Feeds:
Posts
Comments

Bali (4)

1. Discovery Mall

Ini adalah hari terakhir saya berada di Bali. Waktu terasa begitu cepat, dan pastinya dana pun semakin menipis…

Berkaitan dengan hari terakhir saya dan rekan akhirnya memutuskan untuk mengunjungi discovery mall, mall terbesar di Kuta.

Discovery mall terletak persis di bibir pantai, sebuah pemilihan lokasi yang saya akui sangat brilian. Dari mall ini kita dapat melihat pantai Kuta secara lebih luas. Beberapa tenda makan dibuat dekat dengan tepi pantai, namun tetap berada dalam satu kawasan mall. Sungguh kawan, dibandingkan harus membayar ’tenda tak bertuan’ yang harganya 100.000/jam (tulisan sebelumnya di Bali (1)), jauh lebih bijaksana untuk bersantai di bawah tenda di mall ini dengan memesan makanan atau minuman. Harga mungkin sama (tergantung jenis dan jumlah makanan yang dipesan), tenda tidak perlu disewa, dapat makan, dengan view sama-sama pantai, maknyuss…!!!!

Mall ini pada dasarnya sama seperti mall lainnya, bahkan kalah jauh dibandingkan mall-mall megah di Jakarta. Akan tetapi yang menjadi nilai plus adalah posisinya yang berada persis di tepi pantai Kuta. I really love the view……!!!.

Berada dekat dengan mall terdapat sebuah arena permainan air, water boom. Ah, sungguh menyesal, saya lupa akan nasihat seorang rekan yang menganjurkan untuk rekreasi di water boom.  Padahal hanya butuh beberapa menit saja dari lokasi penginapan, yah disimpan untuk moment berikut….

2. Gift…..

Dikarenakan hari terakhir, satu hal yang harus dilakukan adalah membawa oleh-oleh ke Jogja. Beberapa pilihan yang bisa menjadi referensi antara lain :

a. Joger

Joger merupakan trade mark dari industri tekstil Bali. Layaknya dagadu di Jogja, pakaian Joger merupakan merk dagang yang sangat terkenal dan menjadi khas oleh-oleh Bali. Sangat kreatif dalam tulisan dan selalu menjaga standar kualitas pakaian menjadi alasan Joger selalu eksis hingga sekarang.

b. Kacang asin ’Rahayu’

Kacang asin Rahayu menjadi salah satu ikon oleh-oleh Bali. Layaknya Bakpia 75 Jogja yang memiliki banyak pesaing namun tetap menjadi pilihan utama, seperti itu juga kacang asin Rahayu yang tetap menjadi pilihan utama pesanan para pelancong di tengah-tengah maraknya bermunculan merk sejenis.

c. Others…

Masih banyak lagi alternatif oleh-oleh yang dapat dibeli di Bali. Entah salak Bali yang terkenal itu, pia legong, kain Bali, dan lain-lain. Jadi siapkanlah budget tersendiri untuk oleh-oleh tersebut.

FYI :

-         Kacang asin Rahayu : Rp. 25.000,-/pack (400 gr)

-         Salak Bali : Rp. 10.000/kg

-         Pakaian Joger : Variatif mulai dari Rp. 55.000,- rata-rata t-shirt Rp. 100.000,-

Bagi rekan-rekan yang menyukai dunia malam, sebaiknya menginap di kawasan Legian-Kuta yang memang memiliki banyak cafe dan tempat-tempat hiburan malam. Saya dan rekan-rekan sempat masuk ke beberapa cafe dan menonton sexy dancer. Menarikkah?? Ga juga. Mending dance bareng orang yang kita sayangi daripada lihatin sexy dancer, kagak nafsu blasss……(boong lo dus, ga normal dirimu…!! Wis biarin, that’s me..!!).

Berbeda kesannya dengan masuk paddy’s cafe. Layaknya diskotik pada umumnya, cafe yang sempat dibom ini menawarkan musik-musik keras menghentak dan mengundang badan yang kurus ini (pasti banyak yang protes…) untuk berjoget ria. Yah lumayanlah, hitung-hitung cari keringat, he…..

Bali memang menyimpan sejuta pesona. Pulau ini menawarkan banyak sekali lokasi wisata menarik yang sayang bila tidak dikunjungi. Kintamani, Lovina Beach, dan Ubud merupakan contoh daerah wisata yang belum saya explore sama sekali.

Sungguh sangat disayangkan bila keamanan Bali menjadi terganggu hanya karena segelintir orang yang ”tidak jelas arah hidupnya”. Pulau ini benar-benar bernafaskan tourism sehingga bila tourist berkurang, maka terganggu pulalah roda perekonomian masyarakat.

Bagi saya, ada 3 macam daerah wisata :

1. Minus (No More)

Daerah wisatanya kurang menarik, support dari masyarakat kurang bahkan cenderung sedikit mengancam. Masih banyak daerah seperti ini di Indonesia, dan satu hal yang akan oleh seorang tourist : ”that’s enough..!! No more..!!

2. zero (just so so)

Biasanya daerah wisatanya cukup menarik tapi support masyarakat sangat kurang, bahkan cenderung mengancam. Sejujurnya ini yang saya rasakan ketika berkunjung ke candi Borobudur. Sebenarnya sangat menarik melihat view Borobudur terutama ketika berada di puncaknya. Sayang sekali ketika turun dan hendak beranjak pulang, begitu banyak pedagang yang menawarkan barang dagangannya dengan cara mendekati si pelancong dan terkadang sedikit memaksa. Oke lah bila hanya satu dua orang, oh come on, hampir sepanjang jalan menuju parkiran setiap orang menawarkan barang dagangannya. Memang betul setiap orang mencari nafkah untuk keluarganya sehingga dia harus berkompetisi untuk memperebutkan konsumen, tapi saya kira dengan cara seperti itu bukannya orang ingin berbelanja, sebaliknya menjadi terganggu dan dengan sekuat tenaga akan menolak apapun tawarannya bahkan bila sebenarnya barang dagangan tersebut menarik dan hendak dibeli. Tidak ada kata ingin datang kedua kali. Jadi last commentnya hanyalah, ”oh, that’s very interesting to be here, but I won’t come back, matur thank u..!!”.

3. Great, I’m coming back soon…!!!

Ini adalah opini orang yang ketika berkunjung ke suatu daerah dan berada di bandara untuk kembali ke daerah asalnya berkata dalam hatinya, “I’m coming back soon..!!”.  Perpaduan antara daerah wisata yang menarik ditambah dengan dukungan dari masyarakat menjadikan setiap wisatawan menjadi betah dan serasa ingin kembali segera. Dan sejujurnya ini yang saya rasakan dari Bali. Dukungan luar biasa dan hospitality yang tulus dari masyarakat Bali ditambah daerah wisatanya yang sangat menarik menjadikan pulau ini tercatat sebagai the best tourism island di dunia.

So Bali, If God wills, I’m coming back soon…!!!

Bali (3)

1. Nusa Dua

Tanpa ingin membuang waktu, saya dan rekan memutuskan untuk pagi ini di hari ketiga di Bali, berangkat menuju Nusa Dua khusus untuk melakukan paket “Water Sport”.

Ah kawan, bukan pagi seperti yang anda bayangkan, pagi di sini adalah pagi sebangunnya saya. Jam 11 tergolong pagi jika saya bangunnya jam segitu, dan ini hanya terjadi pada saya. Rekan saya selalu bangun pagi semalam apapun tidurnya.

