Ah, sungguh menyenangkan, akhirnya bisa tiba di Pulau Dewata juga. Setelah beberapa tahun mengatakan akan segera ke sana, baru april 2009 ini akhirnya terwujud juga (thx pak Ferdi atas kesabarannya, he…).
Dengan menumpang pesawat mandala Jogja-Denpasar, tibalah juga di lokasi wisata yang mendapat predikat pulau terbaik di dunia ini. Kesan pertama saya terhadap bandara Ngurah Rai adalah bandara ini cukup bagus, namun tidak memenuhi ekspetasi saya yang terlanjur tinggi dengan menganggap bandara ini sebagai international airport dan didarati banyak burung bersayap besi dari berbagai negara. 2 orang rekan yang sudah menunggu di bandara akhirnya kutinggal pergi akibat sedikit misunderstanding, jadilah sendirian melaju dengan taksi bandara menuju hotel di kawasan Kuta (padahal sudah dibela-belain menyamakan schedule, he……).
Kota ini memang sangat hidup, baik siang maupun malam. Sepanjang perjalanan yang terlihat adalah mayoritas cafe dengan segala fasilitasnya yang sangat menghibur. Ah, sungguh kesan yang sangat baik, semakin membuatku ingin mengeksplor lebih jauh ke sudut-sudut kota.
Mengikuti tema besar krisis global dan keharusan penyesuaian budget, jadilah lagu wajib untuk tinggal di kawasan Poppies-Kuta, sebuah area dengan banyak penginapan murah yang berada hampir di setiap sudut-sudut gang. Hotel yang saya tempati bisa dikatakan sangat layak jika dibandingkan dengan harga per malamnya. Mungkin cukup sulit bagi anda yang sebelumnya terbiasa dengan fasilitas hotel yang jauh lebih mumpuni, dan memang itulah yang kurasakan pada 1-2 hari pertama. Tapi apa daya, ada harga ada barang, berani membayar murah, jangan berharap terlalu tinggi, pepatah lama karangan Mpu Irfan (Penjahat yang merekomendasikan hotel ini..). Tapi sungguh kawan, dibandingkan dengan harga yang ditawarkan, fasilitas hotel yang dimiliki sudah lebih dari cukup.
Tanpa ingin berlama-lama, walaupun waktu sudah menunjukkan pkl. 23.45, hotel hanya dijadikan sebagai tempat persinggahan sementara, dan mulailah berjalan mengitari pantai Kuta dan kawasan Jl. Legian. Sebagai orang dusun (Odus), melintasi jalanan sekitaran pantai Kuta dan kawasan Legian sangatlah menyenangkan. Berada di pulau ini layaknya kita berada pada sebuah daerah yang lokasinya tidak berada di negeri ini, sebuah daerah yang terletak di antara beberapa negara dari timur hingga barat (mungkin karena sudah kebiasaan di hutan dan dusun, he…). Mayoritas pelancong yang mengisi kawasan Kuta-Legian merupakan tourist dari Korea, Jepang, Taiwan, Australia, Prancis, dll. Sangat majemuk terutama jika kedatangan 2 orang lagi tourist yang kalau boleh disebut bertetangga dengan Jerman yaitu Merauke, Jerman = Jeruk Manis.
Tak ayal, waktu telah menunjukkan pukul 3 dinihari. Balik kanan menuju hotel, dan bukannya istirahat malah ngelantur dengan kedua rekan di hotel. Jadilah malam pertama di Bali diakhiri dengan tidak tidur sama sekali. Siap fisik untuk melanjutkan kegiatan selanjutnya, menuju Kuta Beach di pagi hari………(to be continued)
FYI :

Hotel @Kuta
- Hotel di Kuta : 125.000/night ; Facility : swimming pool, bath up, hot water, spring bed, ac, breakfast (bread + egg only).
- Tiket Jogja – Denpasar : Rp. 350.000,-
- Airport Tax Jogja : Rp. 25.000,-
- Taksi Bandara Denpasar – Kuta : Rp. 70.000,-
fotonya kecil bgt bung!
tpi, hotelnya oke tuh!!!
di jogja aja nggak gampang cari yg 100an
apa nama hotelnya???
gimana makan di jimbarannya? rekomendasi????
Namanya Kuta-Inn, small but oke…..
Jimbaran, fully recommended, nanti kubahas di tulisan berikut……….
Kuta Inn fotogenic juga yach, tp not bad lah..
hari pertama aja menderita tp lama2 nyaman juga, hehehe..
Setuju Cut, yah lama2 jadi menikmati juga, kpan2 klo lg kena kanker tapi ingin berlibur, yah Kuta-Inn jawabannya, he.he…
Hidup Kuta Inn!
btw, boss, helmnya kuta inn belum dibalikin
hehehehehe….
Wah masa helmnya blum dibalikin??? Bungkus sj bos, he…