and choose the best one.., no regret then!!

Nama lengkapnya dr. Seno Adilukito, usia 74 tahun, dan masih aktif sebagai dokter di RS Bethesda Yogyakarta. Beliau sendiri tidak menikah tapi memiliki beberapa anak angkat. Saya sendiri anak angkatnya yang paling bungsu. Pengalaman beliau sudah tak terhitung banyaknya (iyalah 74 tahun gitu…), pernah berpangkat mayor tentara (di jamannya ada wajib militer sehingga mau tidak mau beliau harus masuk pendidikan tentara), kepala rumah sakit Freeport Timika, wakil direktur RS Bethesda Yogyakarta, dan sampai sekarang masih aktif sebagai dokter senior di sana.

Mengapa beliau yang dibahas ??????????????

Ada beberapa orang yang menjadi tokoh panutan saya, namun di antara sekian orang tersebut kesan dengan beliau sangat membekas. Beliau lah yang mengajarkan banyak hal terutama mengenai attitude dan pembentukan karakter. Perkenalan dengan daddy, panggilan akrab saya ke pak dokter, bermula lewat abang yang pada saat itu berstatus sebagai taruna akademi angkatan udara. Abang sendiri bertemu dengan daddy di sebuah gereja di Jogja. Dengan beberapa taruna lainnya mereka diajak main ke rumah beliau sehingga jadilah rumah tersebut sebagai tempat singgah beberapa taruna ketika off (biasanya sabtu dan minggu). Abang lah yang meminta ijin supaya saya dapat menginap beberapa waktu di sana sebelum mendapatkan kos dan tempat kuliah yang jelas.

Sungguh kawan, kesan pertama melihat beliau saya sungguh kagum tak habis-habisnya. Sangat ramah, so kind-hearted, murah senyum, dan sebagainya. Beliau yang menyarankan untuk mengambil jurusan pertambangan di UPN ketika saya bingung dengan pilihan jurusan dan dengan ringan tangan menyediakan rumahnya sebagai tempat tinggal bahkan hingga setahun lebih sebelum mengontrak rumah dengan beberapa teman. Sampai saat ini pun ketika cuti saya selalu tinggal di rumah beliau yang sudah seperti rumah sendiri.

daddy

daddy

Dengan beliau saya sering diajak ke tempat-tempat yang hanya bisa saya saksikan lewat TV. Maklum sebagai orang dusun (odus) yang baru pertama kali ke tanah Jawa, belum pernah terbayang seperti apa kaum moderat di Jogja hidup dengan life-style nya. Pertama kali saya diajak keluar makan yaitu ke papa rons, sebuah gerai pizza yang berlokasi di jalan magelang. Sungguh, itu pertama kalinya dalam sejarah kehidupan, seorang Odus Natan akhirnya pernah merasakan pizza. Selanjutnya ke Rumah makan China, yang bisa dipastikan melihat service yang diberikan, price dari makanan tersebut lebih dari 1 juta rupiah di tahun 2003. Entah berapa banyak lokasi-lokasi expensive dan saya kira hanya dapat dinikmati oleh kaum tertentu melihat UMR masyarakat Jogja yang cukup rendah.

Sepanjang hidup belum pernah saya bertemu dengan sosok yang sangat disiplin dan tetap punya semangat kerja yang luar biasa bahkan hingga di usia 74 tahun. Rutinitas beliau dijalankan dengan penuh semangat dan selalu punctual.