Paket “Water Sport” di Nusa Dua menawarkan beragam olahraga air dengan harganya yang juga bervariasi tergantung penawaran dari tur. Beberapa jenis olahraga ataupun paket rekreasi yang bisa dimainkan antara lain : parasailing, banana boat, jet ski, fly fish, diving, snorkeling, glass bottom boat, turtle farm, dan masih banyak lagi yang lain. Beberapa paket olahraga & rekreasi lain tidak saya sebutkan seperti paket cruise karena menilik harga yang ditawarkan mending saya gunakan untuk bermalam di Novotel (mencapai > 80 US$).

Sungguh kawan, punya rekan yang bekerja di bidang pariwisata sangat membantu untuk mendapatkan beragam harga yang murah. Pada akhirnya saya dan rekan mendapatkan paket olahraga & rekreasi parasailing, jet ski, banana boat, dan fly fish dengan harga Rp. 350.000,- (jauh lebih murah dibanding paket yang ditawarkan tur lain Rp. 465.00,-).

Sekedar tips, jauh lebih baik untuk mengambil paket dibandingkan membayar per jenis olahraga karena harga menjadi jauh lebih mahal. Sekedar contoh, rate parasailing Rp.125.000,-, jet ski : Rp. 200.000,-.

Sayang sekali, kami tiba di pantai Nusa Dua pada siang hari (jelas faktor bangun pagi penyebabnya). Air sedang surut sehingga parasailing tidak dapat kami lakukan. Jadilah paket olahraga tersebut diganti dengan rekreasi glass bottom boat + turtle farm.

a. Banana Boat

Banana boat merupakan jenis rekreasi menggunakan perahu karet berbentuk seperti pisang yang ditarik oleh kapal motor. Kapasitasnya sendiri maksimal 6 orang plus seorang guide yang berada paling depan guna mengontrol keseimbangan perahu. Berada dalam banana boat memang memiliki sensasi tersendiri. Sayangnya setelah mengitari pantai Nusa Dua sekitar 10 menit, terbersit tanda tanya, kenapa banana boat ini tidak jatuh? Apakah 1 orang penjahat + 1 orang lugu + 4 warga Korea menjadi sangat kompak sehingga perahu ini tidak jatuh?? Ternyata jika ingin sedikit berendam di laut kita harus meminta sang guide untuk menjatuhkan banana boat sebanyak yang kita minta biasanya 2 atau 3 kali. Jika tidak ada request, biasanya sang guide sungkan (tidak tega) untuk menggoyangkan banana boat.

Sekedar tips, bagi rekan-rekan yang ingin merasakan sensasi menaiki banana boat, mintalah sang guide untuk menjatuhkannya dan rasakan sensasi teriakan-teriakan maut, atau mungkin tubrukan-tubrukan yang sangat mungkin mengakibatkan sedikit keseleo (pengalaman seorang rekan yang cidera akibat dijatuhkan dari banana boat).

b. Fly fish

Sebuah perahu karet yang memiliki kapasitas 2 orang penumpang ditarik oleh sebuah kapal motor sehingga berada di ketinggian sekitar 15 – 20 meter dari permukaan air laut selama beberapa saat. Itulah permainan fly fish yang memang sangat sensasional terutama bagi yang baru merasakan permainan ini pertama kalinya. Yang saya salut dalam fly fish adalah guide yang menemani saya dan rekan dalam permainan ini. Begitu kuat dan fearless..!! Mungkin sudah menjadi pekerjaan dia sehari-hari sehingga hanya dengan memegang satu ikatan dengan satu tangan dia mampu untuk mengawal penumpangnya yang jelas-jelas memegang 2 ikatan dengan kedua tangan seakan-akan besok mau kiamat.

Cukup sulit mendeskripsikan dengan kata-kata sensasi bermain fly fish, apalagi pengambilan foto sangat sulit dilakukan kecuali anda adalah golongan pemberani seperti pasukan dalam film 300 sehingga mampu memegang ikatan dengan satu tangan dan tangan lain memegang kamera. Selama beberapa saat di udara kita dapat memandangi keindahan pantai Nusa Dua dari sudut ketinggian tertentu.

Sayang sekali permainan ini hanya berlangsung selama 2 putaran dengan lama waktu kurang lebih 10 menit. Permainan ini menjadi terasa sangat singkat jika anda menikmatinya. Namun bagi penganut acara fear factor, 2 putaran ini akan mengocok perut anda dan membuat anda berteriak meminta guide segera mendaratkan perahu ke tepi pantai.

c. Jet Ski

Jet ski @ Nusa Dua

Jet ski @ Nusa Dua

Saya kira hampir semua orang sudah paham dengan olahraga air yang satu ini. Bagi yang baru akan pertama kali mencobanya jangan khawatir, seorang guide akan memandu anda dari belakang. Walaupun anda cukup lihai mengemudikan motor air ini, sudah menjadi standar perusahaan seorang guide harus tetap menemani.

Olahraga ini mewajibkan anda untuk percaya bahwa motor air ini aman dan tidak akan membuat anda terjatuh. Kecepatan beradapatasi dengan percikan ombak menjadi kunci untuk dapat memacu kendaraan sekencang mungkin.

d. Glass Bottom Boat & Turtle Farm

Kedua jenis aktifitas di atas merupakan satu paket yang hanya berupa rekreasi.

Glass bottom boat adalah perahu yang didesain dengan kaca berada di bagian tengah dengan maksud untuk melihat ikan yang berada di bawahnya. Jangan lupa untuk membawa roti yang akan digunakan untuk memancing ikan mendekati perahu.

Sayang sekali hari sudah sore dan pantai sedikit kabur sehingga ikan yang kelihatan pun tidak banyak.

@ Turtle Farm

@ Turtle Farm

Hanya sesaat berada di tengah laut memberi makan ikan dengan roti, perahu motor segera beranjak menuju lokasi peternakan penyu (turtle farm). Lokasi peternakan penyu berada pada sebuah pulau yang lokasinya tidak jauh dari Nusa Dua, sekitar setengah jam lama perjalanannya.

Peternakan penyu ini ternyata tidak hanya memiliki hewan penyu sebagai daya tariknya. Di sini terdapat beberapa spesies hewan langka lain seperti iguana dan elang yang menjadi daya tarik tersendiri. Satu hal yang cukup mencengangkan, penyu-penyu ini ternyata dapat bertahan hingga puluhan bahkan mungkin ratusan tahun. Seekor penyu tertua yang kami temui berusia 70 tahun. Wow pastinya di usia segitu sudah tidak mungkin dia diijinkan untuk party di paddy’s café (apa hubungannya???).

FYI

-         Retribusi masuk : -

-         Harga satu paket rekreasi di atas Rp. 350.000,-

-         Tiap-tiap tour menawarkan price yang berbeda, carilah yang termurah dengan membeli secara paket sekaligus.

2. Padang-padang

Lokasi pantai padang-padang dapat ditempuh kurang lebih setengah jam dari Nusa Dua. Kita akan melewati terowongan kecil dengan beberapa anak tangga sebelum mencapai pantai yang sepertinya belum begitu populer di kalangan tourist.

Pantai ini menawarkan keindahan karang dan pasir putihnya. Ombaknya pun cukup baik dan sepertinya sangat menyenangkan untuk berenang di tepi pantai (sayang sekali tidak membawa baju ganti).

Ah, pengakuan, aksi beach boy pun akhirnya kusaksikan live di sini. Memang hebat para beach boy Bali ini. Rayuannya mampu menggetarkan korban-korbannya yang memang mayoritas tourist mancanegara. Sungguh merupakan mahaguru bagi anda yang ingin belajar menjadi seorang playboy sejati.

FYI :

-         Retribusi masuk : -

-         Parkir : Rp. 1000,-

3. Dream Land

Pantai Dream land hanya berjarak kurang lebih 15 menit dari lokasi pantai Padang-padang dengan melewati jalan Pecatu Resort.

Mantap kawan..!! Mungkin bisa saya katakan ini pantai terindah dari beberapa pantai yang saya kunjungi di Bali. Ombaknya sangat baik bagi para surfer level intermediate-advanced denga tinggi ombak mencapai lebih dari 3 meter.

