Feed on
Posts
Comments

My choice…….

Beberapa hari lalu, ayah angkat berbicara dengan abang dengan salah satu topik pembicaraannya mengenai kegundahan beliau terhadap saya. Kegundahan yang mungkin dialami oleh beliau adalah menyangkut keputusan yang telah saya buat untuk menolak kesempatan bekerja di perusahaan besar dan hanya memilih sebuah perusahaan kecil di sumatra yang notabene masih baru dan belum jelas masa depannya…….

 

Secara jujur saya sangat mengerti dengan kegundahan beliau.  Dalam stigma daddy (panggilan akrab saya pada ayah angkat), bekerja pada perusahaan besar akan jauh lebih menjamin masa depan dengan fasilitas-fasilitas kerjanya yang lebih mumpuni.
Mungkin beliau sangat benar, tapi yang jadi pertanyaan adalah mengapa saya mengambil keputusan memilih bekerja di perusahaan tempat saya bekerja sekarang……………

 

Mungkin ini saya katakan sebuah pilihan hidup. Pilihan hidup untuk tetap memegang teguh komitmen yang sudah saya buat kepada pimpinan saya saat ini. Pimpinan yang sudah saya anggap sebagai pembimbing dan abang sendiri. Lewat beliaulah saya banyak diajarkan tentang ilmu tambang, dan sering diajak langsung ke lapangan meskipun masih kuliah pada saat itu. Komitmen yang sudah saya buat terhadap orang yang banyak membantu saya dalam pembiayaan kuliah sehingga saya tidak perlu merepotkan orang tua lagi.  

 

Apakah saya menyesal..???

 

Sulit untuk menjawabnya. Lha kok bisa…??? saya masih belum mengerti ke arah mana perusahaan ini nantinya.

Tidak seperti perusahaan besar, perusahaan ini masih belum mempunyai fixed system. Sistem yang ada masih carut marut, sistem yang membuat pimpinan saya sudah tidak tahan berada lama-lama di sini.

Tetapi di perusahaan inilah meskipun saya masih terhitung masih sangat baru (fresh) namun saya dapat memperoleh peranan yang cukup besar.

 

Will u survive there?

 

Kurang tahu pasti. Jika  dikatakan masalahnya salary, kalau boleh jujur bisa saya katakan sangat mumpuni (dibanding offering salary perusahaan lainnya). Tapi dengan segala permasalahan yang ada saat ini saya sangat ragu untuk mampu bertahan lebih dari 4 bulan lagi.  Permasalahan yang ada bisa dikatakan sangat complicated. Tetapi saya akan menjadi sangat realistis nantinya. Saya sangat berharap pimpinan mempunyai kebijakan untuk pindah dan membuat perusahaan baru di tempat lain.

 

Saya akan berusaha loyal terhadap beliau, bukan terhadap perusahaan tempat saya bekerja sekarang. Jika tetap tidak ada pilihan, resign mungkin keputusan terburuk yang harus saya buat dengan terlebih dulu meminta ijin dari beliau (beliau yang sangat saya hormati keberadaannya).

 

Mungkin inilah yang namanya keputusan. Keputusan yang dapat diketahui benar atau tidak setelah dijalani dalam kurun waktu tertentu.

Ayo semangat lagi…

Mboh kenapa pnyakit malas nulisku kumat lagi,….

Memang menulis dan membaca terutama buku2 tebal sangat tidak kusukai…..

Hobiku no 1 adalah istirahat tidur2an sambil nonton tv, wis mantap dah….!!!

 

Tapi secara jujur boleh kuakui bahwa diriku akhir2 ini sangat adiicted yg namanya baca….

Apapun bacaannya mulai dari koran, majalah, maupun novel (tapi tetap ga yg tebal2), pasti kulahap

Alasannya simpel, bosan…!

 

Kok bisa bosan..??? Ya jelaslah kalau disuruh ngawasin tambang yang ada alatnya cuman 1 excavator dan 1 dozer dengan jenis pekerjaan mindahin lumpur……….

 

Cuman permasalahan utama di kabupaten Tebo tercinta adalah sulitnya mendapatkan koran dan majalah. Satu2nya akses adalah melalui kabupaten bungo, kabupaten tetangga.