Tepat pukul 4 pagi bisa saya pastikan beliau sudah bangun kemudian membaca salah satu chapter di Alkitab. Tidak hanya sekedar membaca, beliau juga mereview, dan mencatat kesimpulan dari bacaan tersebut. Pkl. 05.30 pagi beliau keluar kamar, sarapan berupa crackers, potongan buah, dan jus buah, sambil mendengar lagu-lagu rohani dan khotbah di salah satu radio rohani terkemuka Jogja. Sungguh kawan, beliau mematahkan seluruh stigma yang sudah dibangun sejak kecil bahwa makan buah di pagi hari kurang baik karena dapat menyebabkan sakit perut. Pkl. 07.00 beliau bergegas ke kantor dan akan tepat pulang jam 2 siang, makan siang kemudian istirahat sore. Malam hari mulai menonton acara TV favorit, ini dia yang paling tidak saya suka, sinetron. Wah kalau sudah berbenturan dengan ini percayalah saya mulai masuk kamar dan memutar radio, lebih sreg di hati. Pkl. 22.00 beliau masuk kamar, kembali membaca Alkitab, mereview dan mencatat kesimpulan, sambil mendengarkan khotbah Pdt. Gilbert Lumoindong via radio. Setelah itu istirahat malam dan percayalah beliau akan bangun pagi tepat pkl. 04.00. Kok bisa yakin??? Yah karena selama ini tidak pernah beliau bangun lewat jam tersebut. Jikalau saya terbangun dan melihat lampu dinyalakan maka percayalah waktu di handphone menunjukkan 04.00. Kembali beliau akan melakukan aktivitas rutin yang sama.

Beliau sendiri di RS Bethesda sehari-hari bekerja di bagian alergi klinik VIP kartini lantai 2. Biasanya teman-teman yang harus melalui tes kesehatan untuk ke perusahaan-perusahaan tambang ataupun minyak akan berjumpa dengan beliau. Seorang teman yang mengambil tes kesehatan Freeport dideteksi oleh daddy mengidap tumor di payudara stadium I. Karena kurang percaya, rekan tersebut mencoba ke beberapa dokter ahli dan dinyatakan normal. Sampai akhirnya dia mencoba untuk terakhir kalinya apakah betul dia menderita tumor atau tidak, dan didapati benar adanya, sehingga operasi pengangkatan dapat segera dilakukan sebelum menjadi semakin parah. Sungguh talenta yang luar biasa karena hanya lewat sentuhan tanpa alat apapun. Ketika saya tanyakan perihal ini kepada beliau, beliau dengan sahajanya mengatakan bahwa ini merupakan talenta Tuhan yang diberikan padanya.

Satu hal yang masih membuat saya tercengang dan seakan tidak percaya adalah bahwa di umur 65 tahun (sebelum terkena stroke 2 kali) beliau masih mampu berenang mengelilingi kolam “Olympic Size” UNY sepanjang 50 meter sebanyak 20 putaran. Bandingkan dengan saya yang hanya mampu tidak sampai satu putaran sejauh 30 meter dan setelah itu menepi karena kehabisan nafas. Pada beberapa kesempatan entah karena mata yang sipit ini atau wajah yang lugu (mungkin ga sih….), saya sering dianggap sebagai anak kandung daddy oleh para sales obat yang dengan setia selalu menunggu tanda tangan beliau. Beliau sendiri pernah mengatakan bahwa kami aslinya berasal dari rumpun yang sama, yaitu Cina daratan. Entah benar apa tidak, tapi kalau membaca buku sejarah memang benar sejatinya orang Toraja berasal dari Cina daratan sehingga banyak yang matanya sipit dan putih (perasaan saya hitam deh…..).

Sungguh kawan, meskipun tidak menikah (jangan tanyakan alasan beliau tidak menikah karena saya sendiri pun tidak mampu untuk menanyakannya) beliau menjadi berkat bagi banyak orang, terutama anak-anak angkatnya. Bahkan ada yang beliau sekolahkan, seseorang yang dia kenal di Biak, sekarang sudah menjadi salah satu pimpinan di Bank. Anak-anak angkat beliau adalah orang-orang yang sama sekali tidak punya hubungan kekerabatan ataupun hubungan darah sama sekali, hanya tulus dengan kasih sayang, tanpa tending aling-aling.

Sampai saat ini saya masih berusaha terus untuk keep contact dengan beliau. Setiap kali cuti bilamana berkunjung ke Jogja, saya selalu sempatkan untuk bertemu. Beberapa kali saya mengajak beliau untuk makan di tempat-tempat yang lumayan fancy layaknya dia selalu melakukan hal yang sama. Tapi percayalah hal itu tidak akan mampu menggantikan kebaikan yang selama ini dilakukan. Saya cuman ingin meletakkan kebanggaan pada dirinya bahwa penjahat dari papua yang selama ini mungkin hanya menghabiskan stok makanan di kulkas (he…he…) tidak sia-sia beliau didik.