Beberapa renovasi dan perombakan pun terlihat dari pantai ini, sangat baik bagi anda kaum pecinta laut dan pantai. Sayang sekali waktu sudah beranjak malam sehingga yang bisa dilakukan hanyalah beranjak mengangkat kaki dan membayangkan berapa kira-kira price untuk stay di lokasi Pecatu Resort yang katanya dimiliki oleh Tomy soeharto ini.

FYI :

-         Retribusi masuk : Rp. 5.000,-

4. Jimbaran

Inilah lokasi terbaik bagi rekan-rekan yang ingin merayakan sebuah event tertentu dengan pasangan. Candle light dinner di tepi pantai ditemani alunan musik dari pemain-pemain musik akustik, sungguh sebuah nuansa yang sangat touching. Mungkin jika anda melamar pasangan anda di tempat ini dan jawabannya adalah ‘sorry, I can’t”, berarti jelas itu semua adalah faktor wajah dan ketidakberuntungan. Percayalah, jika soal mood, tempat ini paling pas untuk membangkitkan mood seseorang.

Candle Light Dinner @ Jimbaran, Gorgeous...!!!

Candle Light Dinner @ Jimbaran, Gorgeous...!!!

FYI :

-         Retribusi masuk : Free

-         Dinner : ± 300 rb untuk 3 orang (tergantung pemesanan)

Bali (2)

1.         Denpasar

Esok harinya, di hari kedua menyusuri lokasi wisata Bali, saya dan rekan memutuskan untuk berangkat menuju Denpasar. Berbekal sedikit keterangan dari penjaga hotel, saya memacu kendaraan beroda dua yang kami sewa dengan perjuangan tawar-menawar yang cukup pelik.

Perjalanan menuju Kuta-Denpasar memakan waktu 1 jam lebih. Mungkin bisa lebih singkat jika kami tahu direction yang tepat. Sayang sekali, 2 orang Merauke yang buta tuli dengan Bali hanya mengandalkan papan petunjuk arah yang bertuliskan Denpasar.

Denpasar menawarkan wisata city view dengan beberapa lokasi wisata seperti museum dan alun-alun kota. Tidak banyak lokasi wisata yang bisa dieksplor dari wilayah ibu kota propinsi Bali ini. Tapi setidaknya keinginan untuk menjajaki Denpasar sudah terpenuhi dengan satu prinsip, jika ditanyakan orang apakah sudah menginjakkan kaki di Denpasar, jawabannya adalah “Yes, I do” .

13

Di depan monumen Puputan "Niti Mandala Renon"

Lokasi wisata yang sempat saya kunjungi adalah monumen Puputan “ Niti Mandala Renon”. Sejujurnya saya dan rekan tiba di sini karena murni tersesat, tidak jelas mau ke mana lagi. Entah bagaimana, tiba-tiba di hadapan kami ada lapangan dan sebuah bangunan cukup megah di tengahnya yang kami sangka sebagai Pura pada awalnya.

“Ini adalah museum kepahlawanan”, kata penjaga loket.

“ Ada apa di dalamnya bu?”, tanyaku.

“Oh, di dalamnya ada apa ya……., ada monumen perjuangan, dan benda-benda sejarah kepahlawanan” jawab penjaga loket dengan sangat meragukan.

Ternyata memang betul dugaanku, tidak ada apa-apa di dalamnya. Ibu itu salah besar. Hanya terdapat 2 buah lukisan perjuangan pahlawan Bali. Dikarenakan sudah terlanjur membayar, ada baiknya mengeksplor sedikit museum ini. Dengan menaiki anak tangga ternyata kita akan melihat view yang lumayan bagus akan Denpasar. Yah lumayanlah dari pada tidak ada yang bisa dilihat.

Sedikit informasi yang diperoleh, di lokasi inilah tempat pejuang-pejuang Bali dikumpulkan oleh penjajah Belanda kemudian ditembak mati secara bersamaan. Sungguh tragis. Untuk mengenang kejadian itu, dibangun sebuah monument perjuangan Bali atau yang biasa disebut Puputan Bali.

2.        Pantai Batubeliq

Selepas makan siang di Denpasar, saya dan rekan menjadi kebingungan. Waktu baru menunjukkan pkl. 13.00 dan belum jelas hendak ke mana sang kuda ”supra” ingin dipacu. Tiba-tiba ide brilian muncul, ” Ke tanah Lot yuk”. Dengan mantapnya temanku menjawab ” Ayo..!!”.

Oh kawan, sebenarnya tidak semudah dan sesimpel itu masalah selesai. Yang menjadi masalah adalah ini pertama kali kami ke Bali, dan dengan sombongnya 1 orang lugu + 1 orang penjahat hendak berangkat ke Tanah Lot yang entah berada di mana dan koordinat berapa dari lokasi kami saat ini.

Percaya diri, satu-satunya hal yang selalu kuandalkan dalam melakukan banyak hal. Satu hal yang kuingat adalah saya sempat melihat tanda papan Tanah Lot dalam perjalanan dari Kuta menuju Denpasar. Jadi jelas yang harus kulakukan adalah menyusuri jalan sambil memperhatikan tanda papan menuju Kuta dan berharap di tengah jalan akan menemukan tanda papan bertuliskan menuju ”Tanah Lot”.

Taktik yang jitu. Akhirnya kutemukan juga tanda papan bertuliskan Tanah Lot. Setelah mengikuti petunjuk papan dan sesekali bertanya kepada pengendara motor, akhirnya sampai juga ke sebuah daerah yang bernama pantai ”Batubeliq”. Lo, kok bukan Tanah Lot?? Yah berarti jelas, faktanya kami kesasar (sekedar mengingatkan, terlalu pede juga kurang bagus).

Batubeliq layaknya pantai yang lain di Bali juga merupakan pantai yang indah. Ombaknya lumayan besar dan pastinya menyenangkan bagi tourist yang hobinya berjemur sambil memandangi keindahan pantai (tapi tidak bagi saya, berjemur?? No way). Mungkin karena kurang terekspos sehingga tidak banyak orang yang berkunjung ke sini.

3.       Tanah Lot

Setelah bertanya kepada orang di sekitar Batubeliq tentang lokasi Tanah Lot, saya mendapatkan jawaban bahwa jarak kami hanya 15 menit untuk sampai ke tempat tujuan. Ah, menyenangkan sekali, berarti kami sudah sangat dekat.

Dengan semangat 92 (sesuai tahun kelahiran versi facebook dan friendster), kupacu motor nan lambat dan tidak terawat ini (ciri-ciri motor rental di Bali pada umumnya usang dan tidak terawat). Motor ini meliuk-liuk dengan sombongnya menyusuri sepanjang jalan menuju Tanah Lot, kubalap sekencang-kencangnya pada trek lurus, dan waktu telah menunjukkan sudah lebih dari 40 menit perjalanan kami dari arah Batubeliq. Oh come on, kenapa orang indonesia selalu bermasalah dengan jarak dan waktu. Katanya 15 menit, mana komitmenmu???? Amarah yang hanya kupendam dalam hati karena tidak mungkin untuk berputar balik mencari informan tadi, dan kemudian menanyakan integritasnya. 45 menit sudah kami tempuh dan akhirnya Tanah Lot, sebuah daerah wisata yang sangat terkenal dan banyak dijadikan sebagai lukisan dinding maupun lukisan pada kartu ucapan, dapat kami capai.