Jadilah koran minggu lalu masih kebaca sampai  hari ini. Mulai dari segmen serius sampai pojok iklan pun dilahap abis.

Ayo semangat lagi, semangat baca, semangat nulis, dan semangat lainnnya………….???!!!

Dikejar tawon….

Wah hari ini merupakan kombinasi antara hari keberuntungan dan ketidakberuntungan.

Dikatakan beruntung karena cuaca panas, sangat mendukung dunia pertambangan jambi.

Tidak beruntung, karena sesuai judul di atas……DIKEJAR TAWON…!!!

Hari ini kegiatan yg dijadwalkan adalah land clearing. Sebagai pengawas yg menolak dikatakan menerima “gaji buta”, maka kudampingi operator bekerja sambil melihat batas-batas lahan yg ada.

Tiba-tiba operator menekan klakson excavator, kubalas dengan teriakan ‘apalagi le????’.

Dengan mulutnya yg komat-kamit tak jelas larena ketutupan kaca, kutengok samar-samar anggota yg berada dekat dgn excavator lari dan berteriak ‘TAWON-TAWON, AWAS BOS TAWON, KABUR………’.

Ini dia yg paling kutakutkan, tawon tanah sebesar belalang yg merupakan tawon terganas di hutan kilis yg katanya jika satu saja menusuk bisa membuat kita off 1 minggu (berdasarkan pengalaman masyarakat lokal kalau gerombolan tawon yg nusuk  bisa kritis dan diopname >2 bulan) kelihatan bergerombol melingkari excavator.

Tanpa berpikir panjang, sejurus kemudian adu sprint pun tak terhindarkan. Tiba-tiba ‘pluk’ sepatu safety ku yg berat itu terpuruk dan tak bisa kuangkat lagi. ‘Mati aku’, hanya itu yg terpikirkan. 2 anggotaku yg tadinya di belakang ternyata sudah berada lebih dari 20 meter di depan. Terbayang dalam pikiranku off beberapa pekan di rumah sakit Tebo.

Untungnya tawon tersebut sudah terkena serangan knalpot excavator yg cukup panas. Wah selamat aq. Yah konsekuensinya celanaku penuh lumpur semua. Tapi syukurlah, slamet-slamet.

Sambil terengah2, akhirnya kami semua akhirnya tertawa terbahak-bahak. 

‘Bos, klo bos tadi diserang kami tidak bisa bantu daripada hanya nambah2 korban’, kata anggotaku sambil melanjutkan tawanya yg beradu dengan nafasnya yg hanya satu dua.

Dua hal yg kupetik dari pengalaman ini,

1. sering-seringlah olahraga

2.turunkan berat badan seringan mungkin…

Wah postingan kali ini isinya hanya tentang bahagianya hidup ini. “Haruskah aq bahagia dengan kondisi seperti ini???” Sebuah pertanyaan dari seorang teman yg pernah dilontarkan ketika dia baru saja putus dari pacarnya. Pertanyaannya kubalik dengan sebuah pertanyaan lagi, “Kenapa kamu harus tetap bersedih???? Does he deserve to get ur tears???

Saya mungkin bisa katakan diriku sangat beruntung dan diberkati dalam banyak hal.
Saya merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Dengan posisi sebagai anak bungsu, saya banyak mendapat perlindungan dari ortu dan saudara apalagi dalam kondisi ekonomi keluarga yg sangat mapan pada saat itu.

Namun keadaan berbalik, ayah yg sangat kucintai menderita penyakit hipertensi dan malaria akut akibat menggeluti bisnisnya hingga ke pedalaman2 papua. Sungguh ironis memang, kondisi keluarga yg cukup mapan tiba-tiba berbalik 170 derajat. Lha kok ga 180 derajat??? Syukur masih ada ibu yg bekerja untuk menopang kebutuhan keluarga dan dengan segala upaya membiayai kuliah kedua kakak saya.