Thx Dad For Your Love and Affection to me,

Happy b-day, 74th anniversary, 11th February (1935 – 2009).

May God bless u always.

Berat bener…..

Nah dari judul di atas banyak pertanyaan yang muncul. Kamu punya masalah dus??? Apa masalahmu berat sekali??? Sebenarnya yang mau dibicarakan bukan berkaitan dengan berat dalam arti kiasan, tapi dalam arti sebenarnya.

Overweight, ini dia biang masalahnya…….. Sampai sekarang berat badan ini sudah melebihi ambang batas yang ditolerir oleh SNI (masa sih……….??).

Menurut standar perhitungan berat badan ideal, dengan tinggi ± 167 cm maka berat badan ideal adalah ± 60 kg. In fact, sekarang sudah 77 kg (busyet lo dus…….., 17 kg man?????).

He…..2, apakah bermasalah dengan berat tersebut??

Tentu iya, jalan semakin berat. Kedua kaki ini terasa makin lemah menopang beban di atasnya.

Terus solusinya gimana???

Hanya ada satu solusi yaitu olahraga..!!!! Makan sebenarnya sudah tidak getol seperti dulu. Sekarang kalau makan hanya satu sampai dua sendok nasi rice cooker, yah sekali-sekali sih nambah (he…., jadi rasa bersalah), gimana tidak nambah kalau makannya sate kambing + ayam kecap + cumi, tapi itupun sudah kukurangi saat ini.

Teringat dulu ketika SMU, porsi makan sangat mengerikan. Makan pagi sekali jam 6 berarti pasti kelaparan jam 8 di sekolah, sekali nambah berarti lapar jam 10, dua kali nambah berarti lapar jam 12. Sehingga total dalam sehari bisa makan 6-9 piring nasi (gileeee……, lapar atau hobi tuh???). Tapi entah kenapa badan tetap saja kurus, dan berat tak pernah lebih dari 60 kg. Berarti dulu konsumsi yang tinggi dibarengi dengan jumlah pengeluaran kalori yang sama banyaknya, jadilah balance. Sepertinya hal ini yang harus dilakukan, melakukan kegiatan-kegiatan yang menguras kalori berlebih, yaitu olahraga, bukan olahrasa, apalagi olahraba.

Tiga minggu lalu olahraga mulai dipraktikkan. Dengan membeli jump rope (semacam tali yang digunakan untuk berlompat-lompat ria) dari Banjarmasin, sore itu olahraga dimulai dengan warming up, jumping, push up & sit up, closing. Weissss, dimulailah babak baru di dunia kesehatan. Dengan semangat ’45, sesi bangun pagi langsung diisi dengan paket olahraga yang sama dengan sore selama 30 menit. Fiuuhhh…….. sangat melelahkan, tapi sangat menyegarkan terutama setelah mandi. Nah mulailah komitmen untuk terus berolahraga minimal tiap pagi atau sore hari.

Hari berganti malam dan saat inilah yang paling tak kuduga. Seluruh badanku menjadi kaku dan sakit yang luar biasa. Demam dan panas mulai menjulur ke sendi-sendi. Jadilah selama beberapa hari terkapar tak berdaya.

Menyerahkah engkau dus????

Tentu tidak. Setelah 3 minggu program olahraga tertunda akibat sesuatu yang kunamakan sport shock, mulailah saat ini untuk rekomitmen (berkomitmen ulang). Sudah 3 hari ini (per tanggal 1 Februari) program olahraga mulai dijalankan kembali. Sudah ada hasilnya???? Ya jelas belumlah. Minimal target adalah jangan sampai berat semakin bertambah. Dalam 1 bulan ke depan target penurunan berat sebesar 4 kg. So, let’s check it out……, per tanggal 1 Maret ke depan berat badan sudah harus menduduki posisi 73 kg di timbangan (yang penting jangan timbangan beras). Mudah-mudahan saja dapat tercapai.

Ayo semangat man, you can make it…….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Miris…….