Indahnya Tanah Lot (1)

Indahnya Tanah Lot (1)

Memang indah Tanah Lot ini. Keindahan laut dan karang-karangnya menambah khasanah tersendiri dalam menikmati wisata alam. Daerah ini sering dijadikan sebagai lokasi sesi foto pre wedding karena keindahannya. Sayang sekali pengunjung dilarang untuk masuk ke lokasi tempat sembahyang. Pastinya view dari atas karang di tepi laut (lokasi tempat ibadah) akan jauh lebih indah.

FYI :

-         Karcis masuk monumen Puputan : Rp. 5.000,-

-         Karcis masuk Tanah Lot : Rp. 10.000,-

-         Pantai Batubeliq : Free

Bali (1)

Hari pertama di Bali memang luar biasa. Malam pertama dihabiskan dengan ngelantur ngalor-ngidul tidak jelas, jadilah 2 orang lugu + 1 penjahat (saya tentunya) tidak istirahat sama sekali.

 Kegiatan pertama di pagi hari nan cerah adalah berenang. Wow…., mantap….!! Lumayanlah sudah lama sekali tidak menyentuh kolam renang. Walaupun airnya sangat jernih sehingga saking jernihnya daun dan sampah terlihat jelas tidak membuat saya patah arang. SEMANGAT…!! Bali bukan tempat untuk tidur, wajib ada kegiatan!!! Kata-kata mulia yang sebenarnya tidak pantas saya ucapkan karena saya yang paling hobi tidur diantara kedua rekan yang lain. Setelah lumayan puas berenang, segera mandi dan siap menuju pantai Kuta.

 Ah, sungguh kawan, sesaat setelah mandi, kasur itu tiba-tiba terlihat indah, dingin AC membuat saya ingin sekali tidur. Tapi kantuk segera hilang mendengar teriakan tetangga sebelah, “Ayo, cepat sudah, sa su siap…!!!!”.

 1. Pantai Kuta

Mantap…!! Kata-kata yang selalu kugunakan melihat keindahan pantai Kuta. Memang pantai ini sangat baik dinikmati sewaktu pagi ataupun sore. Kalau siang, yah selamat deh, 100% pasti gosong. Sehebat dan setinggi berapapun sunblock dengan spf nya, dipastikan tetap gosong, kecuali tujuan anda murni berjemur dan menghitamkan diri.

Indahnya pantai Kuta dengan pondok-pondok peristirahatan sepanjang pantai

Indahnya pantai Kuta dengan pondok-pondok peristirahatan sepanjang pantai

Setiap orang di pantai melakukan kegiatannya masing-masing, ada yang berjemur, berselancar, bahkan latihan yoga. Nah bagi yang baru belajar surfing, pantai Kuta adalah jawabannya. Ombak yang smooth dan tidak tinggi memudahkan anda untuk latihan berselancar. Semilir angin menambah kekhusukkanku dalam memejamkan mata. Sungguh, semalam suntuk tanpa istirahat dan didahului dengan berenang merupakan sebuah cobaan berat.

Tiba-tiba di sekeliling orang-orang mulai menawarkan untuk beristirahat di pondok yang mereka sudah buat di sepanjang pantai. Nah terjawab sudah pertanyaan di dalam hati ini, mengapa begitu banyak pondok sepanjang pantai, dan sedikit sekali yang digunakan. Mayoritas tourist hanya berbaring di pasir pantai. Kenyataannya, anda diwajibkan untuk merogoh kocek yang lumayan dalam untuk hitungan per jam nya.

”Berapa bli??” Pertanyaan iseng yang kulontarkan kepada beach boy penyewa pondok.

”50 rb sejam mas, sekedar pelaris”. Jawaban tak berdosa dari sang tuan pemilik pondok.

Pantai Kuta, lokasi yang sangat cocok bagi surfer pemula

Pantai Kuta, lokasi yang sangat cocok bagi surfer pemula

Ada juga yang mengatakan, “kalau biasanya disewakan100rb/jam, di Bali memang segitu harganya”. Ah sungguh, meskipun saya punya duit, tak rela rasanya untuk pondok seperti itu harus kubayar 100 rb/jam. Mending ngadem di McD, ataupun Discovery mall, sudah bisa ngadem, dapat makan dan minum sekaligus melihat pantai Kuta. Sorry kawan, anda kurang beruntung bertemu dengan penasihat ekonomi pribadi Orang DUSun.

 Setelah lelah berjalan dengan teman dan kaki ini mulai terasa pegalnya, akhirnya mulailah duduk di tepi pantai. Saya hanya bisa memejamkan mata karena kantuk yang berat…

”De, mau dipijit de???”

”Mas-mas, tattoo mas…..”

“De. Beli kainnya dek….”

 “De, gelangnya dek…….”

”De, mau dikepang????”

Busyet, serangan beruntun dan bertubi-tubi dari ibu-ibu pedagang, penjual jasa, dan tattoers (julukanku untuk yang suka mentato kulit orang). Saya benar-benar belum siap menghadapi serangan ini, dan hanya bisa mengeluarkan satu jurus, semakin tertidur. Sungguh prihatin temanku satu itu, dia akhirnya menyerah untuk membeli sepotong kain seharga Rp. 25 rb setelah melewati pertarungan yang berat. Dan alamat bukan menyelesaikan masalah, melihat dia membeli sepotong kain, semakin banyak pedagang dan penjual jasa yang mengerubutin dirinya. Benar-benar gula diserang semut. Samar-samar kudengar percakapannya :

“Berapa bu kalau dikepang??” Tanya temanku..

”Ah 100 ribu saja, bisa ditawar kok”, jawab ibu kepangers (julukanku untuk si ibu pembuat kepang).

Saya yakin dan percaya pasti hati temanku mengatakan ”sekelas Johny Andrean saja tidak semahal itu bu!!”.

Entah berapa banyak pedagang dan penjual jasa yang masih mengerubutin teman kami, dan salah satu berpesan kepada teman saya, ” jangan lupa kalau mau mijet panggil saya ibu no.16”.

 Kaki yang pegal ini menyerah juga. Akhirnya kuputuskan untuk pijet pada seorang ibu yang entah dari mana tiba-tiba kubuka mata sudah berada di hadapan saya.

”Berapa bu??” tanyaku.

” 50 rb saja dek..”, jawab si ibu tersebut.

”15 rb bu, kan cuman kaki saja.”, kukeluarkan ilmu tawar menawar yang kupelajari secara otodidak dari ibuku.

Setelah melewati beberapa diskusi, akhirnya tetap pada harga 15 rb. Menang juga akhirnya…

Mulailah ibu tersebut mengambil minyak dan memijat betisku yang memang sangat pegal. Tiba-tiba sang ibu No. 16 datang dengan gagahnya dan mulailah marah-marah. Entah saya hanya dengar samar-samar yang pada intinya mempertanyakan eksistensi dirinya yang tidak diakui. “Saya kan sudah bilang hubungi saya ibu no. 16, kenapa sih pake orang lain..!!”. Wah ibu ini benar-benar tidak mengerti bahwa konsumen di atas segalanya. Dia sama sekali tidak berhak untuk komplain dan dapat dilaporkan ke YLKI (ah tidak sekejam itulah..). Yah kubiarkan ibu itu menggumam, dan melepaskan kesalnya. Dalam hati kuberkata, ” anda mungkin belum beruntung bu ”.

5 menit setelah mulai dipijit, panas matahari benar-benar menyengat. Ibu yang memijat saya menawarkan untuk pindah ke tempat yang lebih dingin. Saya sangat setuju, dan mulai beranjak ke tempat yang lebih dingin.

”Nah kalau di sini harganya jadi 50 rb”, kata ibu tersebut dengan sikap sangat lugu padahal benar-benar MENJIJIKKAN..!!

Bagaimana mungkin hanya berpindah 5 meter untuk mendapatkan tempat yang lebih dingin harganya naik 3 x lipat. Ibu ini tidak sadar berhadapan dengan orang yang memegang teguh komitmen terutama berkaitan dengan dunia keuangan.

”Bu, yang benar saja, masa pindah 5 meter naik ga kira2, ga mau..!! Jawabku dengan lantang.

”Ya sudah kalau gitu 20 rb saja”, respon ibu tersebut lebih lanjut.

”Ga bu, mana komitmen ibu”, weiiss inilah kata-kataku yang sering kulontarkan kepada rekan-rekan yang hobinya melanggar janji.

”Iya-iya, 15 rb saja” jawab ibu tersebut sadar kembali.

Sedikit mengherankan memang, tapi yah harus dipahami, dari situlah mereka mencari nafkah, walaupun caranya membuat konsumen menjadi tidak nyaman.

 Akhirnya saya bisa menyimpulkan bahwa pantai Kuta sangat indah, namun sangat disayangkan manajemen pengelolaan para penjual jasa maupun pedagang sangatlah lemah. Tourist menjadi sangat tidak nyaman duduk berlama-lama menikmati pantai karena akan diserbu oleh pedagang dan penjual jasa. Pemerintah sekiranya harus memikirkan bagaimana mengelola pantai ini agar selalu didatangi turis-turis dan membuat kesan yang jauh lebih mendalam. Adalah lebih baik jika dibuatkan peraturan pengelolaan pedagang dan penjual jasa yang membuat larangan untuk menawarkan dagangan dan jasa kepada tourist melainkan mereka yang akan didekati tourist.

Lho, bagaimana caranya??

Tiap-tiap segmen pedagang ataupun penjual jasa dibuatkan space khusus. Khusus pemijat berada di sudut tertentu, kemudian difasilitasi kasur kecil, ataupun kain untuk berbaring di pasir pantai. Di sebelahnya terdapat kepangers, tattoers, dll. Wisatawan akan lebih termotivasi untuk datang karena jauh lebih comfortable. Hal ini akan menjadikan pantai Kuta kelihatan lebih dinamis dan teratur.

 

2. Uluwatu

 Setelah dari pantai Kuta, saya dan rekan balik menuju hotel. Yah lumayan istirahat 2 jam sambil menunggu rekan yang bekerja di salah satu perusahaan tur di Bali. Sangat beruntung memiliki teman yang bekerja di tour, seluk-beluk pariwisata sangat beliau pahami. Bahkan soal harga tiket voucher murah jangan tanyakan, beliaulah pakarnya.

Jurang dan Laut di Uluwatu (beautiful)

Jurang dan Laut di Uluwatu (beautiful)

Sekitar pkl. 3.30 sore kami berangkat menuju uluwatu menggunakan motor yang kami sewa di hotel tempat kami tinggal. Motor sewa/rental di Bali rata-rata sudah dimodifikasi khusus untuk memiliki tempat meletakkan papan selancar dan biasanya motor tersebut sudah cukup berumur dan kurang terawat. Perjalanan Kuta-Uluwatu memakan waktu kurang lebih 1 jam.

 Uluwatu merupakan daerah yang memiliki banyak jurang dengan view laut yang sangat indah. Seperti kebanyakan daerah wisata lain, uluwatu juga merupakan tempat peribadatan, sehingga diwajibkan untuk menggunakan semacam kain sarung dan ikat pinggang kain sebelum masuk ke dalam daerah wisatanya. Satu hal yang wajib diketahui, di sini terdapat banyak monyet yang dengan gagah berani akan mengambil anting-anting atau kaca mata jika anda kurang waspada. Jadi, waspadalah-waspadalah.

 Sangat disarankan untuk rekan-rekan jika berkunjung ke sana, sempatkanlah untuk menonton kecak dance dengan view matahari terbenam. Sayang sekali saya tidak sempat menikmati atraksi ini dikarenakan lokasi tribun yang sudah dipenuhi penonton.

 3.  GWK

Setelah mengunjungi uluwatu, destinasi berikut yang dituju adalah GWK. Tujuan ke sini sebenarnya adalah untuk segera menonton Kecak Dance, tarian yang sebelumnya telah dipenuhi oleh penonton di lokasi Uluwatu. GWK ini sendiri berjarak tidak begitu jauh dari Uluwatu, kurang lebih 30 menit.

Sendra tari Ramayana @ GWK

Sendra tari Ramayana @ GWK

 

GWK merupakan lokasi yang sengaja dibangun dan didesign sebagai salah satu lokasi kunjungan wisata. Di sini terdapat patung-patung, galeri, lokasi sendra tari, dan merupakan tempat konser musik yang sangat bagus dengan rock wall di sekelilingnya (scorpion pernah manggung di sini).

 Akhirnya niat untuk menonton tari kecak terlaksana. Kami datang tepat waktu saat pelaksanaan sendra tari kecak ramayana baru akan dimulai. Sampai selesai tarian, tidak saya temukan tarian kecak yang biasa diperagakan oleh seorang rekan di kampus dulu. Ternyata, sendra tari kecak ramayana berbeda dengan tari kecak biasanya. Tarian ini merupakan tarian yang menceritakan tentang cerita Rama dan Shinta plus aktor antagonis Rahwana dan protagonis Hanuman. Sayang sekali, entah untuk menjaga unsur budaya dan originalitas dari tarian ramayana ataukah ada unsur-unsur tertentu di dalamnya, bahasa pengantar dan prolog pun diucapkan dalam bahasa asli Bali. Hal ini membuat banyak orang termasuk saya yang menjadi tidak mengerti dengan lakon yang dipentaskan oleh para penari. Walaupun tribun terlihat penuh, namun di tengah-tengah acara, para penonton mulai banyak yang beranjak dan meninggalkan lokasi pertunjukan.

 Sungguh ini merupakan tarian yang sangat unik dan menarik untuk disaksikan. Hanya saja jika memang dibolehkan, alangkah baiknya bila penampilan tari ramayana ini ditambahkan unsur pengantar yang disampaikan dalam bahasa inggris. Hal ini akan membuat penonton yang adalah mayoritas wisatawan mancanegara lebih memahami maksud dan tujuan dari setiap lakon yang ditampilkan.

 

FYI :

-          Tiket Masuk Pantai Kuta : Free

-          Massage di tepi pantai : Rp. 15.000 (15 menit)

-          Tiket Uluwatu: Rp. 3.000,-

-          Tiket Masuk GWK : Rp. 20.000,-

-          Sewa motor: Rp. 30.000/day

Bali

Ah, sungguh menyenangkan, akhirnya bisa tiba di Pulau Dewata juga. Setelah beberapa tahun mengatakan akan segera ke sana, baru april 2009 ini akhirnya terwujud juga (thx pak Ferdi atas kesabarannya, he…).

Dengan menumpang pesawat mandala Jogja-Denpasar, tibalah juga di lokasi wisata yang mendapat predikat pulau terbaik di dunia ini. Kesan pertama saya terhadap bandara Ngurah Rai adalah bandara ini cukup bagus, namun tidak memenuhi ekspetasi saya yang terlanjur tinggi dengan menganggap bandara ini sebagai international airport dan didarati banyak burung bersayap besi dari berbagai negara. 2 orang rekan yang sudah menunggu di bandara akhirnya kutinggal pergi akibat sedikit misunderstanding, jadilah sendirian melaju dengan taksi bandara menuju hotel di kawasan Kuta (padahal sudah dibela-belain menyamakan schedule, he……).

Kota ini memang sangat hidup, baik siang maupun malam. Sepanjang perjalanan yang terlihat adalah mayoritas cafe dengan segala fasilitasnya yang sangat menghibur. Ah, sungguh kesan yang sangat baik, semakin membuatku ingin mengeksplor lebih jauh ke sudut-sudut kota.

Mengikuti tema besar krisis global dan keharusan penyesuaian budget, jadilah lagu wajib untuk tinggal di kawasan Poppies-Kuta, sebuah area dengan banyak penginapan murah yang berada hampir di setiap sudut-sudut gang. Hotel yang saya tempati bisa dikatakan sangat layak jika dibandingkan dengan harga per malamnya. Mungkin cukup sulit bagi anda yang sebelumnya terbiasa dengan fasilitas hotel yang jauh lebih mumpuni, dan memang itulah yang kurasakan pada 1-2 hari pertama. Tapi apa daya, ada harga ada barang, berani membayar murah, jangan berharap terlalu tinggi, pepatah lama karangan Mpu Irfan (Penjahat yang merekomendasikan hotel ini..). Tapi sungguh kawan, dibandingkan dengan harga yang ditawarkan, fasilitas hotel yang dimiliki sudah lebih dari cukup.

Tanpa ingin berlama-lama, walaupun waktu sudah menunjukkan pkl. 23.45, hotel hanya dijadikan sebagai tempat persinggahan sementara, dan mulailah berjalan mengitari pantai Kuta dan kawasan Jl. Legian. Sebagai orang dusun (Odus), melintasi jalanan sekitaran pantai Kuta dan kawasan Legian sangatlah menyenangkan. Berada di pulau ini layaknya kita berada pada sebuah daerah yang lokasinya tidak berada di negeri ini, sebuah daerah yang terletak di antara beberapa negara dari timur hingga barat (mungkin karena sudah kebiasaan di hutan dan dusun, he…). Mayoritas pelancong yang mengisi kawasan Kuta-Legian merupakan tourist dari Korea, Jepang, Taiwan, Australia, Prancis, dll. Sangat majemuk terutama jika kedatangan 2 orang lagi tourist yang kalau boleh disebut bertetangga dengan Jerman yaitu Merauke, Jerman = Jeruk Manis.

Tak ayal, waktu telah menunjukkan pukul 3 dinihari. Balik kanan menuju hotel, dan bukannya istirahat malah ngelantur dengan kedua rekan di hotel. Jadilah malam pertama di Bali diakhiri dengan tidak tidur sama sekali. Siap fisik untuk melanjutkan kegiatan selanjutnya, menuju Kuta Beach di pagi hari………(to be continued)

FYI :

Hotel @Kuta

Hotel @Kuta

- Hotel di Kuta : 125.000/night  ; Facility : swimming pool, bath up, hot water, spring bed, ac, breakfast (bread + egg   only).

- Tiket Jogja – Denpasar : Rp. 350.000,-

- Airport Tax Jogja : Rp. 25.000,-

- Taksi Bandara Denpasar – Kuta : Rp. 70.000,-

Rantau

Saya cukup heran melihat perkembangan saya saat ini. Sungguh kawan, saya saat ini benar-benar menjadi seorang perantau. Seorang perantau dari ujung papua yang sejatinya asli sulawesi, studi di Jawa dan kesasar saat ini di kalimantan. Bertemu dengan keluarga hanya beberapa tahun sekali.

Sebagai seorang anak terakhir dari 4 bersaudara, satu hal yang cukup aneh adalah hanya anak pertama dan kedua yang masih berada di Merauke, sisanya mencari sesuap nasi hingga entah ke mana arus membawa.

Saudara saya yang ke-3 merupakan seorang militer, sehingga dia jelas harus berkeliling sesuai perintah negara.

Tinggallah saya saat ini yang bekerja agak “aneh” sendiri, di bidang pertambangan, bidang penuh resiko, walaupun gajinya lebih baik sedikit dari PNS tapi belum tentu bila dilihat dari segi pendapatan (pendapatan seorang PNS bisa sangat besar walaupun gajinya kecil, tanya kenapa????) . Kenapa aneh?? Yah bagi seorang anak kampung, sangat jarang bidang ini ditekuni. Di Merauke kota tercinta, pekerjaan utama mayoritas setiap orang adalah Pegawai Negeri Sipil. Pekerjaan yang mengasyikkan bagi yang ingin berada pada jalur low risk of life tapi tetap happy. Pekerjaan lain yang mungkin adalah pedagang, petani, pekerja swasta, dll. Kuli tambang???? Wah tentu sangat jarang, dan persepsi setiap orang adalah pasti gajinya besar. Tak tahukah mereka bahwa itu hanyalah isu belaka, bisa hidup independent sudah syukur.

Resiko seorang perantau terutama bagi saya adalah ketiadaan rumah ketika cuti. Yah numpang menjadi solusi terbaik. Berbeda jika menjadi PNS di Merauke, sudah ada rumah ortu, atau mungkin perumahan jika ditempatkan di pedalaman, dan juga ada tanah yang bisa diurus untuk dibuatkan rumah tinggal di atasnya. Di Jawa, tidak berbekas sama sekali. Tidak ada tanah apalagi rumah. Jadilah kewajiban memiliki rumah adalah prioritas tertinggi karena tidak mungkin mengharapkan belas kasihan orang lain terus, apalagi berharap memenangkan kuis. Memang harus bersabar kalau soal ini dan menjalankan hidup sesuai dengan rencana semula (seperti dalam tulisan sebelumnya tentang rumah).

Hal yang paling menyenangkan sebagai perantau adalah berada di daerah masyarakat/suku lain yang memiliki adat istiadat berbeda. Bertemu dengan suku Kubu, sebuah kaum masyarakat di pedalaman Jambi yang selalu berpindah-pindah, menjadi sebuah pengalaman sendiri. Meskipun sudah dibuatkan perumahan untuk menampung mereka, percayalah rumah itu akan ditinggalkan, dan akan selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.

Pengendara motor di Banjarmasin mengingatkan saya akan Valentino Rossi. Motor dikebut terus, meskipun ada mobil yang hendak mundur. Sungguh kesabaran menjadi cobaannya.

Hal yang paling berkesan adalah kehidupan warga trans Jawa di tempat saya tinggal saat ini, Sebamban, Kecamatan Angsana, Kalsel. Gotong-royong masih sangat dipertahankan. Hampir tiap minggu ada pernikahan, dan setiap orang berbondong-bondong untuk saling bantu pihak yang mempunyai hajatan. Hampir setiap hari pula mess kami dibagikan makanan dari rumah tetangga. Kehidupan masyarakat di sini mencerminkan ciri khas orang Jawa sebenarnya yang kalau boleh jujur sudah mulai hilang di tanah aslinya sendiri.

Satu hal yang pasti, tidak ada satupun suku masyarakat yang tidak baik. Baik Dayak, Papua, Makasar, Jawa ataupun suku bangsa lain semuanya pada dasarnya ramah, hanya cara intonasi berbicara masing-masing yang berbeda. Selama bertujuan baik, saya yakin kemanapun angin membawa, tidak menjadi rintangan yang terlalu sukar dilewati. Hanya saja seringkali ada oknum-oknum tertentu yang mampu untuk memprovokasi masyarakat sehingga mudah terbujuk untuk menjadi kasar, bahkan beringas. Oknum-oknum inilah sejatinya merupakan perusak moral bangsa.

Sungguh menyenangkan bisa mengenal begitu banyak karakter masyarakat bangsa ini langsung dari tempat asalnya. Tapi sejujurnya jika pertanyaan dialamatkan ke saya, dimana lokasi homestay, Jogja jawabannya. Sangat menyenangkan berada di kota pendidikan yang tidak menjadikan masyarakat satu dengan yang lain individualistis layaknya Jakarta.

Menyenangkan memang, merantau ke tempat-tempat yang belum pernah didatangi, menganggap bekerja sebagai sarana berwisata gratis, dan jika suatu hari kelak sudah merasa jenuh dan lelah, dapat mengganti aktifitas menyenangkan di Jogja bersama keluarga tercinta.