Selama beberapa tahun mulai tahun 1998, saya benar-benar merasa seperti anak tunggal. Ketiga saudara saya semuanya menempuh ilmu di luar merauke (kota terujung indonesia= kota kelahiran saya). Saya benar-benar melihat dan mengalami sendiri bagaimana kedua ortu berupaya keras mencari tambahan untuk biaya kuliah saudara2. Saya sendiri mau tidak mau harus melakukan segala sesuatu semampu saya bisa. Pekerjaan kakak perempuan kuhandel (nyuci piring, baju, nyapu, dsb). Kerjaan abang pun kuambil (beternak, ngambil makanan sisa di pasar, maupun bantu memotong padi). Ibu selalu berkata “makan saja apa adanya, jangan pilih2!!!”. Kata-kata yg sangat sering sdidengar ketika saya protes akan hidangan di atas meja.

Satu pengalaman yang tidak akan saya lupakan ketika saya meminta dibelikan gitar pada ibu. Bermain gitar merupakan hobi saya pada saat itu. Ibu belum mengiyakan, dan berkata bahwa duit belum ada. Saya dalam beberapa hari terkesan agak memaksa untuk dibelikan gitar, sebuah sikap yang memang sangat childish. Setelah beberapa hari tetap tidak mengiyakan akhirnya beliau tidak mampu untuk menahan tetesan air matanya. Air mata yang membuat saya berkomitmen untuk tidak akan menyusahkan beliau kelak saya kuliah.

Masih dengan mata berkaca-kaca, beliau yg sangat kucintai berkata kepada saya untuk sabar menunggu bonus dari kantor. Bonus pun datang dan diberikan kepada saya sejumlah uang untuk membeli gitar. Saya pun menolak dan berkata bahwa saya sudah memperbaiki gitar milik tetangga, gitar itu saja yg akan saya gunakan.
Hal-hal inilah yang benar-benar membentuk saya menjadi mandiri dan tidak manja.

Saya sendiri sudah berkomitmen untuk berusaha membiayai kuliah sendiri pada tahun terakhir kuliah, tahun di mana begitu banyak biaya yg harus dikeluarkan untuk spp, skripsi, sidang, wisuda, dsb. Puji Tuhan, keinginan saya tersebut dapat terkabulkan. Dengan gabung di konsultan tambang di jogja dan ngajar bhsa inggrs, biaya2 tsb dapat tercover sehingga saya tidak perlu merepotkan kedua ortu lagi.
Keadaan saya sendiri saat ini belum sepenuhnya settle, saya masih belum mampu mengirimkan uang secara periodik kepada ortu. Tapi secara jujur, saya sangat bersyukur akan keadaan yg saya hadapi. Kok jatuhnya keadaan ekonomi keluarga disyukurin?? Saya kira tergantung perspektif kita memandangnya. Jika kita tetap larut sedih, kita hanya menambah duka dan menjudge Tuhan yg tidak2. Tapi jika dipandang dari perspektif lainnya maka kita akan menjadi sangat bersyukur.
Jikalau keadaan ortu masih mapan, kemungkinan besar saya akan tumbuh menjadi anak muda yg manja, yang dengan mudahnya meminta apapun pasti dikabulkan. Entah seperti apa saya sekarang, drugs user, suka dunia malam?? Mbohlah kagak ngerti.

Dari sisi duka, berbalik menjadi suka. Mungkin sudah rencana Tuhan membentuk saya seperti ini, layaknya sebuah bejana yg semakin keras dalam prosesnya ditimpa nantinya bisa menjadi lebih bernilai.

Satu hal yg pasti dalam hidup saya bahwa hidup ini jangan dibawa sedih. Tetap berusaha bersyukur dan bahagia dalam kondisi apapun karena hidup merupakan proses..

Kok hidup ini harus tetap bahagia ya????
Ya karena sudah terlalu banyak masalah yg kita hadapi.
Jika tetap bersedih, wah betapa beratnya beban di pundak ini.
So, tetap bersyukur dan be happy…….
Dedicated to my mom and dad.
Love you so much……………

Manusia Bahagia Bila….
Manusia bahagia bila ia bisa membuka mata. Untuk menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang berarti.

Manusia bisa bahagia bila ia mau membuka mata hati. Untuk menyadari, betapa ia dicintai.

Manusia bisa bahagia, bila ia mau membuka diri. Agar orang lain bisa mencintainya dengan tulus.