Beberapa hari lalu saya mendapatkan sms dari nomor yang tak dikenal. Isinya seperti berikut :

“ Pak Odus mau godok pisang nggak. Ibu’ sdng gorengnya”

Karena tidak merasa mengenal dengan no pengirim, saya menjawab dengan santainya :

“Sangat2 mau, ayo dbwa ksni sgera”

Lanjut dijawab :

“Krm lwat tiki aja ya pak? Kami dsni sgt kangen sm Bpk, titip slam sama Bpk dari kita yg ad dsni. trim’s”.

Karena penasaran, saya tanyakan unknown number ini kepada teman-teman di kantor. Ternyata jawabannya cukup mengagetkan saya.

“Oh itu nomornya Bu Misrukiyah”, jawab salah seorang rekan kerja di sini.

Kaget bukan kepalang, karena satu hal yang pasti, sepanjang yang saya kenal ibu Mis bukan seorang yang suka bicara apalagi sampai sms.
Beliau sampai sekarang masih bekerja sebagai “cooker” di perusahaan kerja saya sebelumnya.

Sejujurnya saya sangat bahagia karena rekan-rekan kerja di perusahaan lama bahkan Ibu yang dengan setia selalu masak masakan “apapun yang saya minta” masih berkenan untuk keep contact.

Satu hal yang menjadi kegundahan adalah banyaknya keluhan dari rekan-rekan kerja di sana akan perlakuan dari manajemen baru yang membuat mereka menjadi sangat tidak betah. Sebuah sistem yang sudah dibangun dengan susah payah (mulai dari nol) diubah 90 derajat, sehingga yang ada hanyalah komplain tanpa pilihan (no choice).

Hal inilah yang sungguh miris. Ketika mereka ingin keluar, tidak ada pilihan untuk pindah ke perusahaan lain. Beberapa perusahaan tambang di sekitar lokasi tutup berkaitan dengan legalitas dan cadangan batubara. Bagi non staff, pindah ke perkebunan (sawit ataupun karet) sangat tidak mungkin mengingat harga kedua komoditas tersebut masih jatuh sehubungan dengan krisis global. Jadilah yang ada hanya bersungut-sungut tanpa kejelasan.

Jika ditelisik lebih jauh, di tangan-tangan merekalah tergantung nasib istri, suami, ataupun anak-anak yang harus dibiayai. Hal ini menjadikan keputusan untuk keluar menjadi tidak mungkin sehingga apapun yang mereka rasakan, betah ataupun tidak, harus mereka jalani.

Sungguh miris……………..

Home Sweet Home….(2)


Melanjutkan pembahasan mengenai rumah, rencananya ketika saya diberkati untuk memiliki sebuah rumah, pada tahap awal skala prioritas tertinggi adalah mendesign kamar. Bukan tidak memperhatikan elemen-elemen lain seperti ruang tamu, dapur, dll, kamar merupakan tempat saya berbaring dan melepas lelah selama bekerja di site.

Seperti yang pernah saya ungkapkan kepada mantan calon istri (opo kui……..), hal pertama yang saya ingin lakukan adalah mendesign dan mengisi kamar.

Item-item yang ingin saya berikan sebagai bagian dari kamar tercinta antara lain :

- Kasur latex (supaya tidur terus…) : ± 10jt

- Cover Bed : ± 600 rb

- TV samsung flat screen 32 – 42 “ : ± 6 – 10 jt

- Lemari : ± 2 jt

- Kulkas kecil : ± 600 rb

- Meja kecil (Untuk TV dan laptop ) : ± 800 rb

- Renovasi, dll : ± 2 jt

- AC ½ PK : ± 2 jt

Berarti total biaya yang harus disediakan ± 25 – 30 Jt,. Busyet….. Mahal amir……..

Tapi memang sih itu adalah harga yang harus dibayar untuk sebuah “kenyamanan”. Wah alamat harus nabung terus, nyicil pelan-pelan….

Hu…(sambil menarik napas dalam-dalam), perjuangan yang tidak mudah ……… Adakah yang mau urunan?????

« Newer Posts - Older Posts »