Ah, sungguh mulia cita-citamu nak,……., kuaminkan terjadi…

A moment to remember

Sekitar 2 minggu lalu ketika saya di Jakarta, kegiatan copy dan download film wajib disempatkan (mumpung koneksi sangat memungkinkan). Ada sekitar 50 lebih film yang saya download dari internet maupun dari hard disk eksternal teman-teman di Jakarta. Taktik saya selalu sama, sebelum masuk ke hutan copy lah sebanyak mungkin film sebagai modal di hutan, Yah mungkin seperti rekan Wenny dalam blognya bahwa meskipun dapat dikategorikan pembajakan tapi yah tidak seberat kesalahan kalau korupsi kan?? (he…sedikit pembelaan diri).

Kemarin saya menonton 2 film korea secara berurutan di laptop. Entahlah, kenapa tiba-tiba lagi suka film asia. Film pertama berjudul “ A moment to remember “, sebuah film drama yang sangat menyentuh. Film kedua bergenre komedi berjudul “Mr Kim vs Mr Kim vs Mr Kim”. yang kalau boleh jujur bisa saya katakan sebagai salah satu film komedi terbaik di dunia. Kok bisa dikategorikan seperti itu?? Karena di mess yang hening ini, tawa saya menggelegar sampai ke rumah tetangga (jadi ga enak nih..), yah sambil melepaskan segala penat dan masalah-masalah baik kerjaan ataupun masalah pribadi.

Saya ingin membahas tentang film pertama, “ A moment to remember “. Inilah film drama yang pure drama, sebuah genre film yang sebenarnya tidak begitu saya sukai, kecuali bila ada unsur komedi ataupun actionnya. Lha, kok ditonton kalau begitu??? Kurang paham, tapi tiba-tiba diklik dan langsung suka.

Ceritanya sederhana, tentang seorang gadis kaya yang menyukai seorang pekerja konstruksi bangunan (kuli bangunan) kemudian menikah. Permasalahan utama muncul setelah menikah, yaitu dengan didiagnosisnya wanita ini (lupa namanya….) menderita penyakit Alzheimer, yaitu penyakit yang dapat menggrogoti daya ingatnya sehingga lupa terhadap siapapun bahkan dirinya sendiri.

Perlahan-lahan tapi pasti daya ingatnya semakin melemah. Dia mulai lupa akan suaminya sendiri, dan klimaksnya sampai sifatnya seperti seorang anak kecil, yaitu ngompol dan tidak dapat mengenakan pakaiannya sendiri. Setiap proses dapat digambarkan oleh sutradara dengan sangat baik sehingga menjadi film yang sangat menyentuh bagi penontonnya.

Ada beberapa point yang saya ambil dari film ini :

- Gadis kaya tersebut mencintai pria tanpa melihat background dan pekerjaannya, yang pasti dia hanya yakin bahwa pria yang dicintainya adalah pria bertanggung jawab. Wah, jaman sekarang sulit rasanya, apalagi sama kuli tambang, he…..

- Tanggung jawab yang ditunjukkan pria tersebut. SALUT….!!!! Dia menolak tawaran dari ayah gadis tersebut untuk merawat anaknya yang menderita alzheimer. Dalam translate indonesianya, pria tersebut hanya berujar, ” Saya adalah suaminya, dan saya sangat mencintai dia. Saya yang bertanggung jawab kepada dirinya. Mantap bos…!!

- Kebaikan dan ketulusan seseorang yang disayangi dapat mengubah karakter orang lain. Hal ini ditunjukkan oleh sifat gadis itu yang selalu meminta agar suaminya memberikan maaf kepada ibu kandungnya sendiri, yang membuang dia ketika masih kecil. Kata-kata indah tersebut adalah, “ Pemberian maaf tidaklah sesulit itu. Memberi maaf hanyalah bagaimana kita membuka sedikit ruang di hati untuk menerima orang yang sudah melukai kita”. Nice words…….

Wah gile dus, lo jadi melankolis begini…??? He…he…, bukan begitu, tapi sungguh, this is a nice movie.

Dari keseluruhan film ini, satu hal yang benar-benar menjadi pembelajaran positif adalah sesuai dengan judulnya, a moment to remember. Ketika gadis tersebut mulai hilang ingatan, satu hal yang dia selalu tekankan adalah setiap kenangan tidak mungkin terulang. Ketika secara tiba-tiba dia mengingat segala sesuatunya, dia mulai langsung menuliskan apa yang diingatnya tersebut, sebelum segala sesuatunya tak berbekas kembali.

Sungguh kawan, film ini menyadarkan saya bahwa setiap kenangan indah yang mungkin pernah ataupun sedang saya alami, tidak mungkin terulang kembali. Satu-satunya cara untuk menghargai kenangan tersebut adalah dengan menikmati apapun yang sedang dihadapi saat ini, karena besok mungkin tidak akan terulang kembali. Ketika masih jadian dengan seseorang yang kita cintai, nikmatilah sebelum mungkin moment itu akan lenyap seketika (pengalaman pribadi nih…., he…)

Masa-masa indah SMU akan disesali dan ingin saya ulangi ketika berada di bangku kuliah. Pun hal yang sama ketika sudah bekerja, masa-masa kuliah yang menyenangkan menjadi satu kenangan tesendiri. Bermain bola bersama rekan-rekan kampus, tengah malam berangkat bersama teman-teman mencari angkringan, ataupun naik motor bersama ke gunung kidul dan ambarawa adalah moment-moment yang tak mungkin terulang. Moment-moment tersebut akan terasa indah sekali terutama ketika sudah tidak dijalani.

Begitulah teman, sudah sepantasnya kita bersyukur dan menikmati setiap kenangan indah yang sedang dilewati saat ini, karena mungkin kenangan-kenangan tersebut akan hilang dan tak berbekas………….

Thx God for every wonderful memory you’ve given to me……..

Being A superior, dalam hal ini bisa diartikan menjadi seorang atasan.

Kapan seseorang disebut atasan?? Jawabannya jelas, pada saat dia memiliki bawahan (ya iyalah dus, masa iya-iya ……). Sejujurnya seorang atasan akan dianggap qualified ketika dia mampu dianggap oleh bawahan sebagai benar-benar atasannya, bukan hanya sebatas di pekerjaan, bahkan ketika seragam yang melekat tidak dipakai lagi.

 

Saya coba membahas beberapa tipe direktur ataupun atasan yang pernah saya kenal dan mungkin saya alami sendiri.

 

I’m the man, u’re my subordinate…….

 

Entah berapa banyak atasan yang menggunakan jabatan yang melekat pada dirinya agar dihormati oleh karyawannya. Dalam hatinya selalu berkata, “Don’t u know that I’m ur boss…!! Respect me….!!

Sebagai contoh seorang direktur pada sebuah perusahaan tambang yang memiliki banyak anak perusahaan. Setiap dia berjalan dengan gagahnya di depan karyawan, pandangan selalu lurus ke depan, siapapun yang berada di kiri kanannya tidak digubrisnya. Setiap karyawan yang melihatnya berusaha untuk mengangguk, namun dalam hati mereka hanya ada makian dan sumpah serapah. Kenapa karyawan tetap menghormati dia?? Jawabannya hanya satu, takut dipecat…!!

Percayalah kawan, orang seperti ini dihormati hanya karena jabatan yang melekat pada dirinya. Yang menjadi pertanyaan adalah jika jabatan itu dilepas, akankah orang masih menaruh hormat padanya??? Mboh lah………

 

I’ll protect you, please protect me………….

 

Beberapa orang memiliki sifat sebagai seorang pemimpin yang sangat baik, yaitu selalu membela anak buahnya. Dia akan membela bawahannya selama dia anggap itu benar, bahkan mengancam karirnya sekalipun. Hanya saja terkadang pemimpin seperti ini meminta hal yang sama yaitu agar dia pun dibela dalam kondisi apapun. Hal ini yang membuat respect dari bawahan menjadi sangat berkurang, karena harus menutupi kekurangan yang dimiliki pimpinannya.

 

Good leader but lack of knowledge…

 

Kecerdasan seorang pimpinan sangat mempengaruhi penghargaan dan apresiasi dari bawahannya. Seorang yang saya kenal memiliki sifat leadership yang begitu baik dan banyak orang yang menghargai beliau sebagai seorang pimpinan. Akan tetapi dalam beberapa hal dia kurang cukup mantap dalam menyelesaikan masalah yang membutuhkan ”knowledge” dan ”smartness”. Hal ini akan sangat menghambat karirnya bila ingin mencapai tahap direksi.

 

Smart but not really a leader….

 

Beda lagi dengan seseorang yang saya kenal sangat cerdas, teliti, disiplin, dan masih banyak lagi kelebihan beliau hanya saja menurut saya leadershipnya kurang. Hal ini sangat terlihat di kala ada suatu moment yang membutuhkan quick response dan smart decision, beliau agak lambat dan terkesan kurang berani mengambil keputusan.

 

Great leader and Smart Person

 

Tipe atasan seperti inilah yang dapat membuat seseorang akan menjadi loyal dan selalu berkembang. Bawahan akan merasa selalu terbantu dan yakin berada di perusahaan yang tepat dengan tipe pimpinan seperti ini. Pekerjaan dan tugas apapun yang sulit akan dikonsultasikan dengan pimpinan langsung karena dianggap kompeten dan capable. Kemanapun topik dibahas dalam suatu meeting, baik secara teknis, ekonomi, sosial, dll dia masih mampu berbicara karena kecerdasan yang dimilikinya. Bawahan pun akan diperlakukan tidak layaknya bawahan tapi sebagai rekan kerja. Pimpinan seperti ini akan menganggap dan berasumsi bahwa dia akan menjadi besar apabila bawahannya pun bisa menjadi orang besar. Untuk itulah dia akan berupaya untuk menjadikan bawahannya menjadi orang yang hebat sepanjang bawahannya menerima ajakan atasan tersebut untuk dihebatkan.

Sangat berbeda dengan pimpinan kebanyakan yang menganggap kemajuan anak buahnya akan sangat mungkin membahayakan posisinya.

 

 

As the matter of fact, mayoritas karyawan resign dari sebuah perusahaan bukan karena perusahaan itu kurang baik baginya, melainkan karena pimpinannya dianggap tidak mampu mengakomodir dirinya.

Saya sendiri bukan tipe orang yang loyal terhadap perusahaan, melainkan terhadap atasan. Jika atasan saya anggap mampu membimbing saya, apapun bendera yang melekat di baju tidak begitu saya pedulikan, begitupun sebaliknya.

 

Tidak mudah memang menjadi seorang pimpinan. Satu hal yang saya harapkan, semoga saya tidak hanya menulis dan menilai tipe-tipe pimpinan yang saya kenal, melainkan bila suatu saat tugas itu diembankan pada saya, saya mampu menjadi pimpinan dengan cara layaknya saya dipimpin.

Semoga…..

Miris (2)…….

Beberapa hari lalu di bandara sepulangnya dari Balikpapan, saya dengan segera menuju antrian si ”burung biru”.
Entah malam itu dasar udah capek atau lg malas melihat antrian begitu banyak (saya sendiri no urut 7) dan waktu telah menunjukkan pukul 12 malam (gara2 si garuda delay 2,5 jam, parah…!!) mau saja saya balik dari bandara ke kos menggunakan armada kendaraan yang non taxi.

Seseorang datang dengan menawarkan naik avanza, harga sama dengan taxi argo, 150rb sampai di mampang. Melihat si sopir yang pendek dan sedikit gemuk sama sekali tidak membuat saya takut bila mana dia seorang kriminal.
Yang membuat sedikit khawatir adalah si sopir membawa seseorang yang dia akui sebagai adiknya dan duduk persis di kursi tengah.
Unprofessional….!!! Komentarku dalam hati. Masa angkut penumpang pakai acara ngikutin adik segala…!!

”Maaf bos, ini adik saya lagi libur kerja jadi ikut abangnya, pengen lihat kerja abangnya”, kata si sopir. Dengan sedikit was-was dalam perjalanan menuju ke kos kuperhatikan wajah orang di belakangku ini. Memang mirip dengan si sopir. Pelan tapi pasti kecurigaanku mulai hilang terutama ketika pembicaran mulai hangat dengan beberapa perbincangan singkat.

”Kerja di mana adiknya??”, Pertanyaan pertamaku ke pak sopir..
”Kerja di mana kamu meng??”, Tanya si sopir pada adiknya.
”Oh saya kerja di Perusahaan tekstil, bagian inspeksi air” jawab adik si sopir tersebut.

Mulailah perbincangan mengalir sehingga perjalanan menjadi tidak terasa jauh….
Saya : Pendidikan terakhir di mana??
Meng (adik si sopir, ga ngerti nama aslinya) : saya lulusan SMK bagian otomotif
Saya : Trus kerja di pabrik, 2-3 jt dapat ga sebulan??
Meng : Wah mana ada pak, itu level manager kali…., saya mah hanya UMR.
Kemarin masuk saja harus bayar 700rb ke orang dalam, padahal kontrak cuman 3 bulan. Yah mungkin klo bagus bisa diperpanjang.
Saya : Lo, kok mau bayar orang dalam dengan gaji segitu??
Meng : Yah mau bagaimana lagi pak, yang penting bisa kerja.

Sejujurnya dalam hati langsung kumaki,” f**k, s**t,….”. Entah berapa banyak makian yang kulontarkan. Kenapa bangsa ini melihat sesamanya susah masih harus dipersulit dengan meminta uang pelicin untuk masuk kerja. Bayangkan saja jika hanya standar UMR, berarti gaji dia hanya ±1 jt. Jika harus dikurangi 700 rb di bulan awal maka dia hanya terima gaji pertama bersih Rp. 300rb. S***t, mau makan apa dengan segitu di Jakarta, belum transport, dll (untungnya dia masih tinggal bersama dengan ortu). Belum kontrak dia hanya 3 bulan. Di tengah krisis global, kemungkinan PHK sangat besar mengingat permintaan akan barang tekstil menurun drastis.

Fiuuhh, entah berapa orang di negeri ini yang berteriak anti korupsi dan premanisme, tapi mereka sendiri seperti preman yang beroperasi di kantor, bukan di pasar maupun terminal. Tak perlu menggunakan pisau, ataupun pistol. Lebih gagah, bergaya eksekutif muda, tapi yah kelakuan pada intinya sama dengan preman.

Miris memang, tapi apa mau dikata, hampir di semua institusi, baik pemerintah (TNI, POLRI, PNS) maupun swasta kasus seperti ini kerap terjadi.
Oknum ataukah sudah menjadi culture?? Ga jelas, yang pasti ujung-ujungnya pihak yang dikenakan hal seperti ini ketika dia menjadi pimpinan akan melakukan hal yang sama, demi mengembalikan modal dalam arti singkatnya.

Yah, jadi culture deh……., Salam super..!!

Berat bener (2)

He….2….., akhirnya sesuai dgn komitmen, di awal maret ini berat badan turun juga dari 77 ke 72 (padahal targetnya 73), mantap…!!!

Kok bisa dus??

Cara termudah adalah rajin olahraga dan kurangi makan, that’s it…!! Next target 69 kg di awal april. Sejujurnya rencana awal 67 kg, mumpung saya beberapa hari ini makan terlalu banyak (kepiting kenari penyebabnya), jadilah agak pesimistis.

Tapi tetap sesuai moto, semangat…!!!

Older Posts »