Manusia tidak bahagia karena tidak mau membuka hati, berusaha meraih yang tidak dapat diraih, memaksa untuk mendapatkan segala yang diinginkan, tidak mau menerima dan mensyukuri yang ada.

Manusia buta karena egois dan hanya memikirkan diri, tidak sadar bahwa ia begitu dicintai, tidak sadar bahwa saat ini, apa yang ada adalah baik, selalu berusaha meraih lebih, dan tidak mau sadar karena serakah.Ada teman yang begitu mencintai, namun tidak diindahkan, karena memilih, menilai dan menghakimi sendiri. Memilih teman dan mencari-cari, padahal di depan mata ada teman yang sejati. Telah memiliki segala yang terbaik, namun serakah, ingin dirinya yang paling diperhatikan, paling disayang, selalu menjadi pusat perhatian, selalu dinomorsatukan. Padahal, semua manusia memiliki peranan, hebat dan nomor satu dalam satu hal, belum tentu dalam hal lain, dicintai oleh satu orang belum tentu oleh orang lain.
Kebahagiaan bersumber dari dalam diri kita sendiri. Jikalau berharap dari orang lain, maka bersiaplah untuk ditinggalkan, bersiaplah untuk dikhianati.

Kita akan bahagia bila kita bisa menerima diri apa adanya, mencintai dan menghargai diri sendiri, mau mencintai orang lain, dan mau menerima orang lain.

Percayalah kepada Tuhan, dan bersyukurlah kepada-Nya, bahwa kita selalu diberikan yang terbaik sesuai usaha kita, tak perlu berkeras hati. DIA akan memberi kita di saat yang tepat apa yang kita butuhkan, meskipun bukan hari ini, masih ada esok hari.

Berusaha dan bahagialah karena kita dicintai begitu banyak orang._,

Semangat….!!!!

Beberapa hari lalu saya berbicara dengan seorang carrier woman (cantik lagi), dan dia mengeluhkan akan segala permasalahan yang dia temukan dalam pekerjaannya dan berkata bahwa sepertinya dia tidak kuat lagi.

Secara jujur ketika ingin memberi masukan saya sendiri tidak tahu apa saran yang terbaik untuk beliau karena memang pada situasi seperti itu kata-kata yang dikeluarkan harus benar-benar tepat dan tidak menyinggung ( The right words in the right time )

Namun saya teringat sebuah kenangan yang menjadi nightmare bagi sebagian orang yang saya ceritakan, tapi dapat menjadi bahan pelajaran bagi saya ke depan.

Setahun lalu saya bekerja di sebuah perusahaan batubara berlokasi di sebuah daerah di sumatra dengan kontrak selama 2 bulann (lumayan nambah duit buat biaya skripsi pada saat itu).

Pada awalnya semua berjalan baik sampai suatu moment yg membuat saya tidak tahan dan ingin memutuskan quit from my job.

Klo boleh mengeluh dengan fasilitas yg ditawarkan mungkin terlalu banyak yang dapat ditulis.
Hanya sebagai gambaran, saya bekerja mulai pkl. 08.00-17.00 di tambang. Tapi pada implementasinya perjalanan yang dibutuhkan dari kos sampai tambang +/- 2 jam (1,5 jam perjalanan tanah yang cukup parah). Otomatis bangun wajib pkl. 05.30, mandi, pkl. 06.00 klakson mobil jemputan sudah memekkan telinga.

Dengan sedikat berjoged ria selama perjalanan (padahal ud pake mobil 4WD), sampai juga di tambang. Cukup dilema memang, perut ud kosong, sarapan ga ada, fasilitas tambang pun tidak ada sama sekali. No safety equipment at all (no helmet, masker, vest, shoes, and glasses) , no water truck (dust everywhere), no mine plan, and many more.
Dalam posisi sebagai pit supervisor, otomatis pulang dari tambang lebih mundur sekitar pukul 18.30-19.00. Jadilah pulang sampai kos sekitar pkl. 21.00. Ngojek, cari makan malam, trus pulang ke kos.

Sampailah di kos skitar pkl. 21.30 dan mendapati bak kamar mandi kering. Waduh, sudah menjadi kebiasaan klo ibu kos harus diteriakin dulu baru jalanin air. Alamat buruk, di waktu malam seperti itu beliau pasti sudah tidur, diteriakin apapun pasti ga akan ada balasan.

Jadilah dilema, mau pake baju yang sama untuk tidur, baju ud penuh lumpur, buka baju juga dilema karena sprei tempat tidur pun ud sangat kotor padahal panas banget di kamar padahal kagak ad kipas angin.

No loundry di kota itu. Wah jadilah sering memakai baju yg sama. Mau tidak mau roster kerja 7-0 (no holiday) jadi tidak sempat mencuci kecuali undrwear xl ku (he.2). No entertainment at all. Sangat kangen yang namanya nonton TV. Satu2nya hiburan hanyalah koran kompas terbitan hari sebelumnya.

Pengalaman menarik ketika sepakbola piala asia, sepulang dari tambang saya masuk ke hotel berpura-pura dan bergaya seperti tamu hotel dengan menyapa petugas di sana, kemudian nonton TV di ruang Loby tamu hotel bareng2 tamu hotel lain yg nginap disana, agak gugup sih tapi kan mereka juga ga mungkin ngusir…..

Di minggu ketiga masalah makin banyak, dan kompleks. Tuntutan produksi, sakit yang kudera akibat debu terlalu banyak di tambang, ketiadaan hiburan,, ditambah info dari temanku bahwa dosen pembimbingku mengancam tidak akan menjadi pembimbingku lagi karena saya pergi tanpa ijin (jika sampai terjadi maka saya harus mengulang ambil data skripsi lagi dan akan memakan waktu yang panjang) menambah keruwetan masalah
.
Waduh, di tengah masalah seperti ini ada perasaan untuk quit dari job. Saya secara jujur sudah tidak mampu untuk melanjutkan tugas.

Tapi tiba2 hati ini memacu diri saya untuk tidak menyerah. Jika saya menyerah dan berhenti pada saat itu, berarti standar hidup saya hanya sampai di situ. Saya tidak mungkin mampu menahan tekanan kerja yg lebih lagi.
Sampai akhirnya saya memutuskan untuk tetap lanjut, no give up, keep moving.
Saya berusaha enhance standar hidup untuk mampu menghadapi masalah2 tersebut dan tidak give up.

Praise God, saya lambat laun mulai dapat beradaptasi dgn pola kerja dan makin settle.

Saya percaya jika saya quit pd saat itu mungkin hanya di situ kemampuanku. Can’t be forced anymore.

Saya hanya katakan pada cwe cantik ini, mungkin dia harus upgrade standar hidupnya lebih lagi. Ketika dia tidak mampu menghadapi masalahnya pda saat ini, kemungkinan ketika dia naik jabatan dengan tingkat stress yg lebih tinggi, dia akan sulit menghadapinya.

Satu hal yang saya pelajari bahwa satu-satunya kunci penyelesaian masalah hanya pada diri saya sendiri. Bagaimana saya harus dapat mengalahkan emosi, dan juga rasa ingin mengeluh dengan situasi.

Kebahagiaan akhirnya bisa saya dapat karena saya memutuskan untuk bahagia dan berkompromi dengan lingkungan.

Sungguh suatu pelajaran berharga bekerja, outstanding & unforgettable experience.

He….he… Lucu juga ketika saya mulai membuat blog ini.
Jujur saja, saya ini tidak suka nulis, apalagi harus membuat sebuah blog. Lha, kok nulis klo gitu???? Saya saja sambil nulis ini ga ngerti. Mungkin karena untuk mengisi kekosongan ya. Tapi pertanyaannya klo untuk ngisi kekosongan perasaan pekerjaan di kantor sini lagi numpuk deh. Wah kagak ngerti, sounds crazy…
Yg penting saya sudah berusaha untuk mengalahkan diri saya sndiri dan berusaha mulai menulis.
Tidak ada salahnya……
Cuman yg mnjadi masalah adalah contain dari blog ini mau seperti apa. Sebagian orang mengatakan harus yg serius…..
Ada yg bilang harus tentang diri kita sendiri.
Wah klo saya sih apapun yg ada di pikiran tulis saja deh. Mau serius atau ga ya tdak penting…..yg penting be happy……
Mungkin itu dulu kali ya postingan pertamaku, mungkin ga ada jg yang baca….he…2
Be happy